Ngeri! Panas Ekstrem di Eropa Menelan 50 Ribu Korban Jiwa, Angka Kematian Lampaui Rekor 2022

viva.co.id
12 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, VIVA – Gelombang panas ekstrem yang melanda Eropa pada musim panas 2026 diperkirakan menyebabkan 50.391 kematian. Sebanyak 32.619 di antaranya dikaitkan dengan cuaca panas akibat perubahan iklim yang dipicu aktivitas manusia, terutama pembakaran bahan bakar fosil.

Temuan dalam studi yang akan diterbitkan di jurnal Nature Health tersebut didasarkan pada pemodelan kematian terkait panas di 854 kota Eropa selama gelombang panas berulang pada Juni, Juli, dan Agustus.

Baca Juga :
Riset Ungkap Dampak Panas Perkotaan terhadap Kelompok Berpenghasilan Rendah
Demo Besar Guncang Prancis hingga Belgia, WNI Diingatkan Tak Ikut-ikutan Turun ke Jalan

Jumlah kematian itu 71 persen lebih tinggi dibandingkan rekor sebelumnya pada musim panas 2022, ketika tercatat 29.480 kematian. Namun, peneliti menyebut angka terbaru tersebut masih merupakan perkiraan minimum, karena tidak mencakup gelombang panas mematikan pada Mei dan hanya menghitung kota-kota yang menampung sekitar 40 persen populasi Eropa.

"Sekitar sepertiga dari seluruh kematian terjadi pada periode 17 Juni hingga 1 Juli, ketika suhu mencapai 5,3 derajat Celsius di atas normal," kata Garyfallos Konstantinoudis, ahli biostatistik Imperial College London sekaligus salah satu penulis studi, sebagaimana dikutip dari CBC, Minggu (25/10/2026). 

"Sebagian besar wilayah Eropa Barat dan Utara, infrastruktur kita memang tidak dirancang untuk menghadapi suhu seperti yang kita alami sekarang akibat dampak pemanasan yang disebabkan oleh manusia," kata penulis utama Clair Barnes, ilmuwan iklim di Imperial College London.

Dia mengatakan sejumlah kota di Eropa mengalami suhu hingga 12 derajat Celsius lebih tinggi dari kondisi normal. Eropa, saat ini sekitar 2,5 derajat Celsius lebih panas dibandingkan masa sebelum revolusi industri. Barnes mengatakan, pembakaran bahan bakar fosil memperburuk kondisi tersebut.

"Hanya pemanasan yang mendasari akibat aktivitas manusia, terutama pembakaran bahan bakar fosil, telah meningkatkan seluruh suhu kita dengan jumlah yang terdengar cukup kecil," kata Barnes.

"Bagi banyak orang, tambahan pemanasan dua setengah derajat Celsius itulah yang akan mendorong suhu dari sekadar tidak nyaman menjadi berbahaya dan berpotensi mematikan."

Italia, Prancis, Spanyol, dan Jerman mencatat jumlah kematian akibat panas tertinggi. Lebih dari separuh korban berusia 85 tahun atau lebih, tetapi suhu ekstrem juga menewaskan lebih dari 800 orang berusia 20 hingga 44 tahun.

Peneliti membandingkan simulasi komputer mengenai kondisi tanpa perubahan iklim dengan kematian yang terjadi pada musim panas ini. Selisihnya digunakan untuk memperkirakan dampak pemanasan global. 

Baca Juga :
El Nino 2026 Bisa Jadi yang Terkuat dalam Sejarah, WMO Soroti Lonjakan Suhu Laut Pasifik
Bukan Cuma di Pulau Jawa yang 'Panas Menyengat', Jepang Juga Alami Suhu Tak Biasa di Akhir Oktober
El Nino Diprediksi Picu 451.000 Kematian, Indonesia Jadi Salah Satu Negara Terdampak

Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Penyebab Kecelakaan Mobil Listrik Tabrak Pengemudi Ojol di Blok M Masih Didalami, Polisi: Pengakuan Sopir Kaget
• 16 jam lalu
0
thumb
Saat MSCI Ancam Downgrade Bursa RI, Dasco: Kita Tentukan Rating Sendiri
• 21 jam lalu
0
thumb
Emas UBS dan Galeri 24 di Pegadaian Kompak Turun Hari Ini, Cek Selengkapnya
• 18 jam lalu
0
thumb
Kunjungi Desa Tenganan, Seruni dan Dekranas Dukung Pelestarian Tenun Gringsing
• 12 jam lalu
0
thumb
Link Nonton Liverpool vs Brighton Malam Ini
• 12 jam lalu
0
Berhasil disimpan.