SEOUL, KOMPAS.TV – Korea Selatan pada Jumat (23/10/2026) mengusulkan pembicaraan militer dengan Korea Utara untuk menyelesaikan perselisihan mengenai letak garis perbatasan kedua negara dan mencegah bentrokan tak disengaja di wilayah garis depan.
Usulan tersebut disampaikan di tengah meningkatnya ketegangan setelah ledakan ranjau di perbatasan pada 21 September lalu melukai tiga tentara Korea Selatan. Militer Korea Selatan menyimpulkan ledakan itu disebabkan ranjau yang dipasang Korea Utara di sisi selatan garis demarkasi militer.
Belum diketahui apakah Pyongyang akan menerima usulan tersebut. Korea Selatan sebelumnya pernah mengajukan pembicaraan serupa pada November, tetapi tidak mendapat tanggapan dari Korea Utara.
Baca Juga: Korea Utara Klaim Uji Coba Torpedo Baru Berteknologi AI
Tiga Agenda Pembicaraan yang Ditawarkan SeoulWakil Menteri Pertahanan Korea Selatan Bidang Kebijakan, Kim Hong-Cheol, menyampaikan usulan itu melalui pernyataan yang disiarkan televisi.
Ia menyebut tiga agenda utama yang ingin dibahas, yakni memastikan lokasi pasti garis demarkasi militer darat, memulihkan jalur komunikasi militer, serta menyepakati langkah-langkah untuk mencegah bentrokan tak disengaja di wilayah perbatasan.
Kim mengatakan Seoul juga terbuka terhadap pembicaraan tiga pihak yang melibatkan Komando Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNC) pimpinan Amerika Serikat.
Menurut Kim, perselisihan mengenai garis demarkasi yang dibiarkan tanpa penyelesaian dapat meningkatkan risiko bentrokan karena pasukan kedua negara bertindak berdasarkan pemahaman masing-masing mengenai letak perbatasan.
“Peningkatan aktivitas Korea Utara di sepanjang garis demarkasi militer belakangan ini, serta siaran peringatan dan tembakan peringatan dari pihak kami, juga berkaitan dengan situasi ini,” kata Kim, dikutip dari Associated Press.
Perselisihan Garis Demarkasi Picu Ketegangan di PerbatasanGaris Demarkasi Militer Korea Utara dan Korea Selatan ditetapkan melalui perjanjian gencatan senjata pada 1953 yang menghentikan pertempuran dalam Perang Korea. Seiring berjalannya waktu, sejumlah patok penanda perbatasan yang telah berusia puluhan tahun dilaporkan hilang.
Baca Juga: Korea Utara Uji Coba Rudal dari Bawah Laut, Pertama dalam 3 Tahun Terakhir
Pejabat Korea Selatan menyebut aktivitas militer Korea Utara belakangan ini memperlihatkan adanya perbedaan pandangan kedua negara mengenai lokasi pasti garis demarkasi tersebut.
Militer Korea Selatan menyatakan tentara Korea Utara telah melintasi garis demarkasi militer sebanyak 50 kali sepanjang tahun ini ketika melakukan pekerjaan penguatan pertahanan perbatasan. Seoul mengaku merespons dengan tembakan peringatan dan siaran peringatan.
Sementara itu, Korea Utara terus memperkuat pertahanan di kawasan perbatasan dengan menambah ranjau, pagar kawat berduri, jalan taktis, penghalang antitank, dan berbagai benteng pertahanan lainnya.
Meski demikian, Menteri Pertahanan Korea Selatan Kang Shin-chul menegaskan lokasi ledakan ranjau pada September lalu tidak berada di wilayah yang disengketakan.
Korea Utara membantah bertanggung jawab atas insiden tersebut serta menolak tuntutan Seoul untuk meminta maaf dan menyingkirkan ranjau yang masih tersisa.
Kim Yo Jong Ancam Pembalasan terhadap Korea SelatanUsulan pembicaraan militer Seoul disampaikan beberapa hari setelah Kim Yo Jong, adik pemimpin Korea Utara Kim Jong Un, mengunjungi kawasan garis depan tempat pasukan Korea Utara memperkuat pertahanan perbatasan.
Dalam kunjungan tersebut, Kim Yo Jong kembali mengancam akan membalas setiap provokasi Korea Selatan terhadap pekerjaan penguatan pertahanan itu.
Baca Juga: Rumor Kim Jong Un Meninggal, Kim Yo Jong Ambil Alih Kekuasaan?
Ia juga menyatakan Korea Utara berencana mengaktifkan kembali pengeras suara di perbatasan untuk menyiarkan propaganda yang ditujukan kepada Korea Selatan. Siaran tersebut merupakan salah satu bentuk perang psikologis yang telah lama digunakan kedua negara.
Kim Yo Jong turut menyebut Korea Utara telah menyiagakan sejumlah “sarana tandingan baru” di sepanjang perbatasan, tanpa merinci jenis persenjataan atau perangkat yang dimaksud.
Ia menuding Korea Selatan melakukan tembakan dan siaran peringatan terhadap tentara Korea Utara dengan alasan yang disebutnya keliru, yakni dugaan pelanggaran garis demarkasi selama pekerjaan penguatan pertahanan.
Marsekal Angkatan Darat Korea Utara Pak Jong Chon, yang mendampingi Kim Yo Jong pada Rabu (21/10/2026), juga membantah bahwa tentara Korea Utara melanggar perbatasan.
Pak menyatakan militer Korea Utara mengetahui lokasi garis perbatasannya lebih baik daripada pihak mana pun. Ia juga menuduh Seoul melontarkan klaim yang disengaja dan tidak masuk akal untuk mengalihkan tanggung jawab atas meningkatnya ketegangan.
Pak mengancam Korea Utara akan memberikan “respons besar-besaran” terhadap setiap provokasi Korea Selatan.
Dalam beberapa tahun terakhir, Kim Jong Un mengambil sikap keras terhadap Seoul dan menghentikan hampir seluruh dialog serta kerja sama dengan Korea Selatan.
Belum diketahui apakah Pyongyang akan menanggapi usulan pembicaraan militer terbaru dari Seoul. Di tengah meningkatnya aktivitas militer dan saling tuding di perbatasan, upaya menyepakati lokasi garis demarkasi serta mencegah bentrokan tak disengaja masih menghadapi ketidakpastian.
Baca Juga: Kim Jong Un Muncul Usai Dirumorkan Meninggal, Kunjungi Pameran Industri Ringan
Download KompasTV Apps di TV kamu, sekarang juga di https://app.kompas.tv/. Satu apps untuk semua Video Premium, Breaking News, dan Live Streaming 24/7 dari Kompas Gramedia.
Penulis : Rizky L Pratama Editor : Desy-Afrianti
Sumber : Kompas TV
- Korea Selatan
- Korea Utara
- Semenanjung Korea
- Kim Yo Jong
- Kim Jong Un
- Garis Demarkasi Militer






Komentar (0)