DMC Dompet Dhuafa Dorong Program Sedekah Pohon Konservatif untuk Kawasan Desa Awang Kalsel

disway.id
53 menit lalu
Cover Berita

KALSEL, DISWAY.ID - Sepanjang tahun 2026, berbagai bencana alam yang terjadi di Indonesia menyisakan kepiluan mendalam bagi jutaan pasang mata yang menyaksikannya, khususnya bagi mereka yang terdampak.

Bencana ini pun tidak hanya mengancam ruang hidup manusia melainkan juga keberlangsungan hidup satwa, seperti orangutan di Kalimantan.

Dalam berbagai informasi yang beredar di media sosial, tampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masif terjadi di beberapa titik di Provinsi Kalimantan, menimbulkan sejumlah dampak yang secara langsung dirasakan masyarakat maupun satwa yang hidup di dalamnya. 

BACA JUGA:Jawab Tantangan Industri Digital, Dompet Dhuafa dan Audy Dental Gelar Social Media Bootcamp

Dampak tersebut di antaranya, semakin berkurangnya kawasan hutan sebagai daerah resapan air dan habitat satwa, udara yang tercemar, serta kekeringan yang melanda masyarakat setempat.

Dompet Dhuafa melalui Tim Lingkungan Disaster Management Center (DMC) Dompet Dhuafa menjajaki Desa Awang Bangkal Timur, Kecamatan Karang Intan, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan yang dikenal dengan keindahan bentangan alam tersebut, pada Kamis 17 September 2026. 

Ketua Masyarakat Peduli Api (MPA) Awang Bangkal Timur, Ahmad Guntur, menceritakan bagaimana desa ini mengalami kelangkaan air dan udara yang tercemar sebagai dampak yang secara langsung dirasakan masyarakat imbas dari karhutla.

“Adanya kebakaran ini membuat sumber mata air kami berkurang. Itu sudah jadi dampak yang paling utama kami rasakan. Karena sumur-sumur juga sudah pada kering akibat dari hutan kita yang kini berkurang karena kebakaran. Jadi serapan airnya habis.”

BACA JUGA:Jawab Tantangan Industri Digital, Dompet Dhuafa dan Audy Dental Gelar Social Media Bootcamp

“Kepulan asap akibat kebakarannya juga sangat mengganggu aktivitas keseharian masyarakat, terutama anak-anak, sekolahnya mereka jadi terganggu juga,” ungkapnya.

Guntur juga menjelaskan, dengan keterbatasan air, ia bersama timnya, berjibaku ke sana kemari bergotong royong dalam membantu memadamkan kebakaran yang terjadi di beberapa desa lainnya.

“Di 2026 ini, selain memadamkan kebakaran di tempat kami, kami juga membantu kawan-kawan MPA lainnya dengan bergotong royong memadamkan kebakaran, seperti misalnya di Desa Kiram, Tahura, sampai Awang Bangkal Barat.” tuturnya.

Guntur mengungkapkan, hal ini juga berdampak pada lahan masyarakat yang menjadi sumber mata pencaharian mereka. 

“Selama ini kami sudah berupaya menjaga kelestarian alam bersama-sama mulai dari perangkat desa, MPA dan seluruh masyarakat. Banyak tanaman yang kami tanam bersama seperti durian, jengkol dan petai, yang dulunya menjadi salah satu sumber penghasilan kami, kini sudah habis terbakar. Tanaman itu sudah tidak tumbuh dan tidak menghasilkan lagi untuk kami ke depannya”.

BACA JUGA:Melalui Institut Kemandirian Dompet Dhuafa Dengan Program Paradaya Movement Lahirkan Pemangkas Rambut Handal

  • 1
  • 2
  • »

Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Prabowo Ingatkan Para Pemimpin Agar Tak Boleh Lugu dan Harus Waspada
• 17 jam lalu
0
thumb
Anggota Wantimpres Jonan Heran Singapura-Malaysia Baru Kritik Karhutla
• 7 jam lalu
0
thumb
Kerentanan Serius PHP Picu Krisis Keamanan Siber, 70 Persen Situs Web di Seluruh Dunia Terancam
• 7 jam lalu
0
thumb
Pramono: Revitalisasi TK 01 Tambora yang 5 Tahun Rusak Dimulai Pada 2027
• 2 jam lalu
0
thumb
Wakil Bupati Kotawaringin Timur Ungkap Tantangan Penanganan Karhutla
• 1 jam lalu
0
Berhasil disimpan.