Liputan6.com, Jakarta - Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berupaya memperkuat posisi ibu kota sebagai pusat industri perfilman Asia Tenggara melalui kolaborasi internasional, pengembangan fasilitas produksi, dan peningkatan daya saing sineas lokal. Dukungan Motion Picture Association (MPA) Amerika Serikat diharapkan dapat membuka akses lebih luas terhadap investasi, teknologi, serta jaringan industri film global.
Upaya tersebut dibahas dalam Seminar Indonesia Success Stories ke-2 yang menjadi bagian dari Jakarta Film Summit 2026 dan Jakarta Film Week 2026 di Jakarta, Kamis (22/10/2026). Forum ini mempertemukan unsur pemerintah, pelaku industri perfilman, investor, dan mitra internasional untuk memperkuat kerja sama serta mendorong pertumbuhan industri film nasional.
Advertisement
Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno menegaskan pentingnya kerja sama lintas negara dalam mewujudkan visi Jakarta sebagai kota sinema. Kemitraan dengan MPA dinilai dapat mendukung terciptanya ekosistem produksi yang lebih kompetitif dan berkelanjutan.
Salah satu upaya konkret yang dilakukan adalah mempromosikan potensi lokasi syuting melalui Jakarta Scouting Days, yang diselenggarakan oleh Jakarta Film Commission. Program ini bertujuan memperkenalkan beragam lokasi produksi di Jakarta sekaligus mempermudah rumah produksi dalam negeri dan internasional dalam mengembangkan proyek film.
Kehadiran Vice President Motion Picture Association Amerika Serikat, Trevor Fernandez, turut memperkuat kerja sama tersebut. Kolaborasi dengan industri perfilman Amerika Serikat membuka peluang pertukaran pengetahuan, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, pemanfaatan teknologi, serta penguatan perlindungan hak kekayaan intelektual.
Potensi pasar domestik menjadi salah satu modal utama untuk mengembangkan industri perfilman Indonesia. Dalam seminar tersebut, Duta Besar RI untuk Amerika Serikat Indroyono Soesilo memaparkan bahwa film Indonesia menarik 82,6 juta penonton bioskop sepanjang 2025, atau sekitar 64 persen dari total kunjungan penonton.
Prospek pertumbuhan industri juga tercermin dalam data PwC Global Entertainment & Media Outlook 2026–2030. Pendapatan box office Indonesia diproyeksikan meningkat dari USD 353 juta pada 2025 menjadi USD 452 juta pada 2030, dengan pertumbuhan tahunan sebesar 5,1 persen. Pada periode yang sama, pendapatan layanan streaming diperkirakan naik dari US$ 1,1 miliar menjadi USD 1,7 miliar.
Besarnya pasar tersebut membuka peluang bagi Jakarta untuk berkembang melampaui perannya sebagai lokasi syuting. Ibu kota berpotensi menjadi pusat aktivitas bisnis perfilman yang mempertemukan sineas, investor, distributor, dan mitra internasional dalam satu ekosistem.
Dalam paparannya, Indroyono juga menyoroti penyelenggaraan Indonesia-U.S. Bilateral Digital Technology Forum on Creative Economy ke-4 di Los Angeles pada awal Oktober 2026. Forum itu melibatkan pemerintah Indonesia, Pemprov DKI Jakarta, perguruan tinggi, dan pelaku industri kreatif, termasuk Warner Bros., Hollywood Chamber of Commerce, serta Pemerintah Kota Los Angeles.
Salah satu rekomendasi yang mengemuka dalam forum tersebut adalah penyediaan insentif produksi yang jelas, fasilitas memadai, dan layanan satu pintu untuk memenuhi kebutuhan produksi film. Jakarta Film Commission dapat mengambil peran strategis dalam mengoordinasikan berbagai kebutuhan tersebut sekaligus memberikan kepastian layanan bagi rumah produksi.
Selain memperkuat ekosistem produksi, Jakarta juga berupaya membangun reputasi sebagai ruang pertemuan bagi sineas dari berbagai negara. Jakarta Film Week 2026 menghadirkan 157 film dari 59 negara serta menggelar program masterclass bagi sineas dan pelaku industri. Rangkaian kegiatan ini menjadi sarana pertukaran gagasan, pengetahuan, dan peluang kerja sama di sektor perfilman.
Di sisi lain, perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) menghadirkan peluang sekaligus tantangan bagi industri kreatif. Teknologi ini dapat dimanfaatkan dalam penulisan naskah, pembuatan storyboard, pengembangan efek visual, hingga pascaproduksi. Namun, penerapannya juga memunculkan persoalan terkait perlindungan hak cipta dan keberlangsungan pekerjaan para pekerja kreatif.
Oleh karena itu, kerja sama dengan mitra Amerika Serikat dalam pelatihan teknologi AI, pengembangan produksi lanjutan, dan perlindungan hak cipta menjadi salah satu aspek penting dalam memperkuat daya saing industri perfilman. Besarnya skala industri film dan televisi Amerika Serikat turut memberikan gambaran mengenai potensi ekonomi sektor ini, dengan dukungan terhadap sekitar dua juta lapangan kerja serta pembayaran US$ 202 miliar dalam bentuk gaji dan upah.
Dengan dukungan pasar domestik, kekayaan cerita lokal, dan peluang kemitraan internasional, Jakarta memiliki modal untuk mengambil peran lebih besar dalam industri perfilman Asia Tenggara. Kolaborasi Pemprov DKI Jakarta dengan MPA dan para pemangku kepentingan diharapkan mampu memperkuat ekosistem produksi, menarik investasi, serta meningkatkan daya saing sineas Indonesia di pasar global.
Ambisi menjadikan Jakarta sebagai kota sinema pun tidak cukup diwujudkan dengan meningkatkan jumlah produksi film. Jakarta juga perlu menyediakan kepastian bagi investor, ruang berkembang bagi pekerja kreatif, perlindungan terhadap karya intelektual, serta akses bagi cerita Indonesia untuk menjangkau penonton dunia.





Komentar (0)