JAKARTA, KOMPAS.TV - Pemerintah Provinsi Jawa Barat mengerahkan 500 personel gabungan untuk membersihkan kanal alami di lereng Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC), Kabupaten Kuningan.
Pembersihan difokuskan pada tumpukan sampah, batang bambu, dan kayu kering yang menghambat sirkulasi kanal alami.
Ketika hujan turun, aliran air di kanal tersebut diharapkan dapat berfungsi sebagai sekat bakar alami atau firebreak untuk membantu menghambat perambatan api ke kawasan vegetasi lainnya.
Upaya tersebut dilakukan bersamaan dengan pemadaman melalui udara menggunakan helikopter atau water bombing sejak Jumat (23/10/2026).
Baca Juga: [FULL] Kesaksian Warga Barito Kuala, Api Karhutla Hanya 10 Meter dari Rumah | KOMPAS PETANG
Pemadaman Manual Terkendala MedanGubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengatakan, kondisi medan dan keterbatasan sumber air menjadi tantangan dalam upaya memadamkan kebakaran di Gunung Ciremai. Akses menuju puncak yang sulit dilalui membuat pemadaman secara manual tidak mudah dilakukan.
“Kalau manual, naik ke gunungnya bagaimana? Kemudian di puncaknya memadamkan api pakai apa? Sumber airnya kan tidak ada. Andai kata pun punya alat, berapa orang yang punya kemampuan naik ke puncak gunung?,” ujar Dedi, dikutip dari Antara, Sabtu (24/10).
Baca Juga: Polisi Tetapkan Anggota DPRD Mempawah sebagai Tersangka Kasus Karhutla | KOMPAS MALAM
Untuk mendukung pemadaman dari udara, helikopter dikerahkan dengan dukungan Kementerian Pertahanan, Mabes TNI, TNI Angkatan Udara, dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
Penggunaan helikopter menjadi salah satu upaya untuk menjangkau lokasi yang sulit didatangi personel. Sementara itu, pembersihan kanal alami dilakukan di lereng gunung sebagai langkah pendukung dalam mengantisipasi perambatan api.
Luas Kebakaran Diperkirakan 30 HektareDedi Mulyadi menyebut luas kawasan yang terdampak kebakaran diperkirakan mencapai 30 hektare. Angka tersebut berbeda dari informasi sebelumnya yang menyebutkan luas area terbakar mencapai 60 hektare.
“Luas lahan yang terbakar mencapai 30 hektare, bukan 60 hektare. Setelah pemadaman sehari sebelumnya, titik api yang tersisa diperkirakan tinggal 20 persen, itu pun pada titik-titik api yang tidak terlalu rawan,” kata Dedi.
Baca Juga: Imbas Karhutla ISPA Meningkat, Menkes Perbanyak Alat Kesehatan | KOMPAS MALAM
Berdasarkan kondisi tersebut, Dedi Mulyadi menargetkan kebakaran di kawasan TNGC dapat dipadamkan sepenuhnya dalam waktu dua hari.
Penanganan dilakukan melalui kombinasi pemadaman dari udara dan pengerahan personel untuk mendukung upaya pengendalian kebakaran di kawasan lereng.
Pembersihan kanal alami diharapkan membantu menjaga aliran air ketika hujan turun. Keberadaan kanal yang tidak terhambat sampah maupun material kering diharapkan dapat mendukung fungsi sekat bakar alami.
Meski demikian, proses pemadaman masih menghadapi tantangan berupa medan yang sulit dijangkau dan keterbatasan sumber air di sekitar titik api. Penanganan karhutla dilakukan melalui sejumlah upaya yang disesuaikan dengan kondisi kawasan terdampak.
Baca Juga: Gubernur Jambi Tinjau Karhutla, Petugas Hadapi Minimnya Sumber Air | KOMPAS SIANG
Download KompasTV Apps di TV kamu, sekarang juga di https://app.kompas.tv/. Satu apps untuk semua Video Premium, Breaking News, dan Live Streaming 24/7 dari Kompas Gramedia.
Penulis : Laela Putri Rahmadani Editor : Gading-Persada
Sumber : Antara
- karhutla ciremai
- pemprov jawa barat
- taman nasional gunung ciremai
- dedi mulyadi






Komentar (0)