Rumah Cerebral Palsy (RCP) memperingati World Cerebral Palsy Day 2026 di Tangerang Selatan, Banten, Minggu (25/10). Kegiatan ini menjadi ruang bagi anak dengan cerebral palsy dan keluarganya untuk saling menguatkan sekaligus mendorong pemenuhan akses kesehatan, terapi, dan pendidikan inklusif.
Pendiri RCP, Iis R. Soelaeman, mengatakan organisasinya telah mendampingi keluarga anak dengan cerebral palsy selama 14 tahun. Menurut dia, jumlah keluarga yang bergabung kini mencapai lebih dari 1.000, meningkat dari awal pembentukan yang hanya diikuti 10 orang.
“Dulu hanya 10 orang, sekarang sudah lebih dari 1.000 keluarga yang bergabung di Rumah Cerebral Palsy,” kata Iis.
Iis mengatakan anggota RCP tersebar di Tangerang, Jakarta, Bekasi, dan Depok. Organisasi tersebut dibentuk untuk menjadi ruang bagi keluarga agar dapat berbagi pengalaman, belajar, dan saling memberikan dukungan dalam mendampingi anak.
Menurut Iis, orang tua menghadapi beragam tantangan ketika mendampingi anak dengan cerebral palsy, mulai dari kebutuhan perawatan kesehatan hingga kekhawatiran mengenai masa depan anak ketika orang tua tidak lagi dapat mendampingi mereka.
Ia menegaskan anak dengan cerebral palsy memiliki potensi, emosi, keinginan, dan hak untuk bahagia seperti anak lainnya. Karena itu, ia meminta masyarakat tidak memandang mereka hanya dari diagnosis atau keterbatasan fisik.
"Mohon dicatat ya Ibu-ibu ya dan hadirin semua, anak-anak ini tidak butuh dikasihani, tetapi mereka butuh kita percaya pada potensi mereka. Mereka butuh kita percaya pada kemampuan mereka, dan kita menghargai setiap jengkal kemajuan yang mereka miliki, sekecil apa pun,” tegasnya.
Iis juga meminta dukungan dari berbagai pihak untuk memenuhi kebutuhan anak dengan cerebral palsy. Dukungan tersebut mencakup layanan tenaga kesehatan dan terapis, akses terapi, pendidikan inklusif, fasilitas yang ramah bagi pengguna kursi roda dan alat bantu jalan, serta layanan sosial bagi anak dan keluarganya.
Ia secara khusus meminta dukungan pemerintah, terutama dari Kementerian Sosial, Kementerian Pendidikan, dan Kementerian Kesehatan, untuk membantu tumbuh kembang anak dengan cerebral palsy.
Dalam kesempatan yang sama, Penasihat Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kementerian Sosial, Fatma Saifullah Yusuf, mengatakan anak dengan cerebral palsy memiliki hak yang sama untuk belajar, bermain, bermimpi, dan menentukan masa depan.
"Cerebral Palsy adalah bagian dari perjalanan hidup mereka, bukan batas bagi potensi dan harapan. Potensi harus tetap dikembangkan, harapan dan cita-cita harus tetap dikobarkan agar seorang yang memiliki cerebral palsy menjadi seorang yang layak dibanggakan dan setara dalam karya nyata,” kata Fatma.
Fatma menilai dukungan terhadap anak dengan cerebral palsy tidak boleh berhenti pada kepedulian sesaat. Menurut dia, pemerintah, komunitas, tenaga profesional, keluarga, dunia usaha, dan media perlu bekerja sama untuk memastikan anak mendapatkan kesempatan berkembang dan berpartisipasi di tengah masyarakat.
Fatma juga mengatakan pertemuan anak dan orang tua dalam kegiatan tersebut dapat menjadi kesempatan untuk saling menguatkan. Ia juga menilai anak perlu mendapatkan ruang untuk menunjukkan kemampuan mereka.
"Memang berbeda, tetapi ternyata mereka memiliki potensi, dan saya tentu mendukung sekali kegiatan semacam ini. Sederhana, tapi penting buat anak-anak kita ke depan,” jelas dia.
Sementara itu, Ketua Dewan Nasional Indonesia untuk Kesejahteraan Sosial (DNIKS), Dya Loretta, menyebut organisasinya telah menjalin kemitraan dengan lebih dari 40 organisasi penyandang disabilitas.
Dya mengatakan DNIKS juga menjalankan gerakan Gerak Inklusi yang mencakup sejumlah bidang, termasuk kesehatan, pengembangan ekonomi melalui usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta wisata inklusif.
Menurut dia, upaya membangun inklusi perlu memberi ruang bagi penyandang disabilitas untuk berpartisipasi dalam berbagai kegiatan dan mengakses fasilitas yang sesuai dengan kebutuhan mereka.
"Bukan hanya sekadar menyiapkan panggung atau menonjolkan talentanya, tetapi kami juga mendorong kesehatan di sektor perekonomian UMKM untuk penyandang disabilitas, serta wisata inklusif," ujar Dya.
"Jadi adik-adik, orang tua dengan penyandang disabilitas, kita bisa travelling ke mana-mana, kita bisa jalan-jalan ke mal dengan nyaman. Dan dengan tentunya akomodasi layak buat adik-adik dan tua dengan penyandang disabilitas," lanjutnya.
Peringatan World Cerebral Palsy Day 2026 tahun ini mengusung tema Unique and United. Melalui kegiatan tersebut, RCP mengajak masyarakat menghargai perbedaan, menghapus stigma, dan memperluas kesempatan bagi anak dengan cerebral palsy untuk berkembang.






Komentar (0)