Apa yang bisa Anda pelajari dari artikel berikut?
1. Mengapa Pemprov Jakarta kerap menggelar bursa kerja?
2. Seberapa besar bursa kerja dapat membantu para pencari kerja?
3. Seperti apa perjuangan para pencari kerja di tengah situasi ekonomi saat ini?
4. Bagaimana kondisi anak muda menghadapi sempitnya lapangan pekerjaan?
5. Mengapa banyak pencari kerja terbentur usia saat melamar?
Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jakarta kembali mengadakan bursa kerja untuk memperluas akses masyarakat dalam memperoleh kesempatan kerja. Bursa kerja bertajuk Karir Jakarta dan Tenaga Kerja Mandiri (TKM) Expo 2026 yang digelar di Gedung SMESCO, Jakarta Selatan, pada 22-23 Oktober tersebut membuka akses terhadap 12.000 lowongan pekerjaan.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menegaskan, kesempatan kerja tersebut terbuka bagi seluruh pencari kerja, termasuk warga dari luar Jakarta dan penyandang disabilitas. “Jakarta selalu membuka diri bagi siapa pun untuk mencari kerja, kami tidak pernah membatasi apakah itu KTP Jakarta atau bukan KTP Jakarta. Jakarta adalah kota yang harus memperlakukan yang sama bagi semuanya, termasuk untuk disabilitas,” ujar Gubernur Pramono, melalui siaran pers, Kamis (22/10/2026).
Bertema “Jakarta Bekerja: Optimis Membuka Akses, Membangun Karir,” bursa kerja ini menghadirkan 105 stan perusahaan dari berbagai sektor, antara lain perbankan, otomotif, kuliner, dan teknologi informasi. Hingga pembukaan acara, lebih dari 28.000 pencari kerja telah mendaftar secara daring.
Petugas Seksi Informasi Pasar Kerja Dinas Tenaga Kerja Provinsi Jakarta, Vionita Devia Eka Apriliani, mengatakan, masih ada kesempatan bagi pencari kerja untuk mencoba peruntungan di acara tersebut. Pelaksanaan secara daring berlangsung sejak 8 Oktober hingga 29 Oktober 2026.
Menurut Vionita, sebanyak 76 perusahaan mengikuti acara secara luring. Secara keseluruhan, ada 100 perusahaan yang berpartisipasi, baik secara daring maupun luring. Sebagian besar perusahaan bergerak di sektor perdagangan, konstruksi, dan industri pengolahan.
Hingga Oktober 2026, Pemprov Jakarta telah menggelar 11 bursa kerja. Menurut Pramono, perluasan kesempatan kerja perlu ditopang peningkatan kompetensi. Untuk itu, Pemprov Jakarta juga menyiapkan pelatihan bahasa asing gratis bagi masyarakat yang ingin bekerja ke luar negeri, antara lain ke Jepang, Taiwan, Hongkong, dan Jerman.
Bursa kerja yang diadakan pemerintah memberi secercah asa bagi para pencari kerja. Tak heran, jika kegiatan bursa kerja tersebut selalu dipadati para pencari kerja yang memiliki harapan untuk segera memperoleh pekerjaan.
Salah satu yang memiliki harapan untuk segera mendapatkan pekerjaan adalah Dimas Abadi (28) saat mendatangi Jakarta Timur Career Fest & Bazaar, Rabu (7/10/2026). Bursa kerja itu bukan yang pertama didatanginya. Belum lama ini, ia juga mengikuti acara serupa di JIExpo Kemayoran.
Dimas terus mencoba dengan harapan salah satu lamarannya membuka jalan menuju pekerjaan dengan penghasilan yang lebih pasti. ”Saya datang dengan penuh harapan semoga bisa cepat-cepat dapat kerja lagi. Semoga pemerintah sering-sering mengadakan acara seperti ini,” ujarnya saat ditemui Kompas.
Harapan Dimas agar bursa kerja terus diadakan sejalan dengan tujuan penyelenggara untuk memperluas akses informasi lowongan. Suku Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi, dan Energi Jakarta Timur menyebut, keterbatasan akses terhadap pekerjaan formal sebagai salah satu tantangan yang melatarbelakangi kegiatan tersebut.
Direktur Eksekutif Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Yose Rizal Damuri menilai, kesulitan memperoleh pekerjaan perlu dilihat dari dua sisi, yakni kemampuan pencari kerja dan ketersediaan lapangan kerja. Pendidikan serta pengalaman menjadi bekal penting, tetapi peluang seseorang diterima juga bergantung pada kebutuhan perusahaan.
Menurut Yose, pendidikan memberikan sinyal kepada perusahaan mengenai kemampuan calon pekerja. Pengalaman kerja memperkuat sinyal tersebut karena menunjukkan keterampilan yang telah digunakan di dunia kerja. Namun, keduanya belum tentu sesuai dengan keahlian spesifik yang sedang dibutuhkan perusahaan.
Fenomena lulusan sarjana yang menjadi pengangguran bukan hanya permasalahan segelintir orang, melainkan jutaan anak muda di Indonesia. Salah satunya adalah Alifah Shafa Annisa (26), yang sudah dua tahun terakhir berjuang mencari pekerjaan pertamanya sejak lulus dari bangku kuliah pada 2024. Mahasiswa sarjana psikologi salah satu kampus swasta di Jawa Tengah itu sudah mengirim sedikitnya 1.000 lamaran ke berbagai perusahaan yang ia incar.
Beragam alasan penolakan telah ia terima. Sering kali, perekrut menilai riwayat pengalaman kerjanya belum sesuai dengan kualifikasi posisi yang dilamar. Terlebih, sejumlah perusahaan kerap menetapkan batasan usia dan lebih memprioritaskan pelamar lulusan baru (fresh graduate) minimal terhitung satu tahun setelah kelulusan.
”Untuk posisi entry-level, kebanyakan perusahaan mencari yang sudah memiliki 1-2 tahun pengalaman. Sisanya lebih mengutamakan fresh graduate. Saat mencoba melamar, ujung-ujungnya tidak lolos screening,” ucapnya, Rabu (7/10/2026).
Pengalaman serupa turut dirasakan Ahmad (22), bukan nama sebenarnya, warga Jakarta Timur. Saat ditemui, tamatan S-1 Biologi Universitas Indonesia ini sedang tekun mengumpulkan brosur lowongan kerja di tengah riuhnya Jakarta Job Fair di Gedung Atrium Gelanggang Olahraga (GOR) Pulogadung, Jakarta Timur, Rabu (7/10/2026).
Ini sudah bulan ketiga Ahmad mencari-cari pekerjaan sejak ia menerima ijazahnya. Ahmad merasakan bahwa persyaratan yang diminta untuk fresh graduate terasa lebih sulit. Perusahaan kerap mengharuskan kandidat mempunyai pengalaman relevan dengan posisi yang dilamar.
Praktisi human resources (HR) Tiket.com, Dudi Arisandi, berpendapat bahwa kesempatan bagi fresh graduate perguruan tinggi untuk diterima bekerja masih terbuka. Namun, kompetisi antarkandidat memang semakin ketat. Pada sejumlah fungsi, perusahaan lebih selektif dalam merekrut karena tuntutan produktivitas, efisiensi, dan kecepatan bisnis.
Anak-anak muda pencari kerja di Indonesia menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk mengirimkan lamaran setiap harinya. Panjangnya masa penantian itu tak hanya berdampak ke ketahanan ekonomi, tetapi juga menggerus kesehatan mental mereka.
Situasi pelik ini dialami Muhammad Farhan Ramadhan (27). Sudah tiga bulan lamanya ia menganggur. Sejak Juli 2026, sarjana teknik infomatika ini sudah memasukkan puluhan lamaran ke berbagai perusahaan. Semuanya dikirim lewat aplikasi atau laman mencari kerja. Beberapa perusahaan memberi kabar, tetapi ia selalu gagal di tahap wawancara.
Saat mengunjungi Karir Jakarta dan Tenaga Kerja Mandiri Expo 2025 di Gedung SMESCO, Jakarta, Jumat (23/10/2026), Farhan menceritakan dampak psikologis yang dialaminya. Hampir setiap malam ia kesulitan tidur. Ketidakpastian masa depan menghantui pikirannya. ”Efek ke fisik juga ada. Kelihatan stres dan capek terus,” kata Farhan.
Selain Farhan, ada pula Sofie Mutiah (22) dan Aurellia Aishabillah (22). Berbeda dari dia, mereka baru saja lulus dari jurusan Kesehatan Masyarakat, sebulan lalu. Kendati begitu, keduanya telah mulai melamar kerja di bidang keselamatan dan kesehatan kerja (K3) sebelum wisuda. Lamaran yang mereka ajukan mencapai puluhan. Dari puluhan lamaran yang diajukan, tidak ada satu pun perusahaan yang memberi kabar.
Alhasil, Sofie dan Aurellia pun terus melamar ke perusahaan lain. Kegiatan ini hampir menjadi rutinitas harian bagi mereka. Berulang kali mengisi formulir lamaran membuat kepala mereka pusing. ”Proses mengisi lamaran itu melelahkan karena kualifikasinya banyak. Jadinya, aku burnout (kewalahan),” ujar Aurellia.
Melihat fenomena tersebut, psikolog klinis dari Lembaga Psikolog Terapan Universitas Indonesai, Rini Hapsari, menjelaskan, secara psikologis kesulitan mencari kerja memang menimbulkan respons yang tidak menyenangkan. Apalagi, di tengah kondisi ekonomi dan iklim pasar tenaga kerja yang sulit, kemungkinan gagal menjadi jauh lebih banyak.
Kesulitan mencari kerja tak hanya dirasakan anak muda, tetapi juga angkatan kerja berusia lebih tua. Di usia lebih dari 40 tahun, mereka harus kembali mengirimkan berlembar-lembar surat lamaran kerja demi menyambung hidup setelah terkena pemutusan hubungan kerja (PHK).
Kondisi ini dirasakan Samuel Arthur (45) saat menghadiri Karir Jakarta Tenaga Kerja Mandiri Expo 2026 di Gedung Smesco Indonesia, Jakarta Selatan, Jumat (23/10/2026). Di usianya yang tak lagi muda, Samuel harus kembali mengarungi fase panjang pencarian kerja. Perjalanan kariernya di dunia perbankan terhenti pada akhir 2023 akibat terkena PHK. Kini, hampir tiga tahun sudah ia kembali mengirimkan surat lamaran kerja ke berbagai perusahaan.
”Saya cari kerja yang pas dengan pengalaman dan skill saya. Tapi paling penting juga yang sesuai umur,” ujarnya saat ditemui, Jumat.
Bagi pria asal Ceger, Jakarta Timur, ini, mencari kerja di usia 45 tahun bukan perkara mudah. Banyak lowongan kerja yang menetapkan batas usia, mulai dari 35 tahun bahkan 25 tahun. Pengalaman bertahun-tahun dan rekam jejaknya di industri keuangan seolah melebur begitu saja ketika berhadapan dengan persyaratan usia.
Tak hanya Samuel, Ananto (43) juga merasakan kesulitan serupa. Di bursa kerja tersebut, harapan Ananto untuk kembali memiliki pekerjaan tetap juga berbenturan dengan kenyataan di lapangan. Tak banyak perusahaan yang membuka lowongan di bidang pengadaan untuk pencari kerja yang sudah berusia kepala empat.
Peneliti Departemen Ekonomi Centre for Strategic and International Studies (CSIS), Deni Friawan, menilai, fenomena yang dialami Ananto dan Samuel mencerminkan kerentanan ganda yang dihadapi pekerja usia paruh baya saat ini.
Pelemahan daya beli domestik, tekanan persaingan industri, hingga perkembangan teknologi mendorong perusahaan melakukan efisiensi dan mengadopsi teknologi. Efisiensi tersebut kerap berdampak pada pekerja senior yang memiliki standar upah lebih tinggi.






Komentar (0)