Agus Wahyu Budi Setiawan Konsultan di PT. Telekomunikasi Jaringan Dinamis dan Anggota Indonesian Artificial Intelligence Society
PADA 29 September 2026, sebuah manuver politik di Gedung Putih sukses mengernyitkan dahi komunitas sains global. Presiden AS Donald Trump menandatangani Executive Order yang secara resmi membuang istilah Artificial Intelligence (AI) dan menggantinya dengan Super Intelligence (SI) di seluruh ranah kebijakan eksekutifnya. Alasannya terdengar sangat simplistis: kata artificial (buatan) dianggap membuat teknologi ini terkesan "palsu" atau fake.
Namun, di balik balutan retorika tekno-nasionalisme ini, pergantian nama tersebut bukanlah sekadar permainan semantik. Langkah ini adalah manuver berbahaya yang berisiko mengaburkan realitas teknologi sesungguhnya.
Di mata komunitas ilmiah global, manuver ini dipandang sebagai sebuah lelucon gelap. Tokoh fundamental seperti "Godfather of AI", Geoffrey Hinton, menyiratkan bahwa Trump pada dasarnya gagal memahami esensi AI maupun Superintelligence.
Baca Juga:Megaskandal Hukum di Era Pemerintahan PrabowoMerujuk pada diskursus akademik yang mapan—seperti pemikiran filsuf Nick Bostrom—Superintelligence bukanlah jargon kampanye pemasaran. Istilah ini merujuk pada kecerdasan kognitif yang secara absolut jauh melampaui kemampuan akal manusia di seluruh spektrum kognitif.Sebenarnya, Amerika Serikat sama sekali tidak kekurangan ilmuwan AI kaliber dunia yang sangat mumpuni, seperti Geoffrey Hinton, Fei-Fei Li, atau Andrew Ng. Namun, menjadi pertanyaan besar mengapa dalam merumuskan kebijakan sebesar ini, Presiden Trump justru memilih mendengarkan para AI Entrepreneur ketimbang para AI Scientist.
Jika ditarik mundur, fenomena ini sebenarnya tidak terlalu mengejutkan. Sejak awal era 2000-an, ekosistem bisnis teknologi di Silicon Valley perlahan tapi pasti seolah telah mendapatkan "otoritas tertinggi" dari negara dalam menentukan arah masa depan teknologi Amerika.
Baca Juga: Mulai Tak Terkendali, Trump Larang Sebut AI dan Ganti Jadi Super Intelligence
Baca Juga:Ledakan di Dapur Karyawan Mal Jambi, 6 Orang Luka Bakar Dilarikan ke RSKetika istilah saintifik direduksi menjadi sekadar alat kampanye politik, jelas terlihat bahwa Trump diduga kuat telah termanipulasi oleh narasi para pimpinan raksasa teknologi ini, yang secara kebetulan diundang ke Gedung Putih pada hari yang sama. Tujuannya transparan: menghindari regulasi ketat pemerintah dengan menukar jaminan keamanan melalui janji pengawasan mandiri (self-policing).Ilusi LLM dan Realitas Sains Masa DepanNarasi rebranding ini terasa semakin ironis jika kita membedah realitas teknis dari AI komersial yang saat ini diagung-agungkan. Sistem AI yang sangat populer di AS hari ini—seperti ChatGPT, Gemini, Anthropic, dan Grok—sejatinya "hanyalah" produk dari teknologi Large Language Models (LLM) dan arsitektur Multi Layer Perceptron (MLP), yang merupakan bagian dari AI generasi pertama.
Baca Juga:Bocah SD Tercebur ke Sumur Sedalam 30 Meter di Lebak, Dievakuasi dalam Kondisi TewasSecanggih apa pun LLM dalam memproses dan menghasilkan tata bahasa, model ini masih beroperasi murni dalam spektrum Artificial Narrow Intelligence (ANI). Mereka bekerja layaknya sistem black-box probabilistik yang kerap berhalusinasi, memanipulasi data, dan sering kali gagal total saat dihadapkan pada logika matematika yang deterministik.Sayangnya, ada satu realitas krusial yang sengaja disembunyikan dari diskursus publik: AI yang sesungguhnya jauh lebih kompleks, vital, dan esensial bagi umat manusia bukanlah LLM komersial, melainkan Scientific Machine Learning (SciML).
Di medan SciML inilah pertarungan sains sejati sedang terjadi. SciML menuntut fondasi matematika tingkat lanjut yang tidak menoleransi halusinasi. Ia bekerja sebagai komputasi presisi tinggi yang tunduk mutlak pada hukum fisika dan linearitas deterministik.
Lebih dari itu, SciML masa kini telah memanfaatkan kernel matematika terbaru, yakni Kolmogorov-Arnold Network, yang bekerja secara white-box. Artinya, jejak penalaran sistem ini sepenuhnya transparan, logis, dan dapat dipertanggungjawabkan secara matematis.SciML adalah tulang punggung inovasi masa depan untuk memecahkan masalah berskala raksasa (ground truth).
Baca Juga:Bawaslu Siap Berikan Keterangan Sidang PHPU Pilpres 2024 di MKDi sinilah teknologi bekerja untuk menemukan material baru komputasional, menavigasi dinamika fluida, hingga membedah kimia kuantum demi penemuan obat atau teknologi baterai baru. Inilah esensi AI yang benar-benar dibutuhkan oleh peradaban, bukan sekadar algoritma penyusun kata yang menjadi alat konsumtif gaya hidup.Benturan Kultur: Spektakel Populis vs Supremasi MatematikaDominasi Silicon Valley di AS secara telanjang memperlihatkan jurang perbedaan kultur sains antara Amerika Serikat dan Rusia.
Di ekosistem Amerika, hierarki kebenaran informasi dikendalikan oleh para kapitalis, miliarder teknologi, dan politisi. Akibatnya, objektivitas kebenaran ilmiah sering kali harus berkompromi dan tunduk pada narasi bisnis, fluktuasi valuasi pasar saham, dan spektakel marketing.Sebaliknya, ekosistem AI di Rusia beroperasi dengan paradigma yang sama sekali berlawanan. Otoritas penentu arah teknologi tidak diserahkan kepada CEO bermental marketing atau politisi populis, melainkan dipegang teguh oleh ilmuwan murni dan pakar matematika fundamental.
Sebuah contoh nyata terlihat pada posisi Direktur Jenderal Artificial Intelligence Research Institute (AIRI) di Rusia yang dijabat oleh Prof. Ivan Oseledets, seorang matematikawan brilian penemu Tensor-Train Decomposition. Dalam tradisi Rusia, matematika adalah fondasi kebenaran mutlak.
Mereka meyakini bahwa teknologi revolusioner seperti SciML hanya bisa lahir dari abstraksi matematika yang elegan dan tak terbantahkan, bukan dari definisi yang bisa diubah-ubah oleh tim public relations korporat.
Baca Juga:Penyebab Ledakan Dapur Karyawan Mal di Jambi Lukai 6 Orang, Diduga akibat Kebocoran GasHal ini turut memberi perspektif baru tentang diskursus demokrasi dalam sains. Jika selama ini kampanye dari Barat mendefinisikan demokrasi teknologi sebagai kebebasan berpendapat di mana entrepreneur lebih mendominasi konten ilmiah ketimbang akademisi, sosiokultur Rusia memandangnya secara berbeda. Bagi mereka, diskursus teknologi publik harus diisi oleh otoritas resmi—ilmuwan dan akademisi kredibel yang menyandang mandat intelektual dari negara, universitas, atau pusat riset.
Bagi Indonesia, polemik ini menampar kita dengan sebuah pelajaran berharga. Kita sedang dihadapkan pada dua model peradaban: Amerika yang menyerahkan mandat sainsnya kepada entitas komersial secara fleksibel demi bisnis, atau Rusia yang mempertahankan sains murni sebagai benteng otoritas intelektual tertinggi.
Kebijakan publik nasional kita tidak boleh dibangun di atas sikap latah mengekor jargon populis dari luar negeri. Kecerdasan sebuah bangsa tidak diukur dari kepiawaian elitenya menciptakan akronim baru demi pencitraan politik dan marketing. Kecerdasan bangsa yang sesungguhnya diukur dari seberapa berani negara memproteksi, meregulasi, dan menguasai fundamental sains secara tegas demi masa depan rakyatnya.
#nasional





Komentar (0)