”How much is this?” tanya seorang pria kulit putih asal Prancis sembari menunjuk sebilah pisau kerambit, senjata khas Minangkabau, yang dipajang di etalase depan toko tersebut.
Dani Ramdhani (62), penjaga toko, segera beranjak dari tempat duduknya. Ia menghampiri pria tersebut. ”Five hundred thousands.”
”Dua ratus saja,” terpatah-patah dan dengan logat yang khas, pria itu menawar dengan bahasa Indonesia.
Dani menggeleng, memberikan penawaran yang lebih tinggi. Hampir satu menit mereka berdebat tipis dalam campuran bahasa Indonesia dan Inggris. Sampai akhirnya keduanya sepakat. Tiga ratus ribu rupiah untuk satu buah pisau tradisional tersebut.
Transaksi seperti itu adalah makanan sehari-hari bagi Dani sebagai penjaga toko di Pasar Barang Antik Jalan Surabaya, Menteng, Jakarta Pusat.
Di sepanjang trotoar Jalan Surabaya, deretan kios yang membentang sekitar 500 meter itu telah berdiri sejak tahun 1960-an. Di sini, ribuan benda-benda tua yang selamat dari gempuran zaman berkumpul. Mulai dari lukisan, perhiasan, pajangan rumah, kain, juga tas bekas, dijual di sini.
Di bawah terik matahari Jakarta yang menyengat, pengunjung yang didominasi oleh turis asing berjalan mengunjungi toko-toko di sana. Beberapa dari mereka membeli, namun tak sedikit juga yang hanya berfoto dan mengambil video dengan latar belakang toko bernuansa vintage.
Dani adalah satu dari banyaknya pedagang di jalan tersebut. Ia telah empat dekade berdagang di sana, tepatnya sejak umurnya 15 tahun.
”Dulu saya berdagang bantuin Mamang (paman) saya. Sewaktu Mamang meninggal, saya pindah jagain toko orang,” tutur Dani saat ditemui, Sabtu (24/10/2026).
Dani sempat pindah-pindah kerja, dari Bekasi hingga Bali. Namun, hidup membawa kakinya kembali ke Jalan Surabaya. Puluhan tahun pekerjaan ini menjadi mata pencaharian yang menghidupi istri dan kedua anaknya.
Masa keemasan pasar ini, menurut Dani, terjadi pada era 1980-an hingga 1990-an. Kala itu, Jalan Surabaya tak pernah sepi. Bus-bus besar berhenti di pinggir jalan, membawa serta turis lokal dan mancanegara yang ingin berburu koleksi barang antik.
Di tokonya, koleksi barang antik terbilang beragam. Untuk kain tenun dan batik tua, pasokan dikirim dari Jawa, Medan, juga Lampung. Wayang-wayang di sisi kanan toko dikirim dari Cirebon, sementara patung pahatan dari batu dan kayu berasal dari Kalimantan.
Ada pula kepek, tas selempang khas Baduy yang dibuat dengan anyaman bambu dan pohon palem, dan tas rotan khas Bali. Tidak jarang pula koleksi barang kunonya, seperti ragam perhiasan dan cincin, didatangkan dari Timur Tengah.
Salah satu koleksinya yang paling tua adalah kacip, sebuah pisau berbahan besi yang berbentuk seperti gunting. Fungsinya adalah membelah pinang yang digunakan untuk makan sirih.
”Kacip ini buatan awal tahun 1900-an, dari Sumatra. Biasanya dipakai ibu-ibu zaman dulu buat menyirih,” ujar Dani sembari menunjukkan detail ukiran kuningan yang meliuk halus di tangannya.
Bagi kebanyakan orang, toko yang dikelola Dani dan toko lain di Jalan Jakarta mungkin tampak seperti gudang penampungan barang berdebu. Namun, bagi pedagang dan pecinta barang antik, tempat ini layaknya lorong memori masa lalu yang menyimpan benda-benda unik yang tak lekang dimakan zaman.
Kendati dikelilingi benda-benda sarat nilai sejarah, Dani tak menampik bahwa angin perubahan zaman berembus cukup kencang. Jika dibandingkan era kejayaannya puluhan tahun silam, lorong-lorong Pasar Jalan Surabaya saat ini terasa jauh lebih lengang. Langkah kaki pengunjung tak sepadat dulu, dan deretan bus pariwisata juga nyaris tak pernah lagi terlihat.
Kelesuan pembelian di pasar barang antik Jalan Surabaya memaksa para pedagang beradaptasi. Generasi tua mulai bersiasat dengan merangkul cara-cara baru agar denyut bisnis barang antik ini tidak terhenti oleh gulungan teknologi.
Seperti yang dilakukan Tamim Heru (59). Demi menjaga agar penjualan tetap berjalan, ia memperkerjakan anak dan keponakannya untuk berjualan di media sosial sekaligus mengirimkan barang-barang antik dagangannya.
”Biasanya yang beli sesama kolektor,” ujarnya sambil mengawasi tiga orang yang sedang mengemas beberapa teleskop kecil seharga Rp 900.000 untuk dikirim ke Ambon.
Nyaris setengah abad, Tamim berjualan di Pasar Barang Antik Jalan Surabaya. Pria yang mulai merintis usahanya sejak 1978 di kawasan ini mengingat betul bagaimana rupa Jalan Surabaya pada dekade 1970-an yang masih berupa deretan pedagang lesehan beralaskan tikar, sebelum akhirnya ditata dengan bangunan kios kayu permanen pada era 1980-an.
Kios milik Tamim didominasi oleh lampu-lampu kristal gantung khas era kolonial yang megah. Harganya dimulai dari Rp 5.000.000 hingga Rp 10.000.000 per buah. Tak hanya lampu, ia juga menjual gramofon pemutar piringan hitam, gong, cermin berbingkai besi, hingga teleskop dengan berbagai ukuran.
Bagi Tamim, merawat bisnis sama halnya dengan merawat barang-barang antik koleksinya. Perjalanan panjang Tamim di lorong jalan ini juga merekam fluktuasi ekonomi nasional. Salah satu babak paling membekas baginya terjadi saat badai krisis moneter menghantam Indonesia pada tahun 1998.
”Uniknya, pas krisis moneter 1998 itu, di sini justru ramai pembeli bule. Mungkin karena nilai tukar dolar lagi tinggi-tingginya,” ucap Tamim mengenang.
Tak hanya barang-barang antik, pasar ini juga menyimpan koleksi buku-buku tua serta piringan hitam.
Fikri (32) adalah satu-satunya penjual buku di sepanjang Jalan Surabaya. Ia mulai mengelola kios ini sejak 2016. Buku-buku koleksinya tersusun rapi dalam ruangan 7 meter x 2 meter persegi.
Buku bersampul tebal dengan warna-warna pekat itu sedikit berdebu. Kertasnya mulai menguning, mengeluarkan bau khas yang langsung tercium sesaat setelah masuk ke tokonya.
”Usaha buku di sini sebenarnya dibangun tiga generasi. Mulai dari paman pada tahun 1970-an, lalu diturunkan ke kakak saya, dan sekarang saya yang pegang,” ujarnya.
Buku "Tanah Air Kita: Sebuah Kitab tentang Negeri dan Rakjat Indonesia" yang ditulis oleh Niels Alexander Douwes Dekker yang dijual di Pasar Barang Antik Jalan Surabaya, Menteng, Jakarta Pusat.
Buku "Tanah Air Kita: Sebuah Kitab tentang Negeri dan Rakjat Indonesia" yang ditulis oleh Niels Alexander Douwes Dekker yang dijual di Pasar Barang Antik Jalan Surabaya, Menteng, Jakarta Pusat.
Sebagian besar koleksi di toko Fikri merupakan buku-buku kedokteran dan ensiklopedia yang usianya banyak berasal dari awal tahun 1900-an. Di samping itu, berjejal pula berbagai judul buku fiksi.
Buku fiksi internasional dan beberapa buku kedokteran ia hargai mulai dari Rp 135.000 per buah. Uniknya, harga yang membumbung tinggi di toko buku ini justru dipegang oleh buku-buku terbitan lokal yang tergolong langka. Salah satunya adalah novel legendaris Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer terbitan tahun 1981 yang dihargai Rp 600.000.
Kecenderungan motivasi pembeli buku-buku tua di pasar ini juga bergeser seiring perkembangan zaman. Buku-buku tua bersampul kain keras (hardcover) maupun kulit dengan lembaran yang menguning kini banyak dilirik untuk pemanis kafe, studio, atau dekorasi rumah.
”Biasanya yang beli juga bukan orang yang emang pengin baca buku. Sebagian besar justru pengennya buat pajangan. Ngincer sampulnya aja, ujar Fikri.
Berjalan ke ujung pasar, tepat sebelum tikungan, dentum ritmis lagu vintage mengalun hangat dari pemutar CD. Di sinilah Niko (32) menghabiskan hari-harinya di antara ribuan kaset pita, piringan hitam, dan CD.
Tak seperti penjual piringan hitam lain yang biasanya berawal dari kolektor, keinginan Niko untuk berjualan di Pasar Barang Antik berawal dari kegemaran pribadinya.
Berawal dari hobinya main ke Jalan Surabaya untuk melihat-lihat koleksi piringan hitam, Niko memutuskan untuk membuka toko musiknya sendiri pada tahun 2006. Sebagian besar barang di lapaknya merupakan hasil buruan dari kolektor senior yang menjual kembali simpanannya.
Di tokonya, beragam album dari penyanyi lokal maupun mancanegara dapat ditemui. Album penyanyi wanita Indonesia era 1970-an seperti Ernie Djohan, Tanty Yosepha, dan Titiek Sandhora bersanding dalam satu rak yang sama dengan album musik klasik dari Beethoven dan Stéphane Grappelli.
Harga yang dijual pun beragam. Kaset pita yang dijual Niko dibanderol mulai dari Rp 10.000, CD mulai dari Rp 30.000, sedangkan piringan hitam album oldies, orkestra, hingga musik instrumen dihargai mulai dari Rp 200.000 per keping.
Namun, untuk koleksi super langka, harganya bisa melonjak. Piringan hitam termahal yang pernah singgah dan terjual di kiosnya adalah album grup musik progressive rock asal Indonesia era 1970-an, Shark Move, yang menembus angka Rp23 juta.
”Kalau sekarang, kebanyakan yang beli anak-anak yang baru dengerin. Umumnya nyari yang viral-viral di media sosial. Beda sama kolektor zaman dulu yang datang nyari apa yang belum mereka punya untuk melengkapi koleksi,” ucapnya.
Apapun alasan para pengunjung datang dan membeli benda-benda tua dagangan para penjual, sejatinya mereka tengah merawat lorong memori di Pasar Barang Antik Jalan Surabaya.






Komentar (0)