Ringkasan Berita:
- Kekeringan di Kabupaten Ponorogo berdampak pada warga Dukuh Sukun dan Dukuh Basecamp, Desa Sidoarjo.
- BPBD Ponorogo mulai menyalurkan bantuan air bersih ke dua dukuh tersebut sejak 20 Oktober 2026.
- Sebanyak 11.000 liter air bersih dialokasikan setiap minggu untuk memenuhi kebutuhan warga di dua dukuh.
- Secara keseluruhan, BPBD telah menyalurkan 95.000 liter air bersih bagi 1.642 jiwa yang terdampak kekeringan.
Ponorogo (beritajatim.com) – Krisis air bersih masih melanda sejumlah wilayah Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur. Dampak kekeringan kali ini dirasakan warga Dukuh Sukun dan Dukuh Basecamp, Desa Sidoarjo, yang harus mengandalkan bantuan air bersih untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Setelah melakukan asesmen untuk memastikan kondisi di lapangan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Ponorogo mulai menyalurkan bantuan air bersih ke dua wilayah tersebut pada 20 Oktober 2026.
Analis Penata Penanggulangan Bencana Ahli Muda BPBD Ponorogo, Gatot Susanto, mengatakan penambahan dua titik kekeringan tersebut berdampak pada ratusan warga. Di Dukuh Basecamp, sebanyak 14 kepala keluarga (KK) atau sekitar 35 jiwa membutuhkan pasokan air bersih. Sementara itu, warga terdampak di Dukuh Sukun mencapai 215 jiwa dari 125 KK.
Kesulitan air bersih di kedua dukuh tersebut dipicu keterbatasan sumber air yang dapat diandalkan selama musim kemarau. BPBD Ponorogo terlebih dahulu melakukan asesmen sebelum mendistribusikan bantuan untuk memastikan kebutuhan warga dan kondisi di lapangan.
“Hasil asesmen menunjukkan bahwa warga memang membutuhkan bantuan pasokan air. Karena itu, BPBD langsung menyalurkan air bersih ke dua dukuh tersebut,” kata Gatot, Jumat (23/10/2026).
Untuk memenuhi kebutuhan warga, BPBD Ponorogo mengalokasikan total 11.000 liter air bersih setiap minggu untuk kedua dukuh tersebut. Rinciannya, sebanyak 5.000 liter disalurkan kepada warga Dukuh Basecamp dan 6.000 liter untuk warga Dukuh Sukun.
Untuk sementara, distribusi air bersih dijadwalkan satu kali dalam seminggu. Namun, frekuensi pengiriman maupun volume bantuan dapat ditambah apabila kondisi kekeringan semakin parah. Penyesuaian tersebut akan mempertimbangkan perkembangan cuaca dan kebutuhan masyarakat di lapangan.
“Kita menunggu perkembangan dari cuaca. Kita tidak bisa memprediksi kalau cuacanya mungkin masih ekstrem, kekeringan ekstrem, tidak menutup kemungkinan untuk dilakukan penambahan jumlah airnya,” ungkap Gatot.
Menurut Gatot, kekeringan yang terjadi di Dukuh Sukun dan Dukuh Basecamp bukan persoalan baru bagi warga setempat. Kedua wilayah tersebut termasuk lokasi yang rutin mengalami kesulitan air bersih setiap musim kemarau.
Keterbatasan sumber air membuat kebutuhan sehari-hari warga sulit terpenuhi ketika musim kemarau berlangsung. Sumber air yang tersedia di lingkungan permukiman tidak lagi mencukupi kebutuhan masyarakat sehingga bantuan dari BPBD menjadi salah satu upaya untuk memenuhi kebutuhan air bersih.
Di luar Dukuh Sukun dan Dukuh Basecamp, BPBD Ponorogo masih mendistribusikan bantuan air bersih ke sejumlah wilayah lain yang terdampak kekeringan. Hingga Jumat (23/10/2026), bantuan menjangkau 10 dukuh yang tersebar di enam desa dan enam kecamatan.
Distribusi dilakukan berdasarkan kebutuhan warga serta perkembangan kondisi kekeringan di masing-masing wilayah. BPBD juga terus memantau kondisi lapangan untuk menentukan kebutuhan pasokan air bersih berikutnya.
Gatot menyebutkan, selama sepekan BPBD Ponorogo telah melakukan 18 rit atau perjalanan truk tangki untuk mendistribusikan bantuan air bersih. Total air yang disalurkan mencapai 95.000 liter.
Bantuan tersebut diperuntukkan bagi 653 KK atau sekitar 1.642 jiwa yang terdampak kekeringan di Kabupaten Ponorogo. Jumlah tersebut mencerminkan cakupan penanganan kekeringan yang masih berlangsung, sementara penyaluran air bersih ke wilayah terdampak akan disesuaikan dengan kebutuhan dan perkembangan kondisi cuaca. [end/beq]





Komentar (0)