Menpar Dorong Batik Jadi Daya Tarik Wisata Budaya dan Penggerak Ekonomi

metrotvnews.com
1 jam lalu
Cover Berita

Bandung: Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana mendorong pengembangan batik sebagai daya tarik wisata budaya untuk meningkatkan kunjungan wisatawan sekaligus memperluas manfaat ekonomi bagi masyarakat setempat.

Menurut Widiyanti, batik memiliki potensi yang melampaui produk kerajinan. Keunikan motif, nilai filosofis, dan tahapan pembuatannya dapat dikemas menjadi pengalaman wisata yang memungkinkan pengunjung mengenal budaya daerah secara langsung.

"Dengan demikian, batik tidak hanya menjadi produk kerajinan, tetapi juga bagian dari pengalaman wisata yang lebih menyeluruh," kata Widiyanti dalam sambutannya pada Jambore Yayasan Batik Jawa Barat di Hotel Golden Flower, Bandung, Sabtu, 24 Oktober 2026.

Widiyanti mencontohkan kawasan Trusmi, Cirebon, yang menawarkan wisata berbasis batik. Di kawasan tersebut, wisatawan dapat melihat proses pembuatan batik, mengikuti kegiatan membatik bersama perajin, mempelajari filosofi motif, hingga membeli produk lokal.

Pengalaman wisata itu, menurut Widiyanti, juga dapat diperluas melalui paket perjalanan yang menghubungkan sentra batik dengan wisata kuliner, sejarah, dan destinasi budaya di sekitarnya. Dengan pendekatan tersebut, batik dapat menjadi bagian dari perjalanan wisata yang lebih beragam.
 

Baca Juga :

Museum Batik Jabar Diusulkan Hadirkan Edukasi Membatik bagi Generasi Muda


"Kami menempatkan desa wisata sebagai salah satu program prioritas untuk memperkuat perekonomian lokal melalui pemanfaatan kekayaan budaya, kreativitas, dan potensi masyarakat," beber Widiyanti.

Ia menjelaskan, pengembangan wisata berbasis batik sejalan dengan transformasi sektor pariwisata yang mengutamakan keseimbangan antara pertumbuhan jumlah kunjungan, peningkatan kualitas pengalaman wisata, keberlanjutan, dan pemerataan manfaat ekonomi.

Widiyanti menilai pariwisata berkualitas perlu menawarkan pengalaman autentik yang membantu wisatawan mengenal destinasi secara lebih mendalam. Pengalaman tersebut juga diharapkan mendorong wisatawan untuk tinggal lebih lama dan memperluas manfaat ekonomi bagi masyarakat setempat.

"Pengembangan ini sekaligus membuka peluang ekonomi bagi perajin, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), pemandu wisata, serta masyarakat setempat," beber Widiyanti.


Ketua Umum Yayasan Batik Jawa Barat (YBJB) Sendy Dede Yusuf saat Jambore Batik Jawa Barat 2026. Dokumentasi/ Instagram Sendy  Yusuf.

Selain mengembangkan pengalaman wisata, Widiyanti menekankan pentingnya mempertahankan identitas batik sesuai daerah asalnya. Di Jawa Barat, Batik Tulis Complongan Indramayu, Batik Tulis Merawit Cirebon, dan Batik Waleran Cirebon telah memperoleh perlindungan indikasi geografis.

Perlindungan indikasi geografis tersebut dapat memperkuat identitas produk sekaligus mendukung promosi daerah asal sebagai tujuan wisata budaya. Dengan demikian, pengembangan batik tidak hanya berfokus pada produk, tetapi juga pada pengenalan kekhasan budaya daerah.

Widiyanti berharap Jambore Batik Jawa Barat dapat memperkuat kerja sama antara perajin, generasi muda, pelaku industri kreatif, dan berbagai pemangku kepentingan. Sinergi tersebut diharapkan menjaga keberlanjutan batik sekaligus mengoptimalkan potensi ekonominya melalui sektor pariwisata.

"Kami seluruh pihak untuk terus menjaga batik sebagai warisan budaya, mengembangkannya sebagai kekuatan ekonomi, dan memperkenalkan kekayaan serta identitas daerah asalnya kepada dunia," ungkap Widiyanti.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Pesan KDM ke Bupati Bekasi Baru: Rajin ke Lapangan, Belanjakan Kas Daerah
• 8 jam lalu
0
thumb
WCCE 2026 Capai Kesepakatan Pengembangan Ekraf Tingkat Global
• 1 jam lalu
0
thumb
Israle Ketar-ketir! Fasilitas Nuklir Dimona Masuk Ancaman Iran, IRGC Klaim Siapkan Senjata Mematikan!
• 3 jam lalu
0
thumb
Prajogo Pangestu Masuk Bisnis Tangki Bitumen, Bagaimana Prospeknya?
• 14 jam lalu
0
thumb
Lantik Bupati Bekasi, Dedi Mulyadi Titip Sejumlah Pekerjaan Rumah
• 4 jam lalu
0
Berhasil disimpan.