Jakarta, VIVA – Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi Bahlil Lahadalia menargetkan penerimaan negara bukan pajak (PNBP) sektor energi dan sumber daya mineral (ESDM) mencapai Rp165 triliun pada 2026.
Target besar ini akan dikejar melalui penguatan penerimaan negara, hilirisasi, dan optimalisasi sektor energi.
"Saya menargetkan PNBP kita, dari target Rp137 triliun, harus bisa mencapai Rp165 triliun," ujar Bahlil dikutip Minggu (25/10/2026).
Target tersebut melampaui sasaran PNBP dalam APBN 2026 sebesar Rp136,18 triliun.
Hingga September 2026, realisasi PNBP sektor ESDM tercatat Rp127,71 triliun atau 93,78 persen dari target APBN.
Dengan demikian, pemerintah masih memiliki waktu tiga bulan untuk mengejar target hingga akhir tahun.
Sebagai perbandingan, PNBP Kementerian ESDM pada 2025 mencapai Rp138,4 triliun. Angka tersebut setara dengan 108,56 persen dari target yang ditetapkan sebesar Rp127,49 triliun.
Bahlil yang juga Menteri ESDM menilai penerimaan negara tetap terjaga meskipun pemerintah mengatur produksi batu bara pada level lebih rendah.
Produksi batu bara pada 2026 direncanakan di bawah realisasi 2025 yang mencapai lebih dari 800 juta ton.
Di tengah pengaturan produksi tersebut, PNBP sumber daya alam dari batu bara telah mencapai 92,02 persen dari target APBN hingga September 2026.
Selain batu bara, sektor hulu minyak dan gas bumi (migas) turut menopang penerimaan negara.
Pada 2025, lifting minyak tercatat sekitar 605,9 ribu barel per hari atau melampaui target yang ditetapkan pemerintah.
Capaian tersebut menjadi yang pertama dalam sepuluh tahun terakhir sekaligus membalikkan tren penurunan produksi minyak yang berlangsung selama satu dekade.
Pemerintah juga mengandalkan hilirisasi untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya mineral di dalam negeri. Di sektor hilir, lima dari total 14 fasilitas pengolahan dan pemurnian atau smelter terintegrasi telah rampung dibangun dengan nilai investasi mencapai 7,8 miliar dolar AS.
Langkah berikutnya adalah mendorong pengembangan industri prekursor, katoda, hingga baterai.
Upaya ini ditujukan agar pengolahan sumber daya mineral menghasilkan nilai tambah yang lebih besar di dalam negeri.
Bahlil juga mendorong pemanfaatan nikel Indonesia sebagai bagian penting dari rantai pasok industri hijau global melalui pembangunan fasilitas industri di dalam negeri.






Komentar (0)