Grid.ID - Menyambut Hari Santri 2026, Dedi Mulyadi gaungkan resolusi jihad anggaran demi kepentingan rakyat. Alasan Gubernur Jabar menjadi sorotan.
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menggaungkan Resolusi Jihad Anggaran sebagai wujud perjuangan di era modern. Menurutnya, hal itu dapat diwujudkan dengan mengelola keuangan pemerintah secara transparan, bertanggung jawab, serta mengutamakan kepentingan masyarakat.
Dedi mengatakan, semangat Resolusi Jihad yang dahulu menjadi penggerak para ulama dan santri dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia harus terus dilanjutkan melalui kebijakan yang mengedepankan kebutuhan rakyat, bukan sekadar mengejar kepentingan sesaat.
Pernyataan tersebut disampaikan Dedi pada Kamis (22/10/2026), bertepatan dengan peringatan Hari Santri Nasional 2026.
Ia berpandangan bahwa perjuangan para penyelenggara negara pada masa sekarang dapat diwujudkan dengan memastikan anggaran pemerintah dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan mendasar masyarakat. Hal itu mencakup sektor pendidikan, kesehatan, pembangunan infrastruktur, hingga peningkatan kualitas pelayanan publik.
“Resolusi jihad hari ini harus bagaimana kita tetap beresolusi sebagai penyelenggara negara mengelola keuangan negara. Keuangannya harus resolusi berpihak pada kemerdekaan dari agresi kepentingan-kepentingan jangka pendek, kepentingan-kepentingan di luar kepentingan negara dan masyarakat,” ujar Dedi dilansir dari media sosial.
Dedi menjelaskan bahwa konsep Resolusi Jihad Anggaran berarti menjadikan kebutuhan masyarakat sebagai landasan utama dalam menentukan penggunaan keuangan pemerintah.
Dalam kapasitasnya sebagai Gubernur Jawa Barat, ia menegaskan bahwa anggaran daerah semestinya diarahkan pada berbagai program yang dampaknya bisa dirasakan secara nyata oleh warga. Menurutnya, alokasi belanja pemerintah harus mengutamakan sektor pendidikan, kesehatan, pembangunan infrastruktur, serta pemenuhan beragam layanan dasar masyarakat.
Selain itu, Dedi menilai kelompok masyarakat kurang mampu perlu mendapatkan perhatian lebih, termasuk melalui perluasan akses listrik dan penyediaan hunian yang layak.
Ia turut menghubungkan pemenuhan kebutuhan pokok tersebut dengan penanganan berbagai persoalan sosial dan kesehatan, di antaranya stunting, kekurangan gizi, gizi buruk, serta angka kematian ibu dan anak yang masih menjadi tantangan di Jawa Barat.
“Belanjanya utamakan belanja untuk pendidikan, kesehatan, infrastruktur dan berbagai layanan lainnya, termasuk memasang jaringan listrik untuk warga miskin, membangun rumah rakyat miskin,” kata Dedi.
Baca Juga: Pernah Berebut Kursi Gubernur Jabar, Ilham Habibie dan Dedi Mulyadi Kini Kerja Sama Atasi Masalah Transportasi
Menurut Dedi, anggaran negara tidak hanya berfungsi sebagai perangkat administrasi, tetapi juga menjadi sarana untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat serta memperluas jangkauan layanan dasar. Oleh sebab itu, penetapan skala prioritas belanja merupakan salah satu aspek penting dalam tanggung jawab pemerintah daerah untuk mewujudkan semangat perjuangan melalui kebijakan pembangunan.
Selain mendorong pengutamaan anggaran untuk kepentingan publik, Dedi mengimbau pemerintah agar tidak mengalokasikan dana untuk kegiatan yang manfaatnya kurang dirasakan secara langsung oleh masyarakat. Ia menyoroti sejumlah pengeluaran, seperti biaya konsumsi, pelaksanaan acara di hotel, perjalanan dinas, serta berbagai kebutuhan serupa yang dinilai perlu dievaluasi.
Menurutnya, penataan kembali anggaran belanja diperlukan agar kapasitas keuangan daerah bisa dimanfaatkan secara optimal untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Dedi pun mengajak seluruh penyelenggara negara memastikan setiap pengeluaran pemerintah sejalan dengan kepentingan publik dan sasaran pembangunan.
Gagasan tersebut merupakan bagian dari konsep Resolusi Jihad Anggaran yang diusungnya, yaitu melanjutkan semangat perjuangan melalui tata kelola keuangan publik yang mengutamakan kepentingan rakyat.
Jihad di Era Modern melalui Pencerdasan Bangsa
Dedi turut menyinggung sejarah Resolusi Jihad yang dicetuskan KH Hasyim Asy’ari pada 22 Oktober 1945. Seruan tersebut menjadi salah satu momen bersejarah yang membangkitkan semangat perjuangan rakyat dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari ancaman kembalinya penjajahan.
Ia menilai, tantangan yang dihadapi generasi saat ini berbeda dengan kondisi pada masa perjuangan kemerdekaan. Karena itu, nilai-nilai perjuangan perlu diwujudkan melalui peningkatan kualitas pendidikan, penguatan karakter, serta upaya memperbaiki kesejahteraan masyarakat.
Dedi juga mengajak para santri untuk mengambil peran dalam mencerdaskan kehidupan bangsa sekaligus menjaga nilai-nilai moral dalam menghadapi berbagai tantangan zaman.
“Saya sampaikan selamat pada seluruh santri di mana pun berada. Semoga jihad hari ini adalah jihad mencerdaskan pikiran, jihad menjernihkan hati sehingga bangsa kita tumbuh menjadi bangsa yang tegak, bukan bangsa yang terhegemoni,” ujar Dedi.
Menurut Dedi, peringatan Hari Santri bukan sekadar ajang mengenang jasa para ulama dan santri dalam perjuangan di masa lampau. Momentum ini juga menjadi pengingat bagi para penyelenggara negara untuk melanjutkan semangat perjuangan melalui penerapan kebijakan yang bertanggung jawab.
Melalui konsep Resolusi Jihad Anggaran, Dedi menegaskan bahwa semangat menjaga kemerdekaan di era sekarang dapat diwujudkan dengan mengarahkan alokasi anggaran untuk kepentingan masyarakat, memperkuat akses terhadap layanan dasar, serta mendorong pemerataan kesejahteraan. (*)
Artikel Asli





Komentar (0)