Anggota DPD Filep Wamafma Ajak Gereja di Papua Data Anak Terancam Putus Sekolah

pantau.com
2 jam lalu
Cover Berita

Pantau - Ketua Komite III DPD RI Filep Wamafma mengajak gereja-gereja di Papua Barat mendata anak-anak asli Papua yang terancam putus sekolah akibat keterbatasan ekonomi agar dapat memperoleh bantuan pendidikan melalui pelayanan sosial gereja atau diakonia.

Filep menilai keterlibatan lembaga keagamaan sangat penting dalam membantu pemerintah daerah memperluas akses pendidikan, terutama bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu.

Ajakan tersebut disampaikan Filep di Manokwari, Papua Barat, Sabtu (24/10/2026), berkaitan dengan pelaksanaan sidang jemaat ke-34 Gereja Petrus Amban.

Menurutnya, pelayanan gereja tidak boleh hanya berfokus pada pemenuhan kebutuhan sehari-hari dan pembinaan spiritual, tetapi juga harus memberikan kontribusi nyata terhadap peningkatan kualitas sumber daya manusia.

“Pendataan juga menyasar anak yatim piatu serta generasi muda dengan kemampuan akademik yang baik tetapi kesulitan biaya pendidikan. Kalau kita bantu satu anak sekolah, kita sedang menyiapkan masa depan satu keluarga,” kata Filep.

Gereja Diminta Data Anak Papua yang Kesulitan Biaya Pendidikan

Filep menjelaskan bahwa pendataan perlu dilakukan untuk mengidentifikasi anak-anak yang menghadapi risiko putus sekolah karena kondisi ekonomi keluarga.

Selain anak-anak dari keluarga miskin, pendataan juga harus mencakup anak yatim piatu serta pelajar berprestasi yang kesulitan membiayai pendidikan.

Menurutnya, gereja memiliki kedekatan dengan kehidupan masyarakat sehingga dapat mengetahui kondisi keluarga dan kebutuhan pendidikan anak-anak di lingkungan jemaat.

Kedekatan tersebut dinilai menjadi modal penting untuk menjangkau anak-anak yang membutuhkan bantuan pembiayaan sekolah maupun perguruan tinggi.

Filep berharap hasil pendataan dapat menjadi dasar penyusunan program bantuan pendidikan yang lebih tepat sasaran.

Ia menekankan bahwa dukungan terhadap pendidikan seorang anak juga dapat memberikan dampak jangka panjang bagi masa depan keluarganya.

Filep Minta Pelayanan Diakonia Prioritaskan Pendidikan

Filep menegaskan bahwa pelayanan diakonia harus mampu menjawab berbagai persoalan sosial yang dihadapi masyarakat Papua, termasuk keterbatasan akses pendidikan.

Menurutnya, bantuan gereja tidak cukup hanya berupa pemenuhan kebutuhan konsumsi sehari-hari, tetapi perlu diarahkan pada peningkatan kesejahteraan jangka panjang.

“Pelayanan diakonia harus mampu menjawab persoalan pendidikan anak-anak kita,” ujarnya.

Ia menilai perhatian terhadap pendidikan merupakan bagian dari tanggung jawab moral dan sosial gereja kepada seluruh jemaat.

Karena itu, Filep meminta pembangunan sarana ibadah diimbangi dengan program yang mendukung masa depan anak-anak dari keluarga kurang mampu.

“Jangan sampai kita memiliki gedung gereja yang megah, tetapi anak-anak kita tidak mampu bersekolah dan melanjutkan pendidikan karena kondisi kemiskinan,” katanya.

Filep menegaskan bahwa pembangunan sumber daya manusia harus menjadi perhatian bersama agar generasi muda Papua memiliki kesempatan memperoleh pendidikan yang layak.

Pembangunan Papua Harus Perluas Akses Pendidikan dan Kesehatan

Filep menilai pembangunan di Papua perlu mengutamakan peningkatan kualitas hidup masyarakat melalui pemerataan layanan dasar.

Menurutnya, akses pendidikan, kesehatan, dan pelayanan publik harus terus diperluas, terutama bagi masyarakat yang tinggal di daerah pedalaman dan wilayah konflik.

Ia mendorong pemerintah daerah melibatkan lembaga keagamaan dalam mengatasi berbagai persoalan sosial yang dihadapi masyarakat.

Keterlibatan gereja dinilai dapat membantu menjangkau kelompok masyarakat yang membutuhkan dukungan, termasuk keluarga yang mengalami keterbatasan ekonomi.

Filep berharap kerja sama antara pemerintah, lembaga pendidikan, dan organisasi keagamaan dapat memperkuat upaya pencegahan anak putus sekolah.

Filep Soroti Narkoba, Rokok, dan Risiko HIV/AIDS pada Generasi Muda

Selain persoalan pendidikan, Filep turut menyoroti sejumlah ancaman terhadap kesehatan dan masa depan generasi muda Papua.

Persoalan tersebut meliputi penyalahgunaan narkoba, kebiasaan merokok di kalangan pelajar, serta risiko penularan HIV/AIDS.

Menurutnya, pencegahan berbagai persoalan tersebut membutuhkan keterlibatan aktif keluarga, sekolah, gereja, dan masyarakat.

Ia menilai pengawasan orang tua menjadi salah satu faktor penting dalam melindungi anak-anak dari perilaku yang dapat membahayakan kesehatan dan masa depan mereka.

“Sebagai orang tua, kita wajib memberikan pengawasan bagi anak-anak. Wariskan pendidikan, pengetahuan, karakter, dan masa depan yang lebih baik,” ujarnya.

Filep berharap persoalan pendidikan, kesehatan, dan perlindungan generasi muda menjadi perhatian dalam sidang jemaat ke-34 Petrus Amban.

Ia juga mendorong agar sidang tersebut menghasilkan program nyata dalam bidang pendidikan, pemberdayaan ekonomi keluarga, kesehatan, dan perlindungan anak.

Filep Serahkan Bantuan untuk Sidang Jemaat Petrus Amban

Dalam kesempatan tersebut, Filep menyerahkan sejumlah bantuan kepada panitia pelaksana sidang jemaat ke-34 Petrus Amban di Manokwari.

Bantuan yang diberikan meliputi pakaian, tas, buku catatan, buku agenda, dan bolpoin.

Bantuan tersebut diserahkan untuk mendukung kegiatan pelayanan gereja sekaligus membantu persiapan pelaksanaan sidang jemaat.

Melalui kegiatan tersebut, Filep kembali menekankan pentingnya peran gereja dalam memperkuat pendidikan dan kesejahteraan masyarakat Papua Barat.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
BNPB Catat 2.204 Kejadian Bencana hingga 23 Oktober 2026
• 17 jam lalu
0
thumb
Gelar KADIN Fest 2027, KADIN Kota Bekasi Padukan Konser Musik Lintas Generasi dan Expo UMKM
• 15 jam lalu
0
thumb
Serangan Udara Israel Dilaporkan Hantam Rumah di Nuseirat, Gaza, Korban Luka Dievakuasi | SAPA MALAM
• 21 jam lalu
0
thumb
Anggota Komisi XIII DPR Minta Imigrasi Perkuat Pengawasan Izin Tinggal WNA
• 8 jam lalu
0
thumb
Eropa Memanas! Demo Mahasiswa hingga Kerusuhan Guncang 8 Negara
• 18 jam lalu
0
Berhasil disimpan.