LOMBOK TIMUR -- Limbah pertanian berupa tongkol jagung dan sekam padi yang sebelumnya dibakar atau dibiarkan menumpuk kini mulai dimanfaatkan menjadi bahan pembenah tanah di Kawasan Transmigrasi Selaparang, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB). Melalui pengolahan menjadi biochar, petani memiliki alternatif untuk memanfaatkan sisa hasil pertanian sekaligus menjaga kelembapan dan kesuburan tanah.
Pemanfaatan limbah tersebut diperkenalkan melalui pelatihan yang dilakukan Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 21 Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS). Program ini memberikan keterampilan kepada kelompok tani untuk mengolah limbah pertanian menjadi arang hayati yang dapat digunakan kembali di lahan mereka.
Baca Juga
Mahasiswa Jerman dan Akademisi RI Rancang Masa Depan Kawasan Transmigrasi Barelang
Ekspedisi Patriot Undip Blusukan ke Daerah Transmigrasi Sumsel, Beri Pendidikan Kesehatan Lingkungan
Ketua Kelompok Tani Cempaka Putih, Desa Seruni Mumbul, Supriadi mengatakan, selama ini petani belum banyak memanfaatkan tongkol jagung setelah panen. Sebagian limbah dibakar langsung di ladang, sementara sisanya dibiarkan menumpuk.
“Selama ini limbah tongkol jagung hanya kami bakar begitu saja di ladang atau dibiarkan menumpuk hingga mengganggu lingkungan. Melalui pelatihan dan pengenalan teknologi biochar dari Tim Ekspedisi Patriot ITS ini, kami jadi paham limbah tersebut bisa diolah kembali menjadi pembenah tanah yang sangat bermanfaat untuk menjaga kelembaban serta kesuburan tanah pertanian kami,” ujar Supriadi dalam keterangannya, Jumat (23/10/2026).
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Pengolahan limbah menjadi biochar memberikan alternatif bagi petani untuk mengurangi praktik pembakaran sisa hasil pertanian. Bahan tersebut dapat dimanfaatkan sebagai pembenah tanah sehingga limbah yang sebelumnya tidak digunakan kembali memiliki fungsi dalam kegiatan budi daya.
Untuk mendukung penerapan teknologi tersebut, TEP 21 ITS membagikan delapan alat pembuat biochar kepada delapan desa di Kawasan Transmigrasi Selaparang. Setiap desa diwakili satu anggota kelompok tani yang mendapatkan pendampingan mengenai penggunaan alat.
Penerima manfaat ditentukan berdasarkan survei lapangan dan koordinasi dengan penyuluh pertanian. Pendekatan tersebut dilakukan agar teknologi yang diperkenalkan dapat dimanfaatkan oleh kelompok tani sesuai kebutuhan di wilayah masing-masing.
Ketua TEP 21 ITS Grasianto berharap petani dapat melanjutkan pemanfaatan teknologi biochar secara mandiri setelah program pendampingan berakhir. Dengan demikian, pengolahan limbah pertanian tidak hanya berlangsung selama kegiatan pelatihan.
“Harapannya, dengan adanya kegiatan ini, masyarakat kawasan dapat mengaplikasikan dan mengembangkan biochar secara mandiri dan berkelanjutan, meskipun Tim Ekspedisi Patriot ITS sudah tidak berada di sana lagi,” ujar Grasianto.
Program tersebut sejalan dengan upaya pemerintah menghubungkan inovasi akademik dengan kebutuhan masyarakat di kawasan transmigrasi. Keterlibatan perguruan tinggi diharapkan dapat menghasilkan teknologi yang mudah diterapkan dan memberikan manfaat bagi kegiatan ekonomi masyarakat.
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono sebelumnya menekankan pentingnya kerja sama akademisi dan pemerintah dalam merumuskan kebijakan berdasarkan kondisi lapangan. Menurut dia, masukan akademik dan data empiris diperlukan agar kebijakan dapat dilaksanakan secara efektif.
“Mudah-mudahan ketika masukan akademis bertemu dengan kebijakan strategis di tingkat pusat, akan lahir kebijakan yang benar-benar efektif dan dapat dijalankan dengan baik. Data empiris dari lapangan akan menjadi fondasi penting dalam menyusun kebijakan yang tepat sasaran,” ujar Agus di Jakarta, 30 Juli 2026.
Menteri Transmigrasi M Iftitah Sulaiman Suryanagara juga menekankan pentingnya hasil nyata dari pelaksanaan Ekspedisi Patriot di kawasan transmigrasi. Ia meminta peserta memanfaatkan masa penugasan untuk menghasilkan kegiatan yang bermanfaat bagi masyarakat.
“Saya memberikan satu dorongan kepada seluruh peserta Tim Ekspedisi Patriot: bergeraklah setiap hari. Waktu kita terbatas, hanya empat bulan. Berikan totalitas dan lakukan yang terbaik selama berada di kawasan transmigrasi. Harus ada sesuatu yang dikerjakan, ada dampaknya, dan ada manfaatnya,” kata Iftitah di Jakarta, beberapa waktu lalu.
Pemanfaatan biochar di Kawasan Transmigrasi Selaparang membuka peluang pengelolaan limbah pertanian yang lebih produktif. Keberlanjutan penerapannya akan bergantung pada kemampuan kelompok tani mengoperasikan peralatan dan memanfaatkan hasil pengolahan secara mandiri.
Komentar (0)