REPUBLIKA.CO.ID, SEMARANG, – Pemerintah Kota Semarang terus mendorong pertumbuhan ekosistem perfilman daerah dengan menggelar Lawang Sewu Short Film Festival (LOFF) yang kini memasuki tahun kedua. Festival film pendek ini bertujuan untuk menggairahkan para sineas muda agar aktif berkreasi dan menghasilkan karya berkualitas.
Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti mengungkapkan apresiasinya terhadap kualitas film-film yang masuk sebagai finalis. "Katanya para expert, film-film yang masuk sebagai finalis itu bagus banget semua," ujar Agustina pada acara Malam Anugerah LOFF 2026 yang berlangsung di Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) Semarang, Jumat malam.
Menurut Agustina, tumbuhnya ekosistem perfilman akan semakin memperkuat citra Semarang sebagai kota sinema. Ia menekankan bahwa konsep kota sinema tidak hanya sebatas produksi film, menjadi lokasi syuting, atau melahirkan artis dari Kota Semarang. "Tidak hanya sekedar itu, tapi membangun ekosistem," tegasnya.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa ekosistem perfilman secara luas mencakup sektor perhotelan hingga pariwisata yang potensinya sangat besar di Kota Semarang. "Step by step. Kemudian, bisa menghadirkan banyak sekali production house untuk membuat film dan setting di sini, itu another step. Tahun depan kita akan buat lagi (LOFF, red.)," katanya.
Apresiasi Sutradara Hanung Bramantyo
Sutradara Hanung Bramantyo yang menjadi salah satu juri mengaku kagum dengan hasil film yang dibuat, terutama pada kategori pelajar. Ia menilai kualitas film yang dihasilkan luar biasa bagus untuk ukuran usia mereka. "Kaget. Karena masih SMA, tapi mereka sudah bisa membuat film sebagus-bagus itu. Ya, mungkin ukurannya zaman SMA saya, bikin film tuh enggak mungkin gitu," kenangnya.
Hanung menceritakan bahwa pada zamannya, peralatan pembuatan film seperti kamera dan kaset sangat mahal dan masih dianggap sebagai barang mewah. Terlepas dari peralatan film sekarang yang relatif lebih terjangkau, ia sangat mengapresiasi ide dan kreativitas anak-anak muda dalam membuat film pendek yang sangat berkualitas.
Potensi Semarang sebagai Hub Sinema
Anggota Komisi VII DPR RI Samuel Wattimena turut menyoroti banyaknya potensi Kota Semarang yang bisa terangkat melalui film. "Selain lokasi-lokasi film, tapi ada busana, ada wastra, ada kuliner, segala macam yang masih bisa diangkat bersama," jelasnya. Ia optimistis ke depannya Kota Semarang bisa menjadi hub perfilman dengan daerah-daerah lain di sekitarnya, sebagaimana Yogyakarta dan Bali.
Tercatat sebanyak 167 film pendek dari berbagai daerah mengikuti festival film tersebut untuk tiga kategori, yakni pelajar, mahasiswa, dan umum. Pada acara Malam Anugerah LOFF 2026, film pendek terbaik kategori pelajar diraih oleh "Sri Rejeki", kategori mahasiswa dimenangkan oleh "Curhatan Revi Siterusah", dan kategori umum jatuh kepada "Throughout These Cages".
Komentar (0)