Ye Hipnotis GBK Senayan Lewat Runaway dan Dome Stage yang Spektakuler

kumparan.com
6 jam lalu
Cover Berita

Rapper asal Amerika Serikat, Ye, membuat Stadion Utama GBK (Gelora Bung Karno), Senayan, berubah menjadi lanskap sinematik yang surealis, pada Sabtu (24/10).

Sebuah instalasi kubah raksasa (dome stage) berdiri di tengah arena. Dome Stage itu menjadi pijakan Ye sepanjang Live In Jakarta dan membuat semua penonton terpukau sejak memasuki area konser pukul 18.00 WIB.

Pukul 21.00 WIB, lampu dipadamkan. Ye muncul di titik tertinggi kubah tersebut. Cahaya biru memancar pekat, ada visual bumi yang berputar pelan dengan latar langit gelap.

Konser dibuka dengan dentuman tegas lagu King. Berdiri sendirian di puncak Dome Stage, Ye tampak seperti siluet yang mengendalikan seluruh energi stadion.

Kubah tersebut terlihat sebagai kanvas visual 360 derajat yang dinamis. Dari proyeksi bumi yang berotasi, visual bertransisi menjadi permukaan bulan, hingga berganti wujud menjadi bulatan merah membara ketika lagu CARNIVAL dibawakan.

Eksplorasi audio langsung dihantamkan tanpa jeda. Ye memainkan distorsi elektronik kasar lewat On Sight, disusul hentakan drum megah dari Power. Penonton yang memadati area festival serempak merapalkan bait-bait anthemik dari Can’t Tell Me Nothing, menciptakan paduan suara raksasa.

Dinamika emosi penonton terus dimainkan. Ketukan dari Say You Will dihadirkan dengan visualisasi lampu statis yang muram, sebelum akhirnya energi stadion kembali meledak saat intro vokal legendaris dalam Father Stretch My Hands, Pt. 1 hadir.

Bawakan Total hingga 32 Lagu

Selama hampir dua jam, Ye membawakan total 32 lagu dalam konser di Jakarta. Deretan lagu tersebut antara lain Bound 2, Heartless, Jesus Walks, dan Ghost Town.

Ye menutup konser dengan Runaway, lagu paling ikonik yang dirilisnya pada 2010.

Suara denting berulang berjarak beberapa detik itu langsung dikenali seisi stadion. Memegang mikrofon dan synthesizer, Ye berhasil melarutkan penonton ke dalam lagu yang bicara soal kerentanan, ego, dan penyesalan.

Meski visual dan lagunya sangat menggetarkan, Ye sangat minim interaksi dengan penonton. Sepanjang konser, Ye hampir lupa bahwa ada fans yang menyaksikannya, bahkan tak ada sekadar menyapa para penggemar yang memadati SUGBK.

Seperti di negara lain, hal ini mungkin dilakukan Ye agar fans fokus mencerna setiap pesan, kemegahan, dan kualitas yang disajikan Ye dalam penampilannya.

Debut Raw Vision Collective yang Patut Diapresiasi

Debut promotor Raw Vision Collective lewat Ye Live in Jakarta sangat patut diapresiasi. Crowd management berjalan rapi tanpa penumpukan sejak gerbang pemeriksaan.

Eksekusi teknis, dari tata suara, visual kubah, hingga pencahayaan, pun menyala tanpa cela. Keputusan berkoordinasi menambah jam operasional MRT kian menyempurnakan pengalaman pulang puluhan ribu penonton.

Keberhasilan mengeksekusi konser berskala masif ini membuktikan kapasitas Raw Vision Collective. Bersama tim show director Ye, mereka sukses menerjemahkan ambisi artistik Ye menjadi tontonan megah yang spektakuler di panggung sebesar GBK.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Diributkan Setelah Dua Tahun jadi Wapres, PSI Setuju Klaim Jokowi Bahwa Polemik Ijazah Gibran Hanya Permainan Politik
• 6 jam lalu
0
thumb
Belajar dari Kolombia: Mengawal Komitmen Negara untuk Pembebasan Palestina
• 23 jam lalu
0
thumb
Siswi Sekolah Rakyat Tampil Memukau di Festival Gandrung Sewu 2026
• 3 jam lalu
0
thumb
Hari Santri Nasional 2026, DPR: Jadi Momentum Penguatan Pesantren melalui Ditjen Pesantren Kemenag
• 20 jam lalu
0
thumb
Viral Aksi Pelari Nekat Terobos Pembatas Demi Medali, Dimas Seto Beri Sentilan Menohok: Lari Itu Lawan Diri Sendiri
• 1 jam lalu
0
Berhasil disimpan.