Atlet panjat tebing asal Yogyakarta, Sukma Lintang Cahyani (22), membidik prestasi sebagai juara dunia pada nomor lead.
Setelah menembus final dan finis kedelapan di Asian Games 2026, ia membawa sejumlah pelajaran dari persaingan dengan atlet-atlet Asia, mulai dari efisiensi gerakan hingga mengendalikan rasa gugup.
“Mau menjadi salah satu juara dunianya di kategori lead,” kata Lintang kepada awak media di Kantor KONI DIY, Jumat (23/10).
Keinginan mengukir prestasi di nomor lead sudah tumbuh sejak Lintang menentukan fokusnya dalam panjat tebing. Ia pernah menjajal nomor speed, bahkan meraih medali perunggu bersama tim relay speed pada Pekan Olahraga Nasional (PON) 2021 di Papua.
Namun, ia kemudian memilih lebih berfokus pada lead yang saat itu dinilainya belum memiliki peminat sebanyak speed.
“Kalau awal-awal saya berpikir bahwa di speed ini udah banyak atletnya. Peminatnya udah banyak dan kalau di lead ini masih sedikit waktu itu. Jadi saya ingin mengukir sejarahnya di situ,” ujarnya.
Lintang mulai menekuni panjat tebing sejak berusia sekitar sembilan tahun. Perjalanannya kemudian membawanya meraih medali perak di SEA Games hingga tampil di Asian Games 2026 setelah menjalani persiapan sekitar tiga bulan bersama tim nasional.
“Di kesempatan Asian Games tahun ini, Puji Tuhan saya masuk babak final, berakhir di peringkat 8 di kategori lead,” kata Lintang.
Menurut Lintang, atmosfer Asian Games terasa lebih menegangkan dibandingkan SEA Games. Ia menghadapi atlet-atlet China, Jepang, dan Korea Selatan yang kemampuannya dinilai relatif merata sehingga persaingan berlangsung ketat.
Dari para pesaing tersebut, Lintang mempelajari cara membaca jalur dan menyusun gerakan sebelum mulai memanjat. Ia juga memperhatikan bagaimana mereka menentukan posisi clipping atau memasang pengaman agar gerakannya tetap efisien.
“Mereka itu pintar untuk membaca jalurnya, efisiensi dalam geraknya. Terus kalau di lead itu ada posisi clipping untuk memasang pengamannya, itu benar-benar mereka udah rencanain dari bawah sampai ke titik tertinggi,” kata Lintang.
Saat semifinal, Lintang berusaha memanjat dengan tenang dan mengurangi gerakan yang tidak diperlukan. Pendekatan itu membantunya meraih tempat di babak final.
“Kalau dari semifinal itu manjatnya lebih tenang, lebih enjoy, terus lebih efisien dalam geraknya. Jadi akhirnya masuk ke babak final itu,” jelasnya.
Namun, menghadapi babak penentuan menjadi tantangan tersendiri. Lintang mengaku rasa gugup saat bersiap memanjat turut memengaruhi kondisi fisiknya.
“Jadi badan jadi lebih dingin, sedikit lebih panik,” tuturnya.
Bagi Lintang, pengalaman tersebut memberinya gambaran tentang standar persaingan di tingkat Asia sekaligus kemampuan yang masih perlu ditingkatkan.
Membaca jalur, mengatur gerakan, dan menjaga ketenangan menjadi pelajaran yang ia bawa untuk menghadapi kejuaraan berikutnya.






Komentar (0)