Tel Aviv: Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan negaranya harus bersiap menghadapi berakhirnya bantuan militer Amerika Serikat (AS) yang nilainya mencapai puluhan miliar dolar, dan menyebut hal itu kini hanya “tinggal menunggu waktu."
Berbicara kepada stasiun penyiaran bisnis Channel 10 pada Jumat, 23 Oktober 2026, beberapa hari menjelang pemilihan umum yang berlangsung ketat, Netanyahu mengatakan dirinya telah memerintahkan persiapan untuk menghadapi kemungkinan sanksi ekonomi dan perbankan, termasuk dengan menjajaki teknologi keuangan alternatif.
“Jika Anda berpikir kami akan terus menerima bantuan yang berhasil saya amankan dua kali, yakni puluhan miliar dolar bantuan Amerika untuk anggaran pertahanan, bersiaplah dan biasakan diri dengan kenyataan bahwa hal itu tidak akan terjadi, karena Amerika telah berubah,” kata Netanyahu, dikutip dari Anadolu Agency,
Pernyataan tersebut tampaknya merujuk pada meningkatnya penolakan di AS terhadap bantuan tersebut di tengah genosida Israel di Gaza dan perlakuan terhadap warga Palestina.
“Ini sudah berakhir, dan bantuan itu akan berakhir. Ini hanya masalah waktu,” ujarnya.
Netanyahu tidak menyebutkan kapan bantuan tersebut akan berakhir ataupun mengumumkan keputusan resmi dari pemerintah AS. Ia justru menyerukan persiapan untuk menghadapi kemungkinan penghentian bantuan pada masa mendatang.
Terkait kemungkinan sanksi, Netanyahu mengatakan Israel perlu mengembangkan mekanisme ekonomi dan keuangan alternatif.
“Anda harus memahami bahwa sanksi bisa saja diberlakukan, termasuk sanksi perbankan. Kita perlu mempersiapkan perekonomian yang mampu mengatasi sanksi tersebut,” katanya.
Ketika ditanya apakah teknologi blockchain dapat menjadi alternatif untuk menghadapi sanksi ekonomi, Netanyahu menjawab, “Ya, itu salah satu caranya. Dan saya sudah meminta agar sebuah rencana disiapkan.” Oposisi Dorong Pergantian Pemerintahan Netanyahu Pemimpin Partai Demokrat yang beroposisi, Yair Golan, mengkritik pernyataan Netanyahu melalui platform media sosial X. Ia menuduh perdana menteri tersebut tidak memahami kenyataan yang dihadapi Israel.
Golan berpendapat bahwa untuk mencegah sanksi ekonomi, Israel perlu memerangi “terorisme Yahudi” yang merusak reputasi internasional negara itu, mempertahankan aliansi strategis, dan mengganti pemerintahan dalam pemilihan umum pekan depan.
Ia menyerukan pembentukan pemerintahan baru “tanpa Netanyahu, Ben-Gvir, dan Deri," merujuk pada Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben-Gvir dan pemimpin Partai Shas, Aryeh Deri.
Pernyataan tersebut disampaikan empat hari sebelum pemilihan parlemen Israel pada Selasa, di tengah perdebatan mengenai hubungan dengan sekutu-sekutu Barat dan potensi dampak sanksi ekonomi.
Berdasarkan perjanjian yang ditandatangani dengan Washington pada 2016, Israel menerima bantuan militer senilai USD38 miliar selama periode 10 tahun yang dijadwalkan berakhir pada 2028.
Netanyahu sebelumnya juga menyerukan pengurangan ketergantungan Israel pada bantuan militer AS serta penguatan industri pertahanan dalam negeri.
Baca juga: Oposisi Israel Sebut Netanyahu Tak Punya Legitimasi untuk Lancarkan Perang Baru





Komentar (0)