Tibet Diguncang Gempa Dahsyat  M 7,0 ! Tanah Terbelah, Ratusan Rumah Roboh, 413 Gempa Susulan!

erabaru.net
2 jam lalu
Cover Berita

EtIndonesia.com Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,0 dilaporkan mengguncang wilayah utara Tibet, Tiongkok, pada Kamis malam, 22 Oktober 2026. Bencana yang terjadi ketika sebagian besar masyarakat sedang beristirahat itu memicu kepanikan, merusak ratusan bangunan, serta memaksa penduduk meninggalkan rumah mereka di tengah suhu udara dataran tinggi yang sangat dingin.

Menurut laporan awal yang dikaitkan dengan otoritas Tiongkok, sedikitnya 16 orang meninggal dunia dan 65 lainnya mengalami luka-luka. Sebanyak 339 rumah juga dilaporkan roboh akibat kuatnya guncangan.

Namun, jumlah korban dan kerusakan tersebut masih merupakan angka awal yang tercantum dalam laporan sumber. Data itu belum dapat dipastikan secara independen, sehingga kemungkinan masih mengalami perubahan seiring berlangsungnya pendataan di wilayah terdampak.

Bencana ini menjadi perhatian karena lokasi gempa berada di kawasan terpencil dengan kondisi geografis yang sangat menantang. Selain menghadapi kerusakan bangunan dan jalan, petugas penyelamat juga harus bekerja di wilayah pegunungan yang berada ribuan meter di atas permukaan laut.

Gempa Terjadi pada Malam Hari, Pusatnya Berada di Baqen

Berdasarkan informasi yang dikaitkan dengan Pusat Jaringan Gempa Bumi Tiongkok, gempa utama terjadi pada 22 Oktober 2026, sekitar pukul 22.33 waktu setempat.

Pusat gempa dilaporkan berada di Kabupaten Baqen, Kota Nagqu, Daerah Otonom Tibet, dengan kekuatan magnitudo 7,0 dan kedalaman sekitar 10 kilometer.

Kedalaman tersebut tergolong dangkal. Secara umum, gempa dangkal berpotensi menghasilkan guncangan kuat di permukaan bumi, terutama pada kawasan yang berdekatan dengan pusat gempa.

Wilayah Nagqu sendiri merupakan bagian dari Dataran Tinggi Tibet, yang terkenal dengan kondisi alam ekstrem, permukiman tersebar, serta akses transportasi yang terbatas.

Menurut laporan yang dikutip dari Liberty Times, rata-rata ketinggian kawasan dalam radius lima kilometer dari pusat gempa mencapai sekitar 4.864 meter di atas permukaan laut.

Ketinggian tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi operasi penyelamatan. Udara yang tipis, suhu rendah, serta jarak antardesa yang berjauhan dapat memperlambat mobilisasi personel dan pengiriman bantuan.

Ratusan Gempa Susulan Memicu Kekhawatiran

Ancaman tidak langsung berakhir setelah gempa utama mengguncang Tibet.

Dalam beberapa jam berikutnya, aktivitas seismik dilaporkan terus berlangsung. Sejumlah gempa susulan berkekuatan sekitar magnitudo 3 hingga 4 tercatat mengguncang kawasan tersebut.

Hingga Jumat, 23 Oktober 2026, pukul 07.00 waktu setempat, jumlah gempa susulan dalam laporan awal disebut telah mencapai 413 kali.

Rentetan guncangan ini membuat masyarakat semakin khawatir terhadap keselamatan bangunan yang sebelumnya sudah mengalami kerusakan.

Gempa susulan dapat memperburuk kondisi rumah yang retak, meruntuhkan struktur yang telah melemah, serta menimbulkan bahaya tambahan bagi warga maupun petugas penyelamat.

Karena itu, masyarakat di kawasan terdampak dilaporkan memilih bertahan di ruang terbuka dan menghindari bangunan yang dinilai tidak aman.

Tanah Retak, Bangunan Rusak, dan Komunikasi Terganggu

Guncangan gempa dilaporkan terasa di berbagai wilayah administratif Kabupaten Baqen.

Di kawasan Maru, yang disebut berada relatif dekat dengan pusat gempa, sejumlah retakan muncul pada permukaan tanah.

Menurut keterangan yang beredar, sebagian retakan memiliki lebar melebihi telapak tangan orang dewasa, dengan kedalaman sedikitnya 20 sentimeter.

Kerusakan juga terlihat pada sejumlah bangunan permukiman. Dinding rumah mengalami retakan, sementara beberapa bangunan dilaporkan runtuh setelah tidak mampu menahan guncangan.

Selain kerusakan fisik, pasokan listrik dan jaringan komunikasi sempat mengalami gangguan di sejumlah lokasi.

Situasi tersebut menyulitkan penduduk yang berusaha menghubungi keluarga mereka, terutama yang tinggal di desa-desa terpencil.

Ketika komunikasi terputus, proses memastikan keselamatan penduduk menjadi semakin sulit. Petugas juga membutuhkan waktu lebih lama untuk memperoleh gambaran menyeluruh mengenai tingkat kerusakan.

Warga Berhamburan Keluar Rumah di Tengah Udara Dingin

Ketika gempa terjadi, banyak penduduk sedang beristirahat di rumah masing-masing.

Guncangan mendadak membuat warga berhamburan keluar untuk menyelamatkan diri. Sebagian berkumpul di halaman sekolah, lapangan, dan ruang terbuka, sementara lainnya memilih berlindung sementara di dalam kendaraan.

Situasi semakin berat karena suhu udara pada malam hari di kawasan tersebut dapat turun hingga di bawah titik beku.

Sejumlah warga terpaksa mengenakan pakaian tebal dan bertahan di luar rumah selama berjam-jam karena khawatir terhadap kemungkinan gempa susulan.

Rekaman yang disiarkan media pemerintah Tiongkok memperlihatkan barang-barang berjatuhan dari rak pertokoan, bangunan mengalami kerusakan, dan petugas penyelamat memeriksa reruntuhan menggunakan lampu penerangan.

Bagi masyarakat yang kehilangan tempat tinggal, ancaman terbesar bukan hanya gempa susulan, melainkan juga paparan udara dingin ketika mereka harus bermalam tanpa perlindungan memadai.

Ratusan Rumah Rusak, Jalan Raya Tertutup Bebatuan

Hingga 23 Oktober 2026, otoritas setempat melaporkan bahwa rumah milik 339 keluarga mengalami kerusakan atau keruntuhan. Sedikitnya 20 kandang ternak juga terdampak.

Kerusakan kandang menjadi persoalan tambahan karena peternakan merupakan salah satu sumber penghidupan masyarakat di kawasan dataran tinggi Tibet.

Sementara itu, gempa juga memicu jatuhnya bebatuan dari lereng pegunungan ke sejumlah ruas Jalan Nasional 317.

Akibatnya, akses kendaraan umum dibatasi dan sebagian jalur diprioritaskan bagi kendaraan darurat.

Gangguan juga terjadi pada perjalanan kereta api, sementara petugas berupaya memastikan jalur transportasi aman untuk digunakan kembali.

Kondisi tersebut memperlihatkan betapa rumitnya penanganan bencana di wilayah pegunungan. Ketika jalan terputus, pengiriman makanan, obat-obatan, dan perlengkapan darurat menjadi jauh lebih sulit.

Xi Jinping Perintahkan Penyelamatan Besar-besaran

Menanggapi bencana tersebut, Presiden Tiongkok Xi Jinping menginstruksikan pemerintah daerah dan lembaga terkait untuk mengerahkan seluruh kemampuan dalam operasi pencarian dan penyelamatan.

Prioritas utama adalah menemukan korban yang kemungkinan masih terjebak, memberikan perawatan medis kepada warga terluka, serta menyediakan tempat tinggal sementara bagi penduduk yang kehilangan rumah.

Pada 23 Oktober, pemerintah setempat meningkatkan mobilisasi personel penyelamat.

Menurut perkembangan yang dilaporkan Associated Press pada 24 Oktober, lebih dari 5.000 personel telah dikerahkan, sementara lebih dari 12.000 penduduk dievakuasi dari kawasan terdampak.

Bantuan darurat yang dikirim mencakup ribuan tenda, unit hunian sementara, tempat tidur lipat, lampu penerangan, serta pakaian musim dingin.

Jumlah korban luka juga diperbarui menjadi 76 orang dalam laporan pemerintah setempat pada 23 Oktober pukul 13.00, sementara korban meninggal tetap dilaporkan sebanyak 16 orang.

Petugas terus memeriksa rumah-rumah dan desa terdampak untuk memastikan tidak ada warga yang tertinggal.

Ancaman Belum Berakhir, Cuaca Dingin Menghambat Penyelamatan

Meskipun operasi penyelamatan terus berlangsung, bahaya di wilayah terdampak belum sepenuhnya berakhir.

Gempa susulan masih menjadi ancaman terhadap bangunan yang telah melemah. Selain itu, prakiraan turunnya salju secara berkala dalam beberapa hari berikutnya berpotensi mempersulit distribusi bantuan.

Peristiwa ini kembali mengingatkan dunia pada kerentanan kawasan Dataran Tinggi Tibet terhadap aktivitas gempa bumi.

Pada 7 Januari 2025, gempa kuat juga mengguncang Kabupaten Tingri, Tibet, dan menyebabkan banyak korban jiwa.

Kini, setelah gempa 22 Oktober 2026, perhatian kembali tertuju pada keselamatan masyarakat yang tinggal di kawasan pegunungan terpencil tersebut.

Di tengah reruntuhan rumah, suhu yang membekukan, dan gempa susulan yang terus mengancam, ribuan warga harus menghadapi ketidakpastian mengenai tempat tinggal dan kehidupan mereka selanjutnya.

Bagi keluarga yang kehilangan anggota tercinta, bencana ini meninggalkan luka mendalam. Sementara bagi mereka yang berhasil selamat, perjuangan untuk kembali membangun kehidupan baru baru saja dimulai.

Gempa mungkin hanya berlangsung dalam hitungan detik, tetapi dampaknya dapat mengubah kehidupan ribuan orang selama bertahun-tahun.

Dan selama operasi penyelamatan masih berlangsung, harapan terbesar adalah agar seluruh warga yang terdampak dapat segera memperoleh pertolongan, perlindungan, dan kesempatan untuk bangkit kembali. (***)


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Jadwal Padat Bukan Halangan, Foreverskin Kenalkan Flash90Lift yang Bikin Cantik dengan SatSet!
• 3 jam lalu
0
thumb
Prajogo Pangestu Masuk Bisnis Tangki Bitumen, Bagaimana Prospeknya?
• 22 jam lalu
0
thumb
Kemenekraf Dorong Ekonomi Kreatif Daerah Jadi Mesin Pertumbuhan Baru
• 18 jam lalu
0
thumb
Wamensos Agus Jabo Ajak Muhammadiyah Kolaborasi Putus Mata Rantai Kemiskinan
• 2 jam lalu
0
thumb
Rekomendasikan Member BRI Prioritas dan BRI Private, Dapat Bonus Jutaan!
• 21 jam lalu
0
Berhasil disimpan.