Sektor kuliner tercatat menjadi penyumbang terbesar bagi pendapatan ekonomi kreatif (ekraf) nasional, melampaui sektor fashion dan kriya.
Potensi besar ini, menurut Bambang Haryo Soekartono (BHS) Anggota Komisi VII DPR RI, perlu diimbangi dengan peningkatan kualitas produk, kepemilikan izin, hingga strategi promosi digital agar mampu menembus pasar yang lebih luas.
“Kuliner ini yang terbesar, kemudian diikuti fashion dan kriya. Kami berharap adanya bimbingan dan teknologi (bimtek) ini peserta bisa mengikuti dengan baik sehingga dapat tumbuh menjadi pengusaha yang andal, mulai dari skala kecil, menengah, hingga sukses menjadi pengusaha besar di bidang kuliner,” katanya, Sabtu (24/10/2026) dalam bimtek yang digelar di salah satu hotel Surabaya.
BHS menilai, sektor kuliner dan pariwisata memiliki keterkaitan erat yang saling menguntungkan. Daya tarik makanan khas suatu daerah sering kali menjadi alasan utama wisatawan melakukan kunjungan.
Sehingga untuk mendongkrak daya saing, dia mendorong para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) memperhatikan aspek perizinan, menjaga konsistensi cita rasa, mempercantik kemasan, serta gencar memanfaatkan media digital untuk pemasaran.
Dari sisi permodalan, Bambang Haryo mengimbai para pelaku usaha agar tidak ragu memanfaatkan program Kredit Usaha Rakyat (KUR). Karenaa pemerintah telah menyediakan fasilitas pinjaman hingga Rp100 juta tanpa agunan dengan bunga terjangkau sebesar 8 persen.
“Selain itu, pemerintah juga menyiagakan Satgas UMKM untuk memberikan perlindungan bagi para pelaku usaha dari berbagai bentuk gangguan oknum yang merugikan,” tambahnya.
Pada kesempatan yang sama, Amir Hamzah Sekretaris Deputi Bidang Kreativitas Budaya dan Desain Kementerian Ekonomi Kreatif menyampaikan, pengembangan kuliner di Surabaya fokus pada penguatan merek lokal agar bisa bersaing di tingkat nasional maupun internasional.
Dia menyebut produk kuliner khas Surabaya seperti rujak cingur hingga spiku sebenarnya sudah memiliki popularitas yang tinggi. Namun, pengelolaan merek, estetika kemasan, serta daya tahan produk perlu terus ditingkatkan.
“Penguatan merek, kemasan yang menarik, dan ketahanan produk menjadi kunci utama agar kuliner khas Surabaya ini memiliki jangkauan pemasaran yang semakin luas,” tutupnya.
Sebagai informasi, Komisi VII DPR RI bersama Kementerian Ekonomi Kreatif menginisiasi kegiatan bimtek terkait inovasi kuliner lokal yang diikuti sekitar 70 pelaku usaha kuliner di Surabaya. (kir/saf/faz)





Komentar (0)