Tabola Bale di WCCE 2026, Teuku Riefky Ingin Kreator Sejahtera

republika.co.id
1 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA — Lagu "Tabola Bale" berkumandang dari panggung World Conference on Creative Economy (WCCE) 2026. Para tamu mancanegara terlihat menggoyangkan badan mengikuti irama musik tersebut. Lagu yang dipopulerkan Silet Open Up bersama Jacson Zeran, Juan Reza, dan Diva Aurel ini membawa musik dari Indonesia Timur menembus batas geografis dan menjangkau pendengar yang sangat luas.

Namun, terdapat pertanyaan mendasar di balik semarak acara tersebut: seberapa besar nilai ekonomi yang akhirnya kembali kepada para kreator yang menciptakannya? Pertanyaan itu menjadi salah satu benang merah dalam perhelatan WCCE 2026 di Hotel Indonesia Kempinski, Jakarta.

Baca Juga
  • Ekonom UI Soroti Lemahnya Penegakan Hukum dan Dampaknya bagi Investor
  • BoP Dinilai tak Efektif, RI Diminta Buka Opsi Lain untuk Bela Palestina
  • IHSG Sepekan Rebound ke 5.439, Kapitalisasi Pasar Rp 9.583 Triliun

Pertanyaan tersebut menjadi salah satu benang merah dalam WCCE 2026 di Hotel Indonesia Kempinski, Jakarta. Selama tiga hari, dari Rabu hingga Jumat (21-23/10), konferensi ekonomi kreatif dunia tersebut mempertemukan pemerintah, pelaku industri, akademisi, dan delegasi dari berbagai negara.

Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya menegaskan bahwa pertumbuhan industri tidak boleh berhenti pada angka investasi, ekspor, atau jumlah tenaga kerja semata. Para kreator harus memperoleh manfaat yang lebih besar dari nilai yang mereka hasilkan.

.rec-desc {padding: 7px !important;}

"Pertumbuhan saja tidak cukup. Ambisi kita adalah agar para kreator dapat memperoleh nilai yang lebih besar dari apa yang mereka ciptakan dan membangun mata pencaharian yang berkelanjutan dari kreativitas mereka," ujar Teuku Riefky dalam penutupan WCCE, Jumat (23/10).

Pernyataan itu sangat relevan dengan perkembangan ekonomi kreatif Indonesia saat ini. Sepanjang 2025, sektor ini mencatatkan pertumbuhan 6,8 persen, menyerap 27,4 juta tenaga kerja, menarik investasi sebesar 11,3 miliar dolar AS atau sekitar Rp 204,46 triliun, serta menghasilkan ekspor senilai 31,9 miliar dolar AS atau sekitar Rp 577 triliun.

Angka tersebut menunjukkan besarnya peran ekonomi kreatif dalam perekonomian nasional. Tantangannya ke depan adalah bagaimana memastikan peluang dan nilai ekonomi tidak hanya terkonsentrasi pada pelaku usaha tertentu, tetapi juga menjangkau kreator, usaha kecil, talenta muda, dan berbagai daerah yang memiliki potensi kreatif.

Bagi Teuku Riefky, promosi karya saja tidak cukup untuk memajukan industri ini. Ekosistem kreatif memerlukan perlindungan kekayaan intelektual, akses pembiayaan, infrastruktur digital, pengembangan talenta, serta jalur yang menghubungkan karya dengan pasar. Tanpa itu, kreativitas berisiko berhenti sebagai potensi, sementara orang-orang di baliknya kesulitan membangun usaha dan penghidupan yang berkelanjutan.

Untuk memperkuat fondasi tersebut, Kementerian Ekonomi Kreatif meluncurkan tiga inisiatif strategis dalam rangkaian WCCE 2026, yakni Creative Economy Data Model (CEDM), Indonesia Creative Economy Outlook 2026-2027, serta Ekraf Academy sebagai platform pengembangan talenta ekonomi kreatif. Pemerintah berharap langkah ini dapat memberikan dampak jangka panjang bagi para pelaku industri.

CEDM dikembangkan bersama World Intellectual Property Organization (WIPO) untuk memetakan ekosistem ekonomi kreatif secara lebih menyeluruh. Model ini mencakup tiga dimensi yang saling berkaitan, yaitu Environment for Creativity, Resources for Creativity, dan Creative Value.

Dimensi pertama memetakan lingkungan yang memungkinkan kreativitas tumbuh, termasuk perlindungan kekayaan intelektual, tata kelola, dan kondisi sosial budaya. Dimensi kedua melihat sumber daya yang dibutuhkan, mulai dari talenta dan infrastruktur hingga pembiayaan serta akses pasar. Adapun dimensi ketiga mengukur nilai yang dihasilkan melalui penciptaan kekayaan intelektual, kontribusi sosial-ekonomi, dan creative soft power atau daya pengaruh yang lahir dari kekuatan budaya dan kreativitas.

"Melalui inisiatif kolaboratif ini, kita ingin memastikan bahwa pengetahuan dan data dapat diterjemahkan menjadi aksi nyata bagi pengembangan ekonomi kreatif Indonesia," tutur Teuku Riefky.

Sementara itu, Indonesia Creative Economy Outlook 2026-2027 memberikan gambaran strategis mengenai kinerja, peluang, potensi daerah, dan prioritas pengembangan ekonomi kreatif nasional. Publikasi ini mengangkat tema "Creative Economy Transformation: Digitalization, AI, and an Intellectual Property-Based Economy", dengan perhatian khusus pada transformasi digital, kecerdasan buatan (AI), dan penguatan ekonomi berbasis kekayaan intelektual.

Melalui Ekraf Academy, pemerintah menyiapkan platform pembelajaran secara luring, daring, dan hibrida dengan tiga pilar utama. Ketiga pilar tersebut meliputi creative leadership, creative talent, dan creative entrepreneurship.

Ketiganya diarahkan untuk memperkuat kepemimpinan ekosistem kreatif di daerah, meningkatkan kompetensi sumber daya manusia, serta membantu pelaku usaha mengembangkan bisnis dan menjangkau pasar global. Program ini dirancang untuk menjawab tantangan industri kreatif masa kini.

Di hari terakhir WCCE 2026, Kementerian Ekonomi Kreatif menandatangani kerja sama dengan 30 perguruan tinggi di Indonesia. Kolaborasi ini diharapkan memperkuat hubungan antara dunia pendidikan, penelitian, dan kebutuhan industri, sehingga pengetahuan yang lahir di kampus dapat dikembangkan menjadi inovasi dan produk yang mendatangkan cuan.

Di tingkat global, upaya memperkuat ekosistem tersebut menjadi salah satu pokok pembahasan yang melandasi lahirnya Jakarta Vision on Creative Economy. Dokumen hasil WCCE 2026 ini resmi disahkan dalam Pertemuan Tingkat Menteri WCCE 2026 yang dihadiri oleh negara-negara seperti Rusia, Ukraina, hingga Iran.

Teuku Riefky berharap dokumen tersebut dapat menjadi landasan untuk memperkuat posisi ekonomi kreatif dalam agenda pembangunan internasional. Pemerintah juga ingin mendorong lahirnya resolusi-resolusi mendatang di Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

"Kami berharap gagasan dan komitmen ini dapat membentuk resolusi-resolusi mendatang di Majelis Umum PBB, sehingga ekonomi kreatif memiliki suara yang lebih kuat dalam pembangunan global," ujarnya.

 

 

 

Loading...
.img-follow{width: 22px !important;margin-right: 5px;margin-top: 1px;margin-left: 7px;margin-bottom:4px}
Ikuti Whatsapp Channel Republika
.img-follow {width: 36px !important;margin-right: 5px;margin-top: -10px;margin-left: -18px;margin-bottom: 4px;float: left;} .wa-channel{background: #03e677;color: #FFF !important;height: 35px;display: block;width: 59%;padding-left: 5px;border-radius: 3px;margin: 0 auto;padding-top: 9px;font-weight: bold;font-size: 1.2em;} @font-face { font-family: "LPMQ"; src: url("https://static.republika.co.id/files/alquran/LPMQ-IsepMisbah.ttf") format("truetype"); font-weight: normal; font-style: normal } .arabic-text { font-family: "LPMQ"; font-weight: normal !important; direction: rtl; text-align: right; font-size: 2.5em !important; line-height: 49px !important; }

Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Kim Jong-un Kunjungi China Lewat Jembatan Baru Setelah 12 Tahun Tertunda, Hubungan Dua Negara Jadi Sorotan
• 6 jam lalu
0
thumb
4 Motor Dilaporkan Hilang di Surabaya dan Sidoarjo, Simak Daftar Nomor Polisinya
• 23 jam lalu
0
thumb
Susi Air Kembali Layani Penerbangan dari Nagan Raya ke Banda Aceh dan Medan Mulai 2 November 2026
• 19 jam lalu
0
thumb
Dua Tahun MBG: Hubungkan Pangan, UMKM, dan Gerakkan Ekonomi Lokal
• 10 jam lalu
0
thumb
Sosok Ojol Korban Dilindas BYD di Blok M: Perantau-Tulang Punggung Keluarga
• 14 jam lalu
0
Berhasil disimpan.