tvOnenews.com - Video CCTV yang memperlihatkan seorang anak diperlakukan kasar oleh orang tua di Malaysia menjadi sorotan di media sosial.
Peristiwa tersebut memunculkan perhatian terhadap pola pengasuhan anak, termasuk dampak kemarahan orang tua terhadap perkembangan emosional dan kesehatan mental si kecil.
Dalam mendidik anak, orang tua terkadang merasa kesal ketika nasihat yang diberikan tidak kunjung didengarkan.
Namun, kebiasaan memarahi anak secara berlebihan, terlebih jika disertai kata-kata kasar atau tindakan fisik, dapat meninggalkan dampak yang tidak bisa dianggap sepele.
Dokter Robby, dalam penjelasannya melalui kanal YouTube Alodokter, mengingatkan bahwa kemarahan yang terus-menerus dapat memengaruhi kepercayaan diri, perilaku, hingga hubungan emosional anak dengan orang tuanya.
Menurutnya, marah merupakan respons yang wajar dan bisa menjadi bagian dari proses mendidik.
Akan tetapi, orang tua perlu memahami batasannya agar niat mendisiplinkan anak tidak justru menimbulkan luka emosional yang terbawa hingga dewasa.
- Thereportermy
Berikut lima dampak buruk yang perlu diketahui orang tua jika terlalu sering memarahi anak.
1. Anak Menjadi Minder dan Kehilangan Kepercayaan Diri
Anak yang terus-menerus dimarahi dengan nada tinggi atau menerima perkataan menyakitkan bisa merasa dirinya selalu salah dan tidak dihargai.
Jika kondisi tersebut berlangsung berulang kali, anak berisiko mengembangkan rasa rendah diri dan meragukan kemampuannya sendiri.
Ia juga bisa menjadi takut mencoba hal baru karena khawatir melakukan kesalahan atau mendapat respons negatif dari orang lain.
Dampaknya dapat meluas ke kehidupan sosial dan pendidikan. Anak mungkin mengalami kesulitan bergaul, enggan menyampaikan pendapat, atau merasa takut ketika harus menghadapi tantangan di sekolah.
Karena itu, orang tua perlu memberikan arahan dengan cara yang membantu anak memahami kesalahannya tanpa merendahkan dirinya.
2. Anak Berisiko Tumbuh Menjadi Pribadi Pemarah
Perilaku orang tua menjadi salah satu contoh yang diamati dan dipelajari anak dalam kehidupan sehari-hari.
Ketika kemarahan sering ditunjukkan melalui bentakan atau tindakan agresif, anak dapat meniru cara tersebut saat menghadapi masalah.
Akibatnya, anak berisiko lebih mudah marah, menunjukkan perilaku agresif, atau melampiaskan emosinya kepada orang lain, termasuk teman sebaya.





Komentar (0)