Jakarta, tvOnenews.com - Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menduga pemicu timbulnya kobaran api di Gunung Ciremai gara-gara adanya aktivitas pembakaran ilalang secara tidak bertanggung jawab.
Dia menduga ada oknum warga yang melakukan aktivitas itu untuk pembukaan lahan pertanian menjelang datangnya musim tanam.
"Mungkin ada yang bakar ilalang karena mau menjelang November. Petani biasanya suka mulai menanam," katanya, Jumat (23/10/2026).
Terkait penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) ini, pihaknya telah melapor dan berkoordinasi langsung dengan pemerintah pusat melalui Menteri Sekretaris Negara serta Sekretaris Kabinet.
"Saya minta arahan karena ada kebakaran di Ciremai. Pak Mensesneg meminta agar Ciremai ditangani. Saya juga lapor ke Pak Seskab," ungkapnya.
Pria yang kerap disapa Kang Dedi Mulyadi (KDM) ini menargetkan karhutla di Gunung Ciremai rampung dalam rentang waktu dua hari.
Sejumlah upaya dilakukan mulai dari pengerahan helikopter untuk water bombing hingga pengerahan 500 personel pembersih kanal alami.
Menurutnya, water bombing dari udara merupakan pilihan tunggal karena aksesibilitas fisik personel darat menuju puncak Gunung Ciremai sangat berisiko.
Di samping itu, sambung KDM, 500 personel gabungan dikerahkan untuk membebaskan sirkulasi kanal alami di lereng gunung dari tumpukan sampah, batangan bambu, dan kayu kering.
Dengan demikian, apabila hujan turun, aliran air kanal otomatis berfungsi sebagai sekat bakar alami untuk membendung perambatan api ke zona vegetasi lainnya.
KDM pun meralat informasi yang sebelumnya menyebutkan luas area terdampak kebakaran di Gunung Ciremai seluas 60 hektare. Dia menyebut luas area terdampak mencapai 60 hektare dan kini tinggal 20 persen.
"Luas lahan yang terbakar mencapai 30 hektare, bukan 60 hektare. Setelah pemadaman sehari sebelumnya, titik api yang tersisa diperkirakan tinggal 20 persen, itu pun pada titik-titik api yang tidak terlalu rawan," pungkasnya. (ant/nsi)





Komentar (0)