BANDAR LAMPUNG, KOMPAS – Kebakaran hutan di Taman Nasional Way Kambas, Kabupaten Lampung Timur, Lampung, yang berlangsung sejak tiga bulan terakhir hingga kini belum padam. Api masih menyala di beberapa titik. Warga yang bermukim di sekitar wilayah perbatasan hutan taman nasional pun mengeluhkan dampak asap kebakaran yang menganggu aktivitas warga.
Edi Alamsyah, warga Kampung Cabang, Kecamatan Bandar Surabaya, Kabupaten Lampung Tengah, mengatakan, kebakaran hutan dan lahan atau karhutla yang terjadi di Taman Nasional Way Kambas (TNWK) membuat kawasan permukiman penduduk terdampak asap. Selain menganggu pandangan mata dan pernapasan, kabut asap juga menganggu aktivitas nelayan yang mencari ikan di sungai.
“Asapnya bikin dada sesak. Kami juga enggak bisa mencari ikan di sungai karena jarak pandang terbatas. Nelayan di sini biasanya mencari ikan di sungai saat malam hari. Sekarang jarak pandang senter hanya sekitar 20 meter karena tertutup asap,” ujar Edi kepada Kompas, Minggu (25/10/2026).
Edi mengungkapkan, rumahnya hanya berjarak sekitar 100 meter dari kawasan TNWK. Perkampungan dengan kawasan hutan hanya dibatasi sungai Way Begadungan.
Selain berdampak pada mata pencaharian nelayan, asap karhutla juga sempat mengganggu aktivitas belajar siswa. Beberapa waktu lalu, para siswa di sejumlah sekolah di Lampung Tengah terpaksa dialihkan menjadi belajar daring.
Menurut Edi, kebakaran yang terjadi di Resor Cabang TNWK sudah terjadi selama tiga bulan terakhir. Upaya pemadaman sebenarnya sudah dilakukan oleh tim gabungan melalui satuan tugas darat dan udara. Namun, api dan asap tebal biasanya muncul kembali dari kawasan lahan gambut yang terbakar pada sore hingga malam hari.
Selain di Resor Cabang, kebakaran hutan juga masih terjadi di sejumlah titik. Berdasarkan video yang beredar, kebakaran juga terjadi di Resor Susukan Baru TNWK. Api terlihat membakar kawasan semak belukar yang mengering. Bahkan, kebakaran terjadi di dekat pagar yang dibangun di perbatasan hutan dengan kebun masyarakat.
Merujuk data dari TNWK, sepanjang Januari hingga awal Oktober 2026, terjadi setidaknya terjadi 21 kejadian kebakaran di dalam kawasan hutan TNWK. Luas kebakaran hutan mencapai 7.000 hektar, yang didominasi oleh vegetasi semak belukar dengan karakteristik tanah gambut.
Sementara itu, berdasarkan data pemantauan titik panas Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Lampung secara real time, pada Minggu (25/10/2026) pukul 14.00 WIB terdeteksi 43 titik panas dengan tingkat kepercayaan sedang dan rendah. Dari jumlah itu, Lampung Timur menjadi wilayah dengan titik panas terbanyak dengan jumlah 23 titik.
Operasi modifikasi cuaca
Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal bersama Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Kristomei Sianturi yang juga menjabat sebagai Pangdam XXI/Radin Inten turut meninjau kebakaran hutan di kawasan TNWK, pada Sabtu (24/10/2026). Pemerintah juga menyalurkan dukungan logistik untuk upaya pemadaman, mulai dari helikopter untuk water bombing serta peralatan pemadam kebakaran hingga makanan.
Menurut Mirza, lahan gambut dan kecepatan angin menyulitkan upaya pemadaman api. Sumber air yang jauh juga menghambat pergerakan tim di lapangan.
Sementara itu, Kristomei mengatakan, penanganan karhutla terus diperkuat dengan menggelar operasi modifikasi cuaca (OMC) menggunakan pesawat Cessna Caravan. Tim melakukan dua sorti menerbangan untuk penyemaian garam, khususnya di sekitar di wilayah TNWK dan Lampung Barat.
Saat ini, sebanyak 360 personel gabungan dtelah ikerahkan dalam penanganan karhutla ini. Diperkirakan, masih ada sekitar 68 hektar area hutan TNWK yang masih terbakar.
Kristomei menekankan, petugas di lapangan masih berjibaku memadamkan api. Karena itu, dia meminta masyarakat tidak membuka lahan dengan cara membakar. “Ada saudara-saudara kita yang sedang berjuang memadamkan api. Karena itu, jangan sampai di sisi lain masih ada yang membakar hutan dan lahan. Dampaknya dirasakan bersama oleh masyarakat,” ujarnya.






Komentar (0)