Jakarta, tvOnenews.com - Mobil listrik BYD ternyata tidak lagi diizinkan memasuki Pangkalan Udara Kadena milik militer Amerika Serikat (AS) di Okinawa, Jepang. Larangan ini tentu bukan tanpa alasan, melainkan diduga karena faktor keamanan.
Melansir dari Reuters, larangan untuk masuk ke pangkalan militer AS tersebut berlaku untuk seluruh kendaraan BYD tanpa terkecuali, termasuk mobil pribadi, taksi, kendaraan pengiriman, dan kendaraan milik kontraktor.
Laporan tersebut menyebutkan bahwa petugas keamanan di pintu masuk pangkalan militer AS akan menolak kendaraan yang masuk dalam kategori tersebut. Petugas juga akan langsung mengarahka untuk meninggalkan area pangkalan.
Letnan Kolonel Alli Stormer, juru bicara Pangkalan Udara Kadena, mengatakan kendaraan BYD menghadirkan risiko yang tidak dapat diterima maupun dimitigasi terhadap personel dan misi militer.
Meski demikian, pihak pangkalan tidak mengungkapkan secara terperinci alasan teknis di balik keputusan tersebut.
Kekhawatiran keamanan diduga berkaitan dengan kamera, sensor, dan sistem konektivitas yang terpasang pada mobil modern. Teknologi tersebut berpotensi mengumpulkan informasi mengenai lingkungan sekitar, sehingga dikhawatirkan dapat merekam objek atau aktivitas sensitif di dalam instalasi militer.
Keputusan ini juga muncul setelah Pentagon memasukkan BYD ke dalam daftar perusahaan yang dinilai mendukung militer China pada Juni 2026, bersama perusahaan teknologi Alibaba, Baidu, dan produsen mobil NIO.
BYD juga dikabarkan menolak penetapan tersebut dan menyatakan akan menempuh jalur administratif serta hukum untuk melindungi kepentingannya.
Sejatinya kasus ini bukan pertama kalinya kendaraan modern menjadi perhatian terkait keamanan nasional.
Contohnya pada 2021, China membatasi akses mobil Tesla ke sejumlah kompleks pemerintahan karena kekhawatiran terhadap kamera kendaraan, sebelum pembatasan tersebut dicabut pada 2024 setelah Tesla memperoleh dukungan dari asosiasi industri otomotif China.
(ant/nad)





Komentar (0)