REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON—Kunjungan mendadak Menteri Perang Amerika Serikat (AS) Pete Hegseth ke Israel kembali menempatkan kemungkinan pecahnya perang baru dengan Iran sebagai topik utama perdebatan di Israel.
Kunjungan itu berlangsung sepekan sebelum pemilihan umum Knesset (parlemen Israel) yang dijadwalkan pada 27 Oktober 2026, di tengah persiapan militer AS dan peringatan Israel mengenai kemungkinan serangan mendadak Iran.
Baca Juga
Islam adalah Agama Kasih Sayang, tetapi Apa yang Justru Terjadi Saat Ini?
9 Alasan Mengapa Muslim tak Boleh Membiarkan Kemaksiatan Terjadi di Sekitarnya
Penyakit Hati yang Sangat Berbahaya dan Dilarang Islam, Bagaimana Mengatasinya?
Menurut Aljazeera, dikutip Ahad (25/10/2026), kunjungan tersebut memunculkan beragam penafsiran di media Israel.
Sebagian menilai pertemuan itu sebagai persiapan untuk melancarkan serangan gabungan AS-Israel terhadap Iran.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Sementara itu, pihak lain melihatnya sebagai upaya Washington mencegah Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengambil keputusan militer secara sepihak.
Pada saat yang sama, kalkulasi perang juga bersinggungan dengan pemilu Israel dan pemilihan paruh waktu Kongres AS.
Koresponden politik Barak Ravid mengungkapkan melalui Channel 12 Israel pada 19 Oktober bahwa Hegseth tiba di Israel dalam kunjungan yang tidak diumumkan sebelumnya.
Ia bertemu Netanyahu di Pangkalan Udara Ovda, wilayah Negev, yang menjadi lokasi penempatan pasukan dan pesawat AS, termasuk pesawat pengisi bahan bakar di udara.
Dalam pertemuan tersebut turut hadir Menteri Pertahanan Israel Israel Katz, Kepala Dewan Keamanan Nasional Shmuel Ben Ezra, dan sekretaris militer Netanyahu, Guy Markiziano. Namun, Kepala Staf Militer Israel Letnan Jenderal Eyal Zamir dan Kepala Mossad Roman Gofman tidak hadir.
Komentar (0)