REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Tingkat inklusi keuangan di DKI Jakarta mencapai 99,74 persen, sementara indeks literasi keuangan berada di angka 84,01 persen. Perbedaan kedua indikator tersebut menunjukkan pentingnya peningkatan pemahaman masyarakat agar akses terhadap layanan keuangan dapat dimanfaatkan secara bijak, aman, dan produktif.
Berdasarkan hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan 2026, tingginya akses keuangan di Jakarta perlu diikuti penguatan edukasi dan pendampingan kepada masyarakat. Upaya tersebut terutama diperlukan bagi pedagang pasar dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) agar layanan keuangan dapat mendukung pengelolaan dan pengembangan usaha secara optimal.
Baca Juga
Mensos Sebut Korban Karhutla Berhak Dapat Bantuan, Tapi Datanya Belum Disetor
Laporan Skandal Tokoh Pro-Israel Lindsey Graham Mencuat, Diduga Terlibat Praktik Gay, Sewa Pira Muda
Tepi Barat Memanas, Enam Tentara Israel Ditembak
Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno mengatakan, perluasan akses keuangan harus disertai pendampingan berkelanjutan agar manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat. Menurut dia, kerja sama antara pemerintah daerah, regulator, dan industri jasa keuangan sangat diperlukan untuk mendukung transformasi pasar rakyat.
“Program digitalisasi pasar inklusif tidak berhenti sampai di sini, tetapi harus terus dilanjutkan. Kita perlu memastikan layanan keuangan benar-benar berjalan dan dirasakan manfaatnya oleh para pedagang secara berkelanjutan. Pendampingan dan pemberdayaan pedagang juga harus terus dilakukan agar akses keuangan dapat membantu mereka mengelola usaha dengan lebih baik, memperluas peluang pembiayaan, dan meningkatkan daya saing,” ujar Rano dalam Jakarta Financial Festival 2026 di Blok M Square, Jakarta, Jumat (23/10/2026).
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Jakarta Financial Festival 2026 diselenggarakan pada 23–24 Oktober 2026 dalam rangka memperingati Bulan Inklusi Keuangan. Kegiatan bertema “Kumpul Asik, Melek Finansial, Ekonomi Tumbuh” tersebut melibatkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Bank Indonesia, Perumda Pasar Jaya, Forum Komunikasi Industri Jasa Keuangan (FKIJK) DKI Jakarta, serta sejumlah pelaku industri jasa keuangan.
Dalam rangkaian kegiatan tersebut, Bank Jakarta menerima penghargaan Anugerah Digitalisasi Pasar Inklusif 4.0 sebagai Pelaku Usaha Jasa Keuangan (PUJK) Literasi Keuangan Teraktif 1. Penghargaan bergengsi ini diserahkan langsung oleh Rano Karno kepada Direktur Utama Bank Jakarta sekaligus Ketua FKIJK DKI Jakarta Agus H Widodo.
Agus mengatakan, penghargaan tersebut menjadi dorongan bagi perusahaan untuk melanjutkan program edukasi dan perluasan akses layanan perbankan. Menurut dia, perkembangan industri keuangan perlu dilihat tidak hanya dari pertumbuhan bisnis dan transaksi, tetapi juga manfaat nyata layanan bagi masyarakat luas.
“Penghargaan ini menjadi apresiasi sekaligus motivasi bagi Bank Jakarta untuk terus memperluas edukasi keuangan dan mendekatkan layanan perbankan kepada masyarakat. Kami meyakini bahwa literasi keuangan yang baik akan mendorong masyarakat mengambil keputusan finansial secara lebih bijak, sedangkan inklusi keuangan yang berkualitas dapat membuka peluang ekonomi yang lebih luas,” ujar Agus.
Dalam kegiatan tersebut, Bank Jakarta menyediakan layanan edukasi mengenai produk pendanaan, pembiayaan, dan transaksi digital. Perusahaan juga menghadirkan permainan interaktif serta pemeriksaan kesehatan gratis melalui kerja sama dengan Klinik Bank Jakarta.
Komentar (0)