Presiden Prabowo Subianto mengatakan Indonesia masuk dalam jajaran negara dengan ekonomi terbesar di dunia. Hal ini dihitung berdasarkan paritas daya beli atau purchasing power parity (PPP).
“Berarti kemampuan daya beli nyata dari banyak negara, Indonesia ditempatkan dalam urutan ketujuh di dunia,” kata Prabowo dalam Rapat Koordinasi Nasional Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (Rakortas TPAKD) di Jiexpo Kemayoran, Kamis (22/10).
Dia menyebut parameter ini membuktikan bahwa Indonesia kuat. Dia juga melihat saat ini kemampuan berusaha tak hanya berasal dari pelaku usaha besar, namun juga berasal dari pengusaha kecil.
Kendati demikian, dia menyebut Indonesia masih menghadapi masalah untuk mengelola kekayaan Indonesia agar bisa langsung dirasakan oleh rakyat yang paling membutuhkan.
Menurutnya Indonesia harus berani mengoreksi diri. Terlebih melihat fakta bahwa ekonomi negara ini hanya dinikmati oleh 1% penduduk saja.
“Bayangkan, (disparitas) kekayaan Rp 50 triliun dengan Rp 2 juta. Masih cukup banyak rakyat miskin yang perlu kami angkat tingkat hidupnya,” ujarnya.
Meski begitu, dia menyebut Indonesia saat ini berada dalam jalur yang tepat untuk mencapai tujuan tersebut. Prabowo mengatakan selama puluhan tahun kekayaan Indonesia telah dibiarkan bocor luar biasa, namun saat ini terus diperbaiki dengan berpedoman pada Pasal 33 dan 34 Undang-undang Dasar 1945.
“(Namun) perbaikan ini tidak langsung terjadi seketika, kami tidak punya tongkat ajaib, seperti tongkat Nabi Musa atau tongkat Nabi Sulaiman,” ucapnya.
Banyak PenyelundupanPrabowo sebelumnya mengatakan Indonesia saat ini mengalami banyak penyelundupan, baik yang dilakukan ke dalam negeri maupun ke luar negeri.
Salah satu hal yang diselundupkan adalah bahan bakar minyak (BBM) dan pupuk subsidi. Dia menyebut penyelundupan merupakan aksi penikaman terhadap bangsa, berusaha untuk membunuh ekonomi.
“Penyelundupan keluar, harta kekayaan kita diselundupkan, timah, emas, batu bara, kayu, BBM subsidi dan Pupuk subsidi diselundupkan,” kata Prabowo dalam pembukaan Sidang Kabinet Paripurna di Istana Merdeka, Rabu (21/10).
Sementara itu, penyelundupan ke dalam dicontohkan dengan aksi penyelundupan narkotika ataupun barang-barang yang membuat pabrik-pabrik domestik tutup. Dia menyebut pemerintah tidak akan mempertahankan lagi sistem yang mengizinkan penyelundupan terus berjalan.
Ketua Umum Partai Gerindra ini mengatakan Indonesia saat ini sedang mengalami tantangan dan kesulitan. Hal ini memaksa Indonesia untuk menghadapinya dengan berani.
Dia mengatakan bangsa ini tidak bisa lagi menghadapinya dengan sikap naif atau terlalu berusaha untuk menyenangkan orang lain.
“Kita sekarang dipaksa untuk memilih menghadapi kesulitan, kenyataan yang intinya menyelamatkan kekayaan bangsa dan rakyat Indonesia. Atau kita meneruskan sistem yang mengakibatkan kekayaan Indonesia diambil ke luar negeri tahun demi tahun melalui segala praktik-praktik yang saya anggap penipuan,” ujarnya.





Komentar (0)