JAKARTA - Menteri Agama Nasaruddin Umar telah menyiapkan lima program strategis untuk memperkuat masa depan santri dan pesantren di Indonesia. Langkah ini menjadi bentuk rekognisi, afirmasi, dan pelembagaan komitmen negara kepada pesantren, sehingga santri mendapatkan ruang fasilitasi penuh untuk tumbuh berdaya.
Sekadar diketahui, momen Hari Santri Nasional digelar untuk mengenang perjuangan para ulama dan santri dalam merebut serta mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Delapan puluh satu tahun yang lalu, Hadratus Syekh Kiai Hasyim Asy'ari mewakili seluruh warga pesantren mengumandangkan Resolusi Jihad. Sebuah fatwa monumental yang menegaskan bahwa membela NKRI adalah fardhu 'ain dan mempertahankan kemerdekaan adalah ibadah tertinggi.
“Sejarah mencatat dengan tinta emas bahwa ketika kedaulatan bangsa terancam, seruan perlawanan sangat dahsyat lahir dari dinding-dinding pesantren, digelorakan oleh kaum sarungan, dan dihidupi oleh jiwa para santri,” ujar Nasaruddin saat memimpin upacara Peringatan Hari Santri 2026 bertema "Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas" di Gedung Kemenag.
Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen mengatakan, penguatan peran santri tidak cukup hanya melalui pendidikan agama, tetapi juga perlu didukung keterampilan teknologi, akses pendidikan tinggi, pemberdayaan ekonomi, serta perlindungan dari kekerasan dan perundungan.
Menurut Taj Yasin, Pemprov Jawa Tengah menjalankan program Pesantren Obah untuk memperkuat pendidikan pesantren sekaligus membekali santri dengan keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan perkembangan zaman.
“Program tersebut mencakup yang pertama adalah pelatihan-pelatihan yang dibutuhkan oleh santri yang di pesantren belum ada, dan menguatkan pendidikan-pendidikan yang ada di pesantren untuk semakin dikenal oleh masyarakat dan diterapkan di masyarakat,” kata Taj Yasin.
Salah satu fokus pengembangan santri adalah kemampuan memanfaatkan teknologi dan media digital. Santri didorong tidak hanya menjadi konsumen informasi, tetapi juga mampu menghasilkan konten positif yang dapat menjangkau masyarakat luas.
Pemprov Jateng, kata Taj Yasin, mendorong pelatihan media dan teknologi agar santri mampu menyampaikan nilai-nilai keagamaan secara menarik, relevan, dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat di era digital.





Komentar (0)