Menko Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menjadi menteri yang paling populer di Kabinet Merah Putih berdasarkan hasil survei Indonesia Political Opinion (IPO).
Sementara itu, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman merupakan menteri yang bekerja paling baik. Adapun Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni yang kinerjanya dianggap paling buruk oleh publik dalam survei tersebut.
Direktur Eksekutif IPO, Dedi Kurnia Syah, mengatakan pengukuran tersebut mencakup popularitas menteri secara umum, tanpa membedakan bidang atau kementerian yang dipimpin.
Dalam kategori popularitas spontan atau top of mind, Bahlil menjadi nama menteri yang paling banyak disebut responden secara spontan. Sebanyak 37,5% responden mengenal Bahlil. Posisi berikutnya ditempati Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat Abdul Muhaimin Iskandar atau Cak Imin dengan 34,1%, disusul Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan sebesar 21,7%.
Selanjutnya, Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) memperoleh 16,5%, sedangkan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mencapai 15,3%.
Nama menteri lain yang masuk dalam daftar popularitas tersebut adalah Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian sebesar 13,8%, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto 12%, dan Menteri Pemuda dan Olahraga Erick Thohir 10,5%.
"Dan ini juga menarik karena ada menteri yang baru masuk ke jajaran kabinet dan dia langsung mendapatkan ingatan publik yang cukup kuat yaitu Menko Polkam Dudung Abdurachman, itu 1,5% masyarakat tahu namanya, artinya sudah ada di benak responden,” kata Dedi dalam Rilis Survei Refleksi 2 Tahun Kabinet Merah Putih secara daring, Sabtu (24/10).
Selain mengukur popularitas spontan, IPO juga menguji pengenalan publik terhadap para menteri dengan menyebutkan nama mereka kepada responden.
Dalam pengukuran tersebut, Bahlil Lahadalia masih menempati posisi teratas. Setelah namanya disebutkan, AHY berada di posisi berikutnya, disusul Abdul Muhaimin Iskandar. Zulkifli Hasan memperoleh tingkat pengenalan sebesar 48%, sedangkan Andi Amran Sulaiman mencapai 37%.
Berikutnya, Tito Karnavian memperoleh 26%, Erick Thohir 22%, dan Menko PMK Sugiono sebesar 19%. Sementara itu, Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid memperoleh 14,6%.
Mentan Amran Dinilai Bekerja Paling Baik
Berdasarkan hasil survei IPO, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman memperoleh penilaian sebesar 33%. Posisi kedua ditempati AHY dengan 25,2%, sedangkan Zulkifli Hasan berada di posisi ketiga dengan 24,5%.
Bahlil Lahadalia menyusul dengan perolehan 21,8%. Setelah itu, Menteri Kebudayaan Fadli Zon memperoleh 20,5%, disusul Menko PMK Sugiono sebesar 16,1%.
Adapun Erick Thohir mendapatkan penilaian sebesar 13,8%, Tito Karnavian 12%, dan Menteri Agama Nasaruddin Umar sebesar 10,3%.
Dedi menjelaskan, IPO juga mengukur penilaian responden terhadap kinerja para menteri perempuan. Dalam kategori tersebut, Meutya Hafid mendapatkan penilaian tertinggi, disusul Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana.
"Meutya Hafid menjadi menteri perempuan yang paling tinggi penilaian publik terkait dengan bekerja paling baik, disusul posisi kedua dari menteri perempuan adalah Widiyanti Putri Wardhana. Kalau dilihat dari keseluruhan sepertinya memang hanya ada Meutya Hafid dan juga Widiyanti Putri Wardhana yang mendapatkan persepsi bekerja baik dari sisi pejabat menteri perempuan,” ungkap Dedi.
Raja Juli Mendapat Penilaian Kinerja Terburuk
Di sisi lain, IPO juga mengukur nama-nama menteri yang dinilai publik bekerja paling buruk. Dalam kategori ini, Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menempati posisi teratas dengan perolehan 36,6%.
Menteri Hak Asasi Manusia Natalius Pigai berada di posisi berikutnya dengan 21,8%. Sementara itu, Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo memperoleh 9,4%.
Nama lain yang masuk dalam daftar tersebut adalah Menteri ATR/BPN Nusron Wahid dengan 6,5%, Menteri Koperasi Ferry Joko Juliantono 8,3%, Menteri Ketenagakerjaan Yassierli 5,7%, Mendikdasmen Abdul Mu'ti 5,3%, Menteri PKP Maruarar Sirait 4,2%, dan Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi 3,9%.
Dedi memaparkan, penilaian tersebut merupakan hasil pengukuran persepsi responden mengenai menteri yang dianggap bekerja paling buruk.
"Kebalikan dari yang dianggap paling baik adalah nama-nama menteri yang dianggap oleh publik paling buruk. Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni mendapatkan penilaian dianggap sebagai menteri paling buruk sebanyak 36,6%, disusul oleh Natalius Pigai 21,8%, Menteri PU Dody Hanggodo 9,4%, Nusron Wahid 6,5%, Joko Juliantono 8,3%, Yassierli 5,7%, Abdul Mu'ti 5,3%, Maruarar Sirait 4,2, dan Dudy Purwagandhi 3,9%,” ujar Dedi.
Iftitah Suryanagara Jadi Menteri yang Paling Tidak Dikenal
Selain popularitas dan penilaian kinerja, IPO turut mengukur tingkat pengenalan publik terhadap para menteri. Pengukuran ini dilakukan untuk mengetahui menteri yang namanya tidak pernah atau jarang didengar oleh responden.
Dalam kategori tersebut, Menteri Transmigrasi Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara menjadi nama yang paling tidak dikenal atau jarang didengar oleh publik.
"Lalu kami juga menanyakan kepada responden terkait dengan menteri mana yang tidak pernah atau jarang diketahui atau didengar namanya oleh responden. Nah ini kami sebut sebagai menteri paling tidak dikenal atau tidak diperhatikan oleh publik. Basis responnya cukup tinggi, 63,9% yang menjawab, yaitu Menteri Transmigrasi Iftitah Suryanagara, 82,5% menyatakan tidak kenal atau jarang sekali mendengar namanya,” kata Dedi.
Setelah Iftitah, nama Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Arifatul Choiri Fauzi berada di urutan berikutnya dengan 79,2%.
Dedi menyebut sejumlah menteri lain yang juga masuk dalam kategori tersebut, yakni Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Rini Widyantini, Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN Wihaji, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy, serta Menteri Luar Negeri Arrmanatha Nasir.
Menurut Dedi, rendahnya tingkat pengenalan terhadap Arrmanatha dapat dipahami karena dirinya merupakan pendatang baru di jajaran kabinet sehingga belum banyak melakukan publikasi dan dikenal masyarakat.
"Kalau Arrmanatha Nasir saya kira cukup rasional karena ini adalah pendatang baru sehingga belum banyak melakukan publikasi dan juga belum banyak dikenali oleh publik,” katanya.
Nama lainnya yang turut disebut adalah Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto, Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia Mukhtarudin, Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya, serta Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi.
"Istimewa ini menteri-menteri yang sebetulnya sudah cukup lama, bahkan mungkin dikenal sebagai politisi sebelumnya, juga dianggap paling tidak dikenal. Misalnya Teuku Riefky Harsya adalah politisi yang sebetulnya punya basis mungkin di dapilnya, tapi di posisi menteri termasuk kategori yang tidak dikenal oleh publik,” pungkasnya.






Komentar (0)