Enam anak berjalan menyusuri bantaran sungai menuju muara Sungai Cibulan-bulan, Desa Ciparagejaya, Kecamatan Tempuran, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, Rabu (21/10/2026). Tak berapa lama, mereka melepas kaus dan segera berlarian di muara sungai yang dangkal.
Anak-anak menarik pelampung besar dari kumpulan styrofoam yang dimasukkan dalam jaring. Bergantian mereka naik dan melompat. Keceriaan terpancar dari wajahnya meski terik matahari begitu menyengat.
Di ujung kampung, Danya (62) duduk santai di depan rumahnya. ”Sudah lima hari saya berangkat melaut, sekarang satu dua hari libur dulu. Hasil melaut banyak kalau musim hujan, sekarang mungkin karena panas ikannya banyak berada jauh di dalam lautan dan lebih ke arah utara. Nelayan di sini yang menggunakan mesin 24 PK, membawa 9 anak buah kapal. Rata-rata mendapat upah Rp 100.000 per hari,” kata Danya.
Danya mengungkapkan keluhan nelayan setempat, yakni pendangkalan di muara Sungai Cibulan-bulan. Baling-baling kapal gampang tipis terkena pasir dan papan kapal lumayan cepat rusak kalau sering terkena dasar sungai. Nakhoda kapal motor harus tahu betul jalur keluar untuk menghindari endapan pasir di ujung muara.
Memancing Ikan (KOMPAS/AGUS SUSANTO)
Ikan Burumundi (KOMPAS/AGUS SUSANTO)
Wandri mengecat kapal. (KOMPAS/AGUS SUSANTO)
Terik matahari tak kunjung berkurang meski jam sudah menunjukkan pukul 15.00 WIB. Beberapa pemancing datang dan memarkir sepeda motornya di sekitar hutan bakau di ujung kampung. Mereka melewati bantaran sungai yang sudah terkena abrasi. Abrasi menjadi masalah pesisir utara Karawang.
Wandri (51) bersama istri dan anaknya beristirahat di samping Kapal Motor Si Bungsu. Wandri dan Dodi sudah tiga hari mengecat kapal motor di ujung muara yang rindang oleh hutan bakau. Kapal motor bertenaga 20 PK tersebut membutuhkan waktu lima hari untuk pengecatan.
”Beginilah nelayan, harus bisa melaut juga bisa mengecat kapal. Saya biasa melaut hingga 30 mil laut atau sekitar 2 jam perjalanan dengan total waktu pencarian ikan selama 8 jam. Satu perahu dengan empat awak rata-rata mendapatkan Rp 500.000 hingga Rp 600.000 untuk sekali melaut,” kata Wandri.
Kapal motor datang dan pergi melewati muara. Sirait, bersama buruh angkut hasil laut lainnya menunggu kapal tiba di Tempat Pelelangan Ikan Ciparagejaya. Dulunya Sirait juga nelayan sekarang buruh angkut hasil laut. Hasilnya sama saja katanya, sehari rata-rata mendapat Rp 100.000.
Tiap hari lelang hasil laut berlangsung dari pukul 08.00 hingga pukul 11.00 dan pukul 13.00 hingga pukul 16.00 WIB. Petugas lelang dari Koperasi Produksi Perikanan Laut (KPPL) Samudra Mulya menawarkan harga hasil laut.
Sebuah tongkat kayu yang dibawa disentuhkan di besek yang di lelang. Satu besek bisa memuat 3 kilogram hasil laut. Setelah mendapatkan harga tertinggi, ia menyebut nama pemenang lelang. Ikan-ikan kecil dilelang di harga Rp 50.000 per besek. Ikan tersebut akan diasinkan di usaha rumahan di kampung tersebut.






Komentar (0)