Peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2026 menjadi momentum istimewa bagi konsolidasi dan apresiasi peran santri di Jawa Barat.
Dalam rangkaian peringatan HSN yang dihadiri sekitar 1.000 peserta lintas sektor di Hotel Aston, Cirebon, Rais Syuriah PBNU sekaligus Pengasuh Pesantren Bina Insan Mulia, KH. Imam Jazuli, Lc., M.A., memberikan penghargaan Imam Jazuli Award 2026 kepada 10 tokoh inspiratif dan berpengaruh se-Jawa Barat.
- Pasar Baru, Glodok Pecinan, dan Kota Tua Bakal Dijadikan Kawasan Ekonomi Kreatif
- Inklusi Keuangan Jakarta Tembus 99,74 Persen
- ESDM Revisi Perpres Impor Minyak, Libatkan BLU dalam Pengadaan
Acara tersebut menyatukan kalangan birokrasi, organisasi masyarakat (ormas), perwakilan pemerintah, hingga profesional untuk memperkuat kolaborasi demi pembangunan Jawa Barat yang lebih religius, maju, dan harmonis.
Kiai Imam Jazuli menyampaikan bahwa HSN bukan sekadar momentum seremonial untuk mengenang sejarah kepahlawanan masa lalu, melainkan refleksi atas sejauh mana nilai-nilai pesantren mampu menjawab tantangan zaman.
.rec-desc {padding: 7px !important;}"Hari Santri Nasional (HSN) bukan sekadar momentum seremonial untuk mengenang sejarah kepahlawanan masa lalu. Di tengah dinamika zaman yang kian kompleks, HSN menjadi cermin reflektif untuk melihat sejauh mana nilai-nilai pesantren mampu mewujud menjadi solusi nyata bagi umat," ujar KH. Imam Jazuli.
Ia menambahkan bahwa pemberian penghargaan ini merupakan bentuk inisiatif dan apresiasi pribadi atas kontribusi nyata para tokoh yang telah menjadi inspirasi bagi generasi muda.
"Untuk menghargai kontribusi para santri yang kini menjadi mata air inspiratif bagi santri muda itulah, kami berinisiatif dan berikhtiar kecil untuk memberikan apresiasi, semacam ungkapan kekaguman secara pribadi untuk tokoh-tokoh tersebut dengan Imam Jazuli Award 2026 kepada para pejuang peradaban. Penghargaan untuk kategori Tokoh Inspiratif & Berpengaruh di Jawa Barat ini membuktikan bahwa rahim pesantren tidak pernah berhenti melahirkan pemimpin, pemikir, dan penggerak sosial yang transformatif," tuturnya.
Kiai Imam Jazuli juga menegaskan bahwa latar belakang tradisi pesantren tidak pernah membatasi kiprah para santri di panggung nasional.
"Penerima penghargaan membuktikan bahwa sarung dan kitab kuning bukanlah pembatas, melainkan fondasi kokoh untuk melompat tinggi dan mewarnai kebijakan negara, memajukan pendidikan, serta memperjuangkan keadilan sosial," kata Rais Syuriah PBNU tersebut.
Berikut adalah 10 tokoh inspiratif penerima penghargaan beserta rekam jejak dan kontribusinya:
Dr. KH. Cucun Ahmad Syamsurijal
Alumnus Pondok Pesantren Cipasung, Tasikmalaya, dan penyandang gelar Doktor Administrasi Publik Unpad.Saat ini menjabat sebagai Wakil Ketua DPR RI, ia dinilai konsisten mengawal kebijakan yang berpihak pada kaum sarungan, termasuk menjadi aktor kunci di balik pengesahan dan pengawalan regulasi Dana Abadi Pesantren di tingkat nasional.
Dr. KH. Maman Imanulhaq, M.M.
Alumnus PP Baitul Arqom Bandung dan PP Bahrul Ulum Tambak Beras Jombang yang menyelesaikan doktor di Unusia. Pengasuh PP Al-Mizan Majalengka sekaligus Anggota DPR RI ini dikenal vokal memperjuangkan hak-hak kemanusiaan, toleransi, serta perlindungan anak dan perempuan.KH. Dedi Wahidi, S.Pd.
Alumnus PP Babakan Ciwaringin Cirebon dan UGJ Cirebon. Sebagai legislator senior DPR RI dan Pengasuh PP Kampus Hijau Kamplongan, beliau berkontribusi nyata dalam pembangunan infrastruktur pendidikan pesantren di wilayah pesisir Jawa Barat serta mendorong kemandirian ekonomi berbasis madrasah.KH. Juhadi Muhammad, S.H. Alumnus PP Lirboyo Kediri yang menakhodai Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Barat. Beliau dinilai sukses melakukan konsolidasi organisasi, pemberdayaan ekonomi umat, penguatan moderasi beragama, dan digitalisasi tata kelola lembaga keagamaan di Jawa Barat.
Prof. Dr. KH. Abun Bunyamin, Alumnus PP Cipasung Tasikmalaya dan Guru Besar ilmu agama Islam. Pengasuh PP Al-Muhajirin Purwakarta ini menggagas model pendidikan terpadu yang memadukan keilmuan Islam klasik, modernitas, dan sains yang kini menjadi rujukan sekolah Islam modern di Jawa Barat.
Addin Jauharudin (Gus Addin), Alumnus PP Darul Rahman Jakarta dan Ketua Umum PP GP Ansor. Ia dinilai berhasil menggerakkan jutaan kader muda NU melalui inisiatif BUMA dan Ansor University untuk mendorong kepemimpinan, adaptasi teknologi digital, serta kemandirian ekonomi kader.
KH. Husein Muhammad,
Alumnus PP Lirboyo, PP Ali Maksum Krapyak, PTIQ Jakarta, dan Universitas Al-Azhar Kairo. Pengasuh PP Dar al-Tauhid Cirebon yang dikenal sebagai "Kiai Feminis" ini berkonstitusi lewat pemikiran progresif mengenai kesetaraan gender dalam Islam dan fiqih emansipatoris yang diakui secara internasional.Drs. H. Imron Rosyadi, M.Ag, Alumnus PP Babakan Ciwaringin yang menjabat sebagai Bupati Cirebon dua periode.
Dalam kepemimpinannya, ia berhasil menyelaraskan program pemerintah daerah dengan dunia pesantren serta memperkuat jaring pengaman sosial bagi masyarakat.
Nyai Hj. Masriyah Amva
Pemimpin PP Kebon Jambu Al-Islamy Cirebon. Beliau menginspirasi publik lewat karya sastra sufistik, pembelaan hak-hak perempuan, serta pembuktian bahwa ulama perempuan memiliki otoritas keagamaan yang setara dalam membimbing masyarakat.KH. Muhammad Musthofa Aqiel Sirodj,
Pengasuh PP KHAS Kempek Cirebon dan Ketua Umum Majelis Dzikir Hubbul Wathon (MDHW). Beliau konsisten menjembatani komunikasi antara ulama dan umara serta membumikan nilai-nilai nasionalisme di kalangan santri akar rumput demi menjaga stabilitas kebangsaan.Menutup penjelasannya, KH. Imam Jazuli berharap penghargaan ini dapat menjadi pemantik semangat bagi generasi santri mendatang untuk terus mengabdi bagi bangsa dan negara.
"Apresiasi kecil ini — dengan terpaksa menggunakan nama saya sendiri, yaitu Imam Jazuli Award 2026 — sekali lagi adalah bentuk ungkapan kekaguman secara pribadi. Kami berharap penghargaan ini bukan sekadar akhir dari pencapaian, melainkan estafet pengingat bagi generasi santri masa kini untuk terus merawat tradisi, merespons modernisasi, dan tiada henti mengabdi pada negeri," pungkasnya.





Komentar (0)