Wamendagri Bima Arya Tekankan Penguatan Kapasitas Kepemimpinan dalam Pelaksanaan Otonomi Daerah

disway.id
3 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, DISWAY.ID - Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Bima Arya Sugiarto menekankan pentingnya penguatan kapasitas kepemimpinan di tingkat daerah dalam pelaksanaan otonomi daerah.

Menurutnya, desentralisasi tidak cukup dimaknai sebagai pembagian kewenangan dari pemerintah pusat kepada pemerintah daerah, tetapi juga perlu diiringi upaya sistematis untuk melahirkan pemimpin yang mampu menjalankan kewenangan tersebut secara efektif.

Hal itu disampaikan Bima pada acara Peluncuran dan Diskusi Buku Keruntuhan Demokrasi Konstitusional di Indonesia di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, Sabtu (24/10/2026).

Dalam kesempatan tersebut, Bima turut mengulas pemikirannya mengenai dinamika kepemimpinan politik di Indonesia, yang antara lain dipengaruhi oleh pengalaman akademiknya saat menempuh studi di Monash University, Australia.

Di sana, ia berinteraksi dengan Herb Feith, akademisi yang pemikirannya menjadi salah satu rujukan dalam kajian politik Indonesia.

BACA JUGA:Wamendagri Wiyagus Dorong Demak Jadi Model Penanganan TBC

Pemikiran Feith kemudian turut memengaruhi penelitian Bima saat menempuh pendidikan doktoral. Kerangka analisis Feith membantunya memahami dinamika kepemimpinan dan perubahan karakter elite di dalam partai politik.

Dari penelitian tersebut, Bima melihat perubahan karakter kepemimpinan partai, dari dominasi tokoh yang mengandalkan mobilisasi massa menuju figur dengan kemampuan administratif dan manajerial.

Menurutnya, partai politik membutuhkan kemampuan memobilisasi dukungan untuk membangun konsolidasi, tetapi juga memerlukan kapasitas tata kelola agar mampu beradaptasi dengan sistem pemerintahan.

"Sebetulnya dulu Herb juga tidak terlalu membuat demarkasi tegas bahwa yang namanya solidarity maker itu tetap begitu, yang namanya administrator tetap begitu. Mereka kadang-kadang bisa ada irisannya," ungkapnya.

Ia menjelaskan, kedua karakter tersebut dapat berkembang dalam diri seorang pemimpin.

Seorang tokoh yang awalnya mengandalkan kemampuan mobilisasi massa dapat mengembangkan kapasitas administratif, begitu pula sebaliknya. Perubahan ini menunjukkan bahwa kepemimpinan politik dituntut untuk mampu menjawab kebutuhan organisasi sekaligus tantangan tata kelola pemerintahan.

BACA JUGA:Wamendagri Bima Arya Dorong Daerah Perluas Basis Pajak Tanpa Bebani Masyarakat

"Punya kemampuan administratif, manajerial yang andal, dan beradaptasi dengan berbagai macam tuntutan. Hampir semua pemimpin-pemimpin partai seperti itu," tambahnya.

Bima menilai, pembahasan mengenai dinamika politik dan kepemimpinan tidak dapat berhenti pada tingkat nasional. Dalam konteks otonomi daerah dan desentralisasi, kapasitas kepemimpinan di tingkat lokal juga menjadi faktor penting dalam menentukan efektivitas penyelenggaraan pemerintahan.

  • 1
  • 2
  • »

Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
RI Resmi Pangkas Ekspor Gas, Ini Reaksi Singapura
• 7 jam lalu
0
thumb
Populer Ekonomi: Harga Emas Antam Syarat dan Cara Cek BSU Rp900 Ribu
• 6 jam lalu
0
thumb
Slamet Trail Run 2026 Jadi Upaya Pulihkan Wisata Guci Tegal
• 18 jam lalu
0
thumb
Kemenhub Fasilitasi Penyerahan Santunan Rp2,46 Miliar kepada Ahli Waris Dua Pelaut
• 7 jam lalu
0
thumb
Mendagri Prancis Peringatkan Potensi Kerusuhan dalam Demo Lanjutan di Paris
• 21 jam lalu
0
Berhasil disimpan.