Jakarta, CNBC Indonesia - Sebanyak tujuh orang tewas dan 27 lainnya terluka setelah orang-orang bersenjata menyerang para pelayat dalam upacara pemakaman di Gereja Ortodoks Yunani Santo George, wilayah Karak, Yordania. Serangan ini memicu kecaman dari 11 negara Arab dan sejumlah organisasi regional, sekaligus mendorong pemerintah Yordania menetapkan tiga hari berkabung nasional.
Melansir Anadolu Agency (AA), Perdana Menteri Yordania Jafar Hassan menetapkan masa berkabung mulai Jumat (23/10/2026) dan memerintahkan pengibaran bendera setengah tiang di kementerian serta lembaga publik.
Pemerintah menyebut keputusan tersebut mencerminkan "kesedihan seluruh rakyat Yordania dan solidaritas mereka dalam tragedi yang menyakitkan ini."
Juru bicara pemerintah sekaligus Menteri Komunikasi Mohammad Momani mengatakan penyelidik masih mendalami kemungkinan keterkaitan para pelaku dengan organisasi tertentu. Ia mengaitkan serangan tersebut dengan "ideologi ekstremis takfiri", tetapi menegaskan identitas dan afiliasi para penyerang belum dipastikan. Hasil penyelidikan akan diumumkan setelah proses tersebut rampung.
Menurut otoritas keamanan Yordania, sejumlah orang bersenjata melepaskan tembakan ke arah para pelayat di desa Hamoud, Karak, wilayah selatan negara itu.
Sementara, media penyiaran publik Al-Mamlaka TV, mengutip sumber anonim, melaporkan dua penyerang keluar dari sebuah kendaraan sebelum menembaki orang-orang yang menghadiri pemakaman. Aparat kini memburu para pelaku dan pihak lain yang diduga terlibat.
Raja Abdullah II mengunjungi korban luka di Rumah Sakit Pemerintah Karak pada Jumat malam. Sebelumnya, ia berjanji menjatuhkan hukuman "paling berat" kepada pihak yang bertanggung jawab. Menteri Dalam Negeri Mazin Al Farrayeh menegaskan aparat bekerja tanpa henti untuk menemukan para penyerang, tetapi memperingatkan bahwa masih terlalu dini untuk memastikan identitas maupun afiliasi mereka.
Kecaman datang dari 11 negara Arab, yakni Lebanon, Suriah, Irak, Palestina, Mesir, Uni Emirat Arab, Oman, Kuwait, Qatar, Arab Saudi, dan Bahrain. Liga Arab serta Dewan Menteri Dalam Negeri Arab juga menyatakan solidaritas kepada Yordania dan menolak upaya memicu perpecahan.
Sekretaris Jenderal Liga Arab Nabil Fahmy menyebut serangan terhadap tempat ibadah sebagai "tindakan teroris yang tidak dapat diterima dan kejahatan yang dikutuk oleh standar apa pun."
Presiden Lebanon Joseph Aoun menegaskan, "Terorisme tidak mengenal agama maupun tanah air." Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi juga menyatakan dukungan kepada Yordania dalam menghadapi "segala bentuk kekerasan dan terorisme". Sementara itu, Suriah, Irak, Palestina, dan negara-negara Teluk turut mengecam serangan serta mendukung upaya menjaga keamanan dan stabilitas Yordania.
Di tengah gelombang kecaman tersebut, Momani menegaskan umat Kristen merupakan "bagian integral dan tak terpisahkan dari tatanan nasional Yordania", dengan akar kuat dalam sejarah dan identitas negara itu. Pemerintah menekankan bahwa serangan terhadap tempat ibadah tidak boleh merusak persatuan masyarakat maupun memicu perpecahan antar umat beragama.
(dce)





Komentar (0)