Para pegiat satwa liar akuatik merayakan Hari Lumba-lumba Air Tawar Internasional setiap 24 Oktober. Dari tujuh spesies lumba-lumba air tawar di dunia, salah satunya berada di Indonesia, yaitu pesut (Orcaella brevirostris).
Habitat pesut antara lain berada di Sungai Mahakam, Kalimantan Timur (Kaltim), sehingga disebut pesut mahakam. Samarinda, ibu kota Kaltim, menjadi lokasi Lokakarya Penetapan Kawasan Perlindungan Cetacea Air Tawar Asia, 19-24 Oktober 2009. Berdasarkan catatan Lembaga Konservasi Alam Internasional (IUCN), lokakarya itu menetapkan 24 Oktober sebagai Hari Lumba-lumba Air Tawar Internasional.
IUCN mencatat, pesut termasuk satu dari beberapa spesies anggota Ordo Cetacea air tawar atau mamalia air tawar di dunia yang terancam punah. Habitat lumba-lumba air tawar berada di Benua Asia dan Benua Amerika.
Di Benua Amerika, terdapat dua spesies lumba-lumba air tawar. Lumba-lumba amazon (Inia geoffrensis) hidup di Sungai Amazon di Brasil, Peru, Ekuador, dan Kolombia. Lumba-lumba amazon juga hidup di Sungai Araguaia-Tocantins di Brasil timur yang tidak berhubungan dengan Sungai Amazon. Tucuxi (Sotalia fluviatilis) ditemukan di daerah aliran Sungai Amazon hingga ke pedalaman selatan Peru, timur Ekuador, dan tenggara Kolombia.
Di Benua Asia, terdapat lima spesies lumba-lumba air tawar. Baiji atau lumba-lumba sungai yangtze (Lipotes vexillifer) dan pesut tak bersirip sungai yangtze (Neophocaena asiaeorientalis) terdapat di Sungai Yangtze, China. Susu atau lumba-lumba sungai gangga (Platanista gangetica) terdapat di Sungai Gangga-Brahmaputra-Megna dan Karnaphuli-Sangu di Bangladesh, India, dan Nepal. Bhulan atau lumba-lumba sungai indus (Platanista minor) ditemukan di Sungai Indus Pakistan dan Sungai Beas di Punjab, India.
Spesies Orcaella brevirostris memiliki dua nama, yaitu pesut dan lumba-lumba irrawaddy yang hidup di Sungai Ayeyarwady di Myanmar dan Sungai Mekong di Kamboja dan Laos. Pesut juga ditemukan di Sumatera dan Jawa. Selain di sungai air tawar, pesut juga ditemukan hidup di pesisir pantai.
Riset Nur Rachman dari Daemeter Consulting dan rekan-rekan yang dimuat dalam jurnal Bio Palembanica edisi 30 Juni 2026 menunjukkan, sebanyak 24 catatan kematian pesut didokumentasikan di Sumatera dan Jawa sepanjang 2011-2025. Sebagian besar berasal dari Sumatera, khususnya Riau, Kepulauan Riau, Sumatera Selatan, dan Bangka Belitung. Lebih sedikit kasus tercatat di Jawa, yakni Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.
Sebagai contoh, di Riau, petugas Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Riau pernah mengevakuasi seekor pesut di Desa Segati, Kecamatan Langgam, Kabupaten Pelalawan, Riau, 19 September 2020. Pesut jantan berukuran 2,2 meter diperkirakan berusia 30 tahun. Setelah diobservasi, pesut dilepasliarkan kembali di aliran Sungai Kampar (Kompas.com, 20/9/2020).
Pemisahan menjadi subpopulasi pesut mahakam diperkirakan terjadi pada 303.000 tahun lalu.
Mengapa spesies Orcaella brevirostris bisa berada di sungai-sungai terpisah itu sudah diteliti oleh Michael R McGowen dari Museum Smithsonian, Amerika Serikat, dan rekan-rekan peneliti lainnya. Hasil penelitian itu dimuat dalam jurnal Marine Mammal Science edisi 29 Juli 2024.
Hasil riset genetik menunjukkan, lumba-lumba air tawar di Asia Tenggara berasal dari nenek moyang yang sama ketika Semenanjung Malaysia, Sumatera, Jawa, Kalimantan, Bali, Madura, serta pulau-pulau kecil di sekitarnya bergabung dalam landas benua yang disebut Paparan Sunda. Lumba-lumba irrawaddy yang diperkirakan berasal dari Sungai Mekong kuno mulai menyebar 764.000 tahun lalu. Pemisahan menjadi subpopulasi pesut mahakam diperkirakan terjadi pada 303.000 tahun lalu.
Dalam Daftar Merah IUCN Oktober 2025, status pesut mahakam dan baiji yang paling menyedihkan. Baiji bahkan disebutkan statusnya mungkin punah secara fungsional. Spesies lainnya terancam punah.
Pesut mahakam cukup intens diberitakan Harian Kompas. Berita paling awal tentang pesut mahakam termuat dalam arsip 25 Juli 1972. Arsip itu memberitakan hasil peninjauan Wakil Presiden dan Direktur Operasi Sea Life Incorporated Amerika Serikat Edward W Shalllenberger ke Sungai Mahakam untuk melihat pesut mahakam. Ia menawarkan survei untuk mengetahui jumlah pesut dan memberikan bantuan pelatih pesut untuk kepentingan turisme.
Pesut mahakam, berdasarkan catatan IUCN, pada awal tahun 1980-an, masih sering dilaporkan di Samarinda. Namun, pada awal tahun 1990-an mereka menghilang dengan cepat dan sekarang hanya terlihat di hulu sekitar 180 km dari pantai.
Hingga tahun 2026, data dari Yayasan Konservasi Rare Aquatic Species of Indonesia (RASI) menunjukkan, jumlah pesut mahakam turun dari 74 ekor tahun 2014 menjadi 65 ekor tahun 2026 (Kompas.id, 7/5/2026).
Data IUCN yang mengutip riset Kreb dan rekan-rekan (2007) menyebutkan, ancaman utama bagi subpopulasi pesut mahakam terbanyak karena terjerat jaring insang yang menyebabkan sekitar 66 persen dari 46 kematian yang didokumentasikan antara tahun 1995 dan 2005. Penyebab lainnya pembunuhan yang disengaja (9 persen), ditabrak kapal (7 persen), penangkapan ikan dengan listrik dan kail pancing masing-masing menyebabkan kematian 2 persen. Sebanyak 14 persen lainnya karena sebab lain, termasuk untuk obat tradisional.
Kreb dan rekan-rekan seperti dikutip IUCN juga mencatat, dari tahun 1974 hingga 1988, 28 lumba-lumba ditangkap hidup-hidup dan dibawa ke Ancol, Jakarta. Arsip Harian Kompas pada 17 Mei dan 20 Mei 1978 juga mendokumentasikan penangkapan pesut mahakam ke Ancol tersebut. Dalam berita disebutkan, tiga pesut mahakam tampil perdana pada 19 Mei 1978 di Gelanggang Samudera Ancol yang dihadiri Gubernur DKI Jakarta Tjokropranolo. Pertunjukan kecerdasan pesut disebut sebagai yang pertama di dunia saat itu.
Pesut itu terdiri atas dua jantan dan seekor betina, masing-masing bernama Semayang, Mahakam, dan Kutai. Mereka ditangkap di Sungai Mahakam dan Danau Semayang, Kaltim, akhir tahun 1974. Saat itu ditangkap enam ekor, tiga di antaranya mati karena stres selama pengangkutan ke Jakarta. Semayang bahkan bisa melahirkan di Gelanggang Samudera Ancol, 4 Juli 1979.
Sekarang pertunjukan lumba-lumba baik air laut maupun air tawar seperti itu sudah berkurang jauh karena tidak sesuai dengan prinsip kesejahteraan hewan. Satwa liar itu seharusnya hidup bebas di habitatnya di Sungai Mahakam dan danau-danau di sekitarnya.
Namun, hidup di habitat juga tidak mudah bagi pesut mahakam sehingga jumlahnya terus menyusut. Oleh karena itu, intervensi pemerintah sangat dibutuhkan untuk membantu mereka hidup bebas di habitatnya.
Arsip Harian Kompas pada 16 Mei 1979 sudah memberitakan Menteri Pertanian telah menetapkan daerah seluas 62.500 hektar di Kecamatan Muara Kaman dan Sedulang di Kabupaten Kutai, Kaltim, sebagai cagar alam pesut mahakam. Wilayah cagar alam saat itu bahkan akan diperluas meliputi Danau Semayang dan Danau Melintang, Kaltim.
Tampaknya ancaman bagi kehidupan pesut mahakam tidak berkurang. IUCN, berdasarkan masukan para peneliti, telah memberikan rekomendasi untuk menyediakan habitat yang layak bagi pesut, seperti pembentukan area konservasi inti. Dalam area konservasi inti diberlakukan larangan penggunaan jarring insang, pelarangan tongkang batubara, patroli rutin untuk mengawasi penangkapan ilegal.
Peringatan Hari Lumba-lumba Air Tawar Internasional ini menjadi momentum bagi warga yang hidup di sekitar habitat pesut tentang pentingnya menjaga kelestariannya. Kelestarian pesut tak hanya menjadi kepentingan warga setempat, tetapi juga warga dunia.






Komentar (0)