Pantau - PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI mencatat penurunan konsumsi energi sebesar 15,39 persen sepanjang 2025 melalui penguatan efisiensi operasional, pemanfaatan energi terbarukan, dan pengembangan layanan berbasis teknologi.
Berdasarkan Laporan Keberlanjutan KAI 2025, total konsumsi energi perusahaan turun dari 11.945.467 gigajoule (GJ) pada 2024 menjadi 10.107.302 GJ pada 2025.
Penurunan tersebut setara dengan pengurangan konsumsi energi sebanyak 1.838.165 GJ dibandingkan tahun sebelumnya.
Capaian itu disampaikan KAI dalam rangka memperingati Hari Energi Sedunia yang diperingati setiap 22 Oktober.
Selain menekan konsumsi energi, KAI telah mengoperasikan 113 unit Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di 92 lokasi operasional dengan total kapasitas terpasang mencapai 4.430,65 kilowatt peak (kWp).
Perusahaan juga memperluas penggunaan teknologi pengenalan wajah untuk proses keberangkatan penumpang serta menyediakan fasilitas pengisian ulang air minum gratis di sejumlah stasiun.
Konsumsi Energi KAI Turun 1,83 Juta Gigajoule pada 2025KAI mencatat penurunan konsumsi energi secara tahunan berdasarkan data yang tercantum dalam Laporan Keberlanjutan 2025.
Pada 2024, total konsumsi energi perusahaan tercatat sebesar 11.945.467 GJ.
Angka tersebut menurun menjadi 10.107.302 GJ pada 2025 atau berkurang sebanyak 1.838.165 GJ.
Dengan demikian, konsumsi energi KAI mengalami penurunan sebesar 15,39 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Selain penurunan konsumsi energi secara keseluruhan, KAI juga mencatat perbaikan indikator intensitas energi per pelanggan.
Pada 2024, intensitas energi perusahaan tercatat sebesar 0,0263 GJ per pelanggan.
Sementara itu, pada 2025, intensitas energi menurun menjadi 0,0205 GJ per pelanggan.
Penurunan tersebut mencapai sekitar 22,05 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Data tersebut menunjukkan bahwa jumlah energi yang digunakan perusahaan jika dihitung berdasarkan setiap pelanggan menjadi lebih rendah pada 2025.
Vice President Corporate Communication KAI, Anne Purba, menjelaskan bahwa peningkatan pelayanan perusahaan harus berjalan seiring dengan pengelolaan energi yang semakin efisien.
Menurut Anne, pemantauan konsumsi energi, pemanfaatan teknologi, dan pengembangan sumber energi alternatif menjadi bagian dari strategi perusahaan dalam mengendalikan penggunaan sumber daya.
"Efisiensi perlu diterjemahkan ke dalam keputusan operasional yang terukur. Kami melihat peluang pengelolaan energi dari fasilitas perusahaan, penggunaan teknologi, hingga cara pelanggan mengakses layanan. Setiap inisiatif memiliki manfaat yang berbeda, tetapi semuanya perlu diarahkan pada penggunaan sumber daya yang semakin bertanggung jawab," ujar Anne.
KAI Operasikan 113 PLTS di 92 Lokasi dengan Kapasitas 4,43 MWpSalah satu program utama KAI dalam mendukung pemanfaatan energi terbarukan adalah pengoperasian Pembangkit Listrik Tenaga Surya di berbagai fasilitas perusahaan.
Hingga periode yang dilaporkan, KAI telah mengoperasikan sebanyak 113 unit PLTS yang tersebar di 92 lokasi operasional.
Seluruh fasilitas tersebut memiliki total kapasitas terpasang sebesar 4.430,65 kWp atau sekitar 4,43 megawatt peak (MWp).
PLTS tersebut dimanfaatkan untuk membantu memenuhi kebutuhan listrik pada berbagai aset dan fasilitas operasional perusahaan.
Sejumlah lokasi pemanfaatan energi surya meliputi stasiun kereta api, balai yasa, kantor perusahaan, griya karya, depo, dan pusat penyimpanan arsip atau record center.
Pengoperasian PLTS menjadi bagian dari upaya KAI memperluas penggunaan sumber energi terbarukan dalam kegiatan operasional.
Selain mengembangkan pembangkit listrik tenaga surya, perusahaan juga melakukan efisiensi melalui pengelolaan konsumsi energi dan pemanfaatan teknologi.
KAI menilai bahwa penghematan energi tidak hanya bergantung pada penggunaan teknologi pembangkit listrik, tetapi juga dapat dilakukan melalui keputusan operasional sehari-hari.
Teknologi Pengenalan Wajah Hemat 13.888 Rol Kertas TiketSelain mengembangkan energi terbarukan, KAI memperkuat efisiensi penggunaan sumber daya melalui digitalisasi pelayanan penumpang.
Salah satu inovasi yang digunakan perusahaan adalah fasilitas Face Recognition Boarding Gate untuk mendukung proses keberangkatan pelanggan kereta api.
Teknologi tersebut memungkinkan pelanggan menggunakan sistem pengenalan wajah saat memasuki area keberangkatan tanpa harus bergantung pada pencetakan dokumen perjalanan berbahan kertas.
Sepanjang Semester I 2026, sebanyak 5.555.034 pelanggan Kereta Api Jarak Jauh tercatat memanfaatkan fasilitas tersebut.
Berdasarkan perhitungan perusahaan, penggunaan teknologi pengenalan wajah diperkirakan telah mengurangi kebutuhan sebanyak 13.888 rol kertas untuk dokumen keberangkatan selama periode tersebut.
Pengurangan penggunaan kertas itu juga menghasilkan efisiensi biaya operasional yang diperkirakan mencapai Rp203,80 juta.
Capaian tersebut menunjukkan manfaat digitalisasi dalam mengurangi konsumsi bahan sekaligus menekan pengeluaran operasional perusahaan.
Meski demikian, KAI menegaskan bahwa pengurangan penggunaan kertas tidak dapat secara otomatis disamakan dengan penghematan energi.
Dampak digitalisasi terhadap konsumsi energi tetap memerlukan penghitungan tersendiri agar manfaatnya dapat dinilai secara tepat.
KAI Sediakan 124 Fasilitas Isi Ulang Air Minum di 58 StasiunKAI juga mengembangkan fasilitas pendukung kebiasaan ramah lingkungan melalui penyediaan tempat pengisian ulang air minum gratis atau Water Station.
Fasilitas tersebut memungkinkan pelanggan membawa botol minum pakai ulang untuk diisi kembali selama berada di lingkungan stasiun.
Hingga Juni 2026, KAI telah menyediakan sebanyak 124 unit Water Station yang tersebar di 58 stasiun kereta api.
Seluruh fasilitas tersebut mencakup sebanyak 70 area pelayanan pelanggan.
Penyediaan fasilitas pengisian ulang air minum bertujuan memberikan alternatif bagi pelanggan untuk mengurangi penggunaan botol plastik sekali pakai.
KAI juga menghitung potensi pengurangan sampah plastik apabila sebagian pelanggan memanfaatkan fasilitas tersebut.
Berdasarkan estimasi konservatif perusahaan, apabila 10 persen pelanggan Kereta Api Jarak Jauh dan Lokal selama Semester I 2026 melakukan satu kali pengisian ulang air minum, potensi pengurangan penggunaan botol plastik sekali pakai dapat mencapai sekitar 2,99 juta botol.
Namun, angka 2,99 juta botol tersebut merupakan perkiraan potensi pengurangan sampah plastik, bukan jumlah pengurangan yang telah terealisasi.
Perhitungan tersebut menggunakan asumsi bahwa 10 persen pelanggan melakukan satu kali pengisian ulang air minum dengan botol pakai ulang.
Dengan demikian, angka tersebut tidak dapat dianggap sebagai data aktual jumlah pelanggan yang telah menggunakan fasilitas Water Station.
KAI Tegaskan Setiap Program Efisiensi Harus Memiliki Indikator TerukurAnne Purba menekankan bahwa setiap inisiatif pengelolaan energi dan sumber daya harus memiliki indikator yang jelas agar manfaatnya dapat dievaluasi.
Menurutnya, penurunan konsumsi energi, kapasitas PLTS, pengurangan penggunaan kertas, dan potensi pengurangan botol plastik merupakan indikator yang berbeda.
Penurunan konsumsi energi digunakan untuk mengukur perubahan kebutuhan energi perusahaan dari tahun ke tahun.
Sementara itu, kapasitas PLTS menunjukkan kemampuan terpasang pembangkit listrik tenaga surya yang dioperasikan KAI.
Pengurangan penggunaan kertas melalui layanan digital menjadi indikator efisiensi bahan dan biaya operasional.
Adapun potensi pengurangan botol plastik melalui fasilitas pengisian ulang air minum berkaitan dengan upaya menekan penggunaan kemasan sekali pakai.
KAI menilai seluruh indikator tersebut perlu dilihat secara terpisah tetapi saling melengkapi dalam mengevaluasi pelaksanaan program keberlanjutan perusahaan.
Dengan pendekatan tersebut, perusahaan dapat menilai manfaat masing-masing program tanpa mencampurkan hasil penghematan energi dengan pengurangan penggunaan bahan lainnya.
KAI Ajak Pelanggan Dukung Kebiasaan Ramah LingkunganSelain menjalankan program efisiensi di lingkungan internal, KAI mengajak pelanggan berpartisipasi dalam pengelolaan sumber daya melalui kebiasaan sederhana selama menggunakan layanan kereta api.
Salah satu langkah yang didorong adalah pemanfaatan fasilitas digital untuk mengurangi kebutuhan pencetakan dokumen perjalanan.
Pelanggan juga diajak membawa botol minum pakai ulang agar dapat memanfaatkan fasilitas pengisian air minum gratis yang tersedia di stasiun.
Menurut Anne, perubahan menuju operasional yang lebih efisien memerlukan pelaksanaan program secara konsisten dan evaluasi berkelanjutan.
"Perubahan menuju operasional yang lebih efisien berlangsung melalui langkah-langkah yang konsisten. Kami terus mengevaluasi pemanfaatan energi dan sumber daya, sekaligus mengajak pelanggan berpartisipasi melalui kebiasaan sederhana, seperti menggunakan fasilitas digital dan membawa botol minum pakai ulang," kata Anne.
Melalui berbagai inisiatif tersebut, KAI berupaya mengintegrasikan pemanfaatan energi terbarukan, digitalisasi pelayanan, dan pengurangan penggunaan bahan sekali pakai ke dalam kegiatan operasional perusahaan.
Penurunan konsumsi energi sebesar 15,39 persen pada 2025, pengoperasian 113 unit PLTS, serta penggunaan fasilitas pengenalan wajah oleh lebih dari 5,55 juta pelanggan pada Semester I 2026 menjadi sejumlah capaian yang dilaporkan perusahaan.
Dalam momentum Hari Energi Sedunia, KAI menegaskan komitmennya untuk terus meningkatkan efisiensi energi dan pengelolaan sumber daya melalui inovasi operasional serta keterlibatan pelanggan dalam mendukung kebiasaan ramah lingkungan.





Komentar (0)