Komdigi Akui Internet di RI Belum Rata, Fiber Optik Baru Jangkau 4.398 Kecamatan

kumparan.com
5 jam lalu
Cover Berita

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Komdigi), Nezar Patria, mengakui bahwa internet belum merata di seluruh wilayah Indonesia, dan ini masih menjadi PR pemerintah. Salah satunya soal jaringan fiber optik yang saat ini baru menjangkau 4.398 dari total 7.281 kecamatan di Indonesia.

Jaringan telekomunikasi saat ini telah mencakup sekitar 97 persen wilayah berpenghuni di Indonesia. Sementara penetrasi internet berdasarkan data terakhir mencapai sekitar 81,6 persen.

Meski cakupan jaringan terus meluas, pemanfaatan teknologi 5G di Indonesia masih rendah, yakni di bawah 10 persen. Saat ini pemerintah masih terus meningkatkan cakupan tersebut dengan target mencapai 50 persen di tahun 2027 -2029.

Nezar juga menyoroti dominasi mobile broadband dibandingkan fixed broadband di Indonesia. Menurutnya, pemerintah perlu memperkuat ketersediaan jaringan internet tetap agar masyarakat memiliki lebih banyak pilihan konektivitas yang terjangkau. Penguatan fixed broadband juga menjadi salah satu cara untuk meningkatkan ketersediaan dan aksesibilitas internet, sekaligus mendorong pemerataan akses digital di berbagai wilayah.

Keterbatasan konektivitas masih dirasakan sejumlah daerah, termasuk wilayah yang memiliki potensi ekonomi dan pariwisata. Nezar mencontohkan Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, yang pemerintah daerahnya menyampaikan kebutuhan konektivitas untuk sejumlah titik strategis. Berau bukan satu-satunya daerah yang membutuhkan peningkatan konektivitas.

“Ada banyak sekali bupati yang datang dan menyampaikan kebutuhan-kebutuhan konektivitas mereka di daerah-daerah yang sangat potensial,” kata Nezar di acara Bali Tech Week 2026, Kamis (23/10).

Ia menilai kondisi ini menjadi pekerjaan yang harus segera diselesaikan untuk memenuhi kebutuhan infrastruktur digital di daerah. Pemerataan jaringan diperlukan agar wilayah yang memiliki potensi pariwisata dan ekonomi dapat memanfaatkan teknologi digital secara optimal.

Selain pemerataan, pemerintah juga sedang menargetkan kecepatan internet di Indonesia mencapai 100 Mbps dalam dua hingga tiga tahun ke depan. Pemerintah juga ingin menekan biaya internet menjadi Rp 100 ribu hingga Rp 200 ribu per rumah tangga agar masyarakat bisa mengakses layanan digital dengan lebih terjangkau.

Nezar mengatakan, pemerintah masih menghadapi sejumlah tantangan dalam pemerataan konektivitas, mulai dari perluasan jaringan serat optik atau fiber optik hingga penguatan jaringan internet tetap (fixed broadband).

“Kita punya target 100 Mbps paling tidak kecepatan internet kita dalam waktu 2-3 tahun ke depan kita set sampai 100 Mbps. Dan juga dengan harga yang relatif murah,” ujar Nezar dalam pemaparannya.

Nezar menyebut biaya internet di Indonesia saat ini masih tergolong mahal. Berdasarkan perhitungan International Telecommunication Union (ITU) yang ia sampaikan, biaya internet mencapai sekitar Rp 300 ribu per rumah tangga.

Pemerintah ingin menurunkan biaya tersebut ke kisaran Rp 100 ribu hingga Rp 200 ribu agar lebih banyak masyarakat dapat menikmati konektivitas yang memadai.

"Kalau sekarang ini kayaknya menurut hitungan, kita ini termasuk bayar internet mahal sekitar Rp 300 ribu kurang lebih per household. Kita ingin paling tidak harganya di Rp 200 ribuan, Rp 100 ribu hingga Rp 200 ribuan, sehingga dia lebih terjangkau ke depannya," kata Nezar.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Kemkomdigi dan BSSN Perlu Makin Waspada pada Isu Kerentanan Siber
• 11 menit lalu
0
thumb
UPH Masuk Top 5 PTS Indonesia di THE WUR 2027, Kualitas Penelitian hingga Kolaborasi Global Jadi Kekuatan
• 8 jam lalu
0
thumb
Depok Diguyur Hujan Disertai Angin dan Petir
• 1 jam lalu
0
thumb
Kemenkes: 7 Brand Besar Siap Terapkan Nutri-Level
• 23 jam lalu
0
thumb
Bank Artha Graha Internasional Jadi Strategic Partner WCCE 2026
• 41 menit lalu
0
Berhasil disimpan.