Rupiah Hari Ini 23 Oktober 2026 Melemah ke Rp18.074, Tertekan Harga Minyak Dunia

kompas.tv
3 jam lalu
Cover Berita
Pegawai menunjukkan uang rupiah dan dolar AS di Bank Syariah Indonesia, Tangerang Selatan, Banten, Rabu (21/1/2026). (Sumber: ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/wsj)

JAKARTA, KOMPAS.TV – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) melemah pada pembukaan perdagangan Jumat (23/10/2026).

Rupiah turun 14 poin atau 0,08 persen menjadi Rp18.074 per dolar AS, dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya di level Rp18.060 per dolar AS.

Pelemahan rupiah terjadi di tengah lonjakan harga minyak dunia yang dipicu meningkatnya kekhawatiran terhadap keamanan pasokan energi akibat eskalasi ketegangan di Timur Tengah.

Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede menilai kenaikan harga minyak global menjadi salah satu faktor yang menekan nilai tukar rupiah.

Baca Juga: Rupiah Hari ini Ditutup Melemah ke Rp18.027 per Dolar AS, Mayoritas Mata Uang Asia Justru Menguat

“Harga minyak melonjak menyusul pernyataan kelompok Houthi (Ansarullah Yaman) yang mengumumkan rencana untuk menyerang infrastruktur minyak Arab Saudi di Yanbu dan Bandara Dammam,” ucap Josua mengutip Antara.

Harga Minyak Brent Tembus 111 Dolar AS per Barel

Dilansir dari Associated Press, harga minyak dunia naik lebih dari 2 persen pada Kamis (22/10/2026) setelah serangan pesawat nirawak atau drone terhadap ladang minyak Shaybah milik Saudi Aramco meningkatkan kekhawatiran terhadap potensi gangguan pasokan energi.

Minyak mentah Brent, yang menjadi acuan internasional, diperdagangkan pada level 111,40 dolar AS per barel atau naik 2,4 persen.

Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) asal Amerika Serikat naik 2,22 persen menjadi 99,30 dolar AS per barel.

Laporan tersebut menyebut serangan di fasilitas minyak Arab Saudi menewaskan dua orang dan kembali memicu kekhawatiran mengenai keamanan infrastruktur energi di Timur Tengah.

Kekhawatiran pasar juga meningkat setelah Amerika Serikat memerintahkan sebagian personel dan anggota keluarga mereka untuk meninggalkan misi diplomatik AS di Arab Saudi di tengah ketegangan regional.

Kondisi tersebut menambah ketidakpastian terhadap pasokan minyak global. Jika gangguan pasokan berlanjut, harga energi berpotensi tetap tinggi dan memengaruhi tekanan inflasi di berbagai negara.

Baca Juga: Rupiah Melemah 0,7% ke Rp 18.065 per Dolar AS, Terlemah di Asia

Serangan Houthi Menambah Kekhawatiran Pasar

Selain serangan terhadap ladang minyak Shaybah, laporan Xinhua juga menyebut kelompok Ansarullah Yaman melancarkan empat serangan rudal dan drone terhadap Arab Saudi dalam kurun waktu 48 jam.

Serangan tersebut dilaporkan menyasar sejumlah lokasi, yakni Kementerian Pertahanan Arab Saudi di Riyadh, Bandara Internasional King Fahd di Dammam, fasilitas Aramco di Yanbu, serta Bandara Internasional Abha di wilayah barat daya Arab Saudi.

Juru Bicara Militer Ansarullah Yahya Saree mengeklaim seluruh target terkena serangan secara langsung. Laporan tersebut juga menyebut adanya gangguan lalu lintas udara dan kebakaran di fasilitas minyak.

Perkembangan ini menambah perhatian pelaku pasar terhadap risiko gangguan pasokan energi dari Timur Tengah, salah satu kawasan penting bagi perdagangan minyak dunia.

Bagi pasar keuangan, lonjakan harga minyak dapat memengaruhi ekspektasi inflasi dan arah kebijakan moneter. Bagi Indonesia, perkembangan tersebut menjadi salah satu faktor eksternal yang perlu dicermati di tengah pelemahan rupiah.

Imbal Hasil Obligasi Pemerintah Bergerak Beragam

Baca Juga: Kelakar SBY: Kalau Pak Prabowo Batuk Hati-Hati, Nilai Tukar Rupiah & Saham Bisa Jatuh

Selain nilai tukar, pasar obligasi pemerintah Indonesia juga mencatat pergerakan beragam pada perdagangan Kamis (22/10/2026), menurut data yang disampaikan Josua Pardede.

Imbal hasil obligasi pemerintah tenor lima tahun tercatat sebesar 7,25 persen, dengan perubahan naik 41 basis poin (bps). Sementara itu, imbal hasil tenor 10 tahun berada di level 7,42 persen, turun 1 bps.

Imbal hasil obligasi tenor 15 tahun tercatat sebesar 7,38 persen, turun 4 bps. Adapun tenor 20 tahun berada di level 7,41 persen, naik 1 bps.

Di sisi lain, volume perdagangan obligasi pemerintah turun menjadi Rp18,28 triliun pada Kamis, dibandingkan Rp24,39 triliun pada sesi sebelumnya.

Kepemilikan asing atas obligasi pemerintah Indonesia juga berkurang Rp3,66 triliun. Hingga Rabu (21/10/2026) kepemilikan asing atas obligasi pemerintah menjadi Rp914 triliun. Nilai tersebut setara dengan 13,02 persen dari total obligasi pemerintah yang beredar.

Pergerakan imbal hasil yang beragam menunjukkan bahwa obligasi pada berbagai tenor tidak bergerak seragam. Sementara itu, penurunan volume perdagangan dan kepemilikan asing menjadi data tambahan yang perlu dicermati dalam memantau kondisi pasar keuangan domestik.

Dengan rupiah yang melemah pada pembukaan perdagangan dan harga minyak dunia yang meningkat di tengah ketegangan geopolitik, pelaku pasar perlu mencermati perkembangan pasokan energi global serta dampaknya terhadap inflasi dan sentimen investasi. 

Baca Juga: Rupiah Menguat ke Rp17.871, Cadangan Devisa Jadi Penopang

Download KompasTV Apps di TV kamu, sekarang juga di https://app.kompas.tv/. Satu apps untuk semua Video Premium, Breaking News, dan Live Streaming 24/7 dari Kompas Gramedia.

Penulis : Rizky L Pratama Editor : Tito-Dirhantoro

Sumber : Kompas TV

Tag
  • Rupiah
  • Rupiah Hari Ini
  • Nilai Tukar Rupiah
  • Dolar AS
  • Harga Minyak Dunia
  • Obligasi Pemerintah
Selengkapnya


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
JK Wanti-wanti Ekonomi RI dari Podium Harvard
• 6 jam lalu
0
thumb
Ramai-Ramai Orang Kaya Dunia Numpuk Emas di Singapura, Tembus 800 Ton
• 19 jam lalu
0
thumb
Budiman Ungkap 5 Pilar Prabowo: Persatuan, Antikemiskinan-Berantas Korupsi di RI
• 22 jam lalu
0
thumb
Jadwal KRL Tugu Jogja-Solo 23-25 Oktober 2026
• 7 jam lalu
0
thumb
ABK Disekap, Suku Cadang Mesin Dijarah! Polisi Ungkap Aksi Perompak Kapal di Merak
• 22 jam lalu
0
Berhasil disimpan.