Oleh: Instianti Elyana, Ketua Prodi Manajemen Universitas Nusa Mandiri
JAKARTA -- Perubahan teknologi telah mengubah cara perusahaan menjalankan bisnis sekaligus menentukan karakter pemimpin yang dibutuhkan. Di tengah persaingan yang semakin dinamis, pemimpin tidak cukup hanya mengandalkan pengalaman dan kemampuan menyusun strategi. Mereka harus mampu membaca perubahan, memanfaatkan teknologi, membangun kolaborasi, dan mengarahkan organisasi agar tetap relevan.
Baca Juga
UNM dan PWU Filipina Jalin Kerja Sama Internasional di Kongres AFEBSI
Prodi Sistem Informasi UNM Siapkan Lulusannya Jadi Penghubung Teknologi dan Bisnis
UNM Buka Pendaftaran Mahasiswa Baru Gelombang 1 hingga 3 Desember 2026
Bagi saya, tantangan kepemimpinan masa kini bukan sekadar bagaimana mempertahankan keberlangsungan organisasi, melainkan bagaimana membawa organisasi tumbuh di tengah ketidakpastian. Pemimpin yang hanya bertahan dengan cara lama berisiko tertinggal, sementara mereka yang mau belajar dan beradaptasi memiliki peluang lebih besar untuk menciptakan inovasi.
Laporan World Economic Forum (WEF) Future of Jobs Report 2025 menyoroti pentingnya kemampuan berpikir analitis, kepemimpinan, kemampuan memengaruhi, dan adaptabilitas dalam menghadapi perubahan dunia kerja. Hal ini menunjukkan bahwa kemajuan teknologi tidak menghilangkan kebutuhan terhadap kualitas manusia. Justru, kemampuan mengambil keputusan, membangun kepercayaan, dan menggerakkan orang lain semakin penting.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Kecerdasan buatan (AI), otomatisasi, dan digitalisasi memang dapat mempercepat proses kerja. Namun, teknologi tidak dengan sendirinya menjamin organisasi memiliki arah yang tepat. Tetap dibutuhkan pemimpin yang mampu menafsirkan informasi, mempertimbangkan risiko, memahami kebutuhan tim, dan menentukan keputusan secara bertanggung jawab.
Saya memandang kepemimpinan modern sebagai kemampuan menggerakkan perubahan, bukan sekadar mengawasi pekerjaan. Pemimpin perlu menciptakan lingkungan yang mendorong anggota tim untuk menyampaikan gagasan, berani mencoba pendekatan baru, dan belajar dari evaluasi. Dalam lingkungan bisnis yang terus bergerak, pola kepemimpinan yang terlalu kaku justru dapat menghambat kreativitas dan memperlambat pengambilan keputusan.
Perubahan cara kerja juga menuntut kemampuan komunikasi yang semakin baik. Kolaborasi kini dapat berlangsung lintas wilayah, waktu, bahkan budaya kerja. Karena itu, pemimpin perlu memastikan setiap anggota tim memahami tujuan bersama, memiliki ruang untuk berkontribusi, dan mengetahui tanggung jawabnya. Penguasaan perangkat digital harus berjalan beriringan dengan kemampuan membangun hubungan antarmanusia.
Tantangan tersebut menjadi perhatian penting dalam pendidikan manajemen. Mahasiswa tidak cukup hanya mempelajari teori organisasi, pemasaran, keuangan, dan sumber daya manusia. Mereka juga perlu berlatih menganalisis persoalan bisnis, mengambil keputusan berdasarkan data, menyampaikan gagasan, serta bekerja dalam tim yang memiliki beragam sudut pandang.
Sebagai Ketua Program Studi (prodi) Manajemen Universitas Nusa Mandiri (UNM), saya meyakini bahwa pendidikan manajemen harus mampu menjembatani pengetahuan akademik dengan kebutuhan nyata dunia usaha. Mahasiswa perlu dibiasakan menghadapi studi kasus, menyusun strategi, mengevaluasi risiko, dan memahami dampak keputusan terhadap organisasi maupun masyarakat.
Komentar (0)