REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Target pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 6 persen pada 2027 dinilai membutuhkan peningkatan investasi swasta dan belanja pemerintah. Meski perekonomian nasional masih tumbuh di atas 5 persen, stabilitas harga pangan dan energi menjadi faktor penting untuk menjaga daya beli masyarakat sekaligus menopang pertumbuhan.
Pengamat ekonomi Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Abra Talattov menilai Indonesia masih memiliki peluang mencapai target pertumbuhan tersebut. Optimisme itu didasarkan pada ketahanan ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global serta perkembangan sejumlah indikator ekonomi domestik.
Baca Juga
Realisasi Investasi Capai Rp1.575 Triliun, Ekonomi Nasional Dinilai Tetap Prospektif
PLN Dorong Ekonomi Lokal Lewat 18 UMKM di Manado High Street Market 2026
ISEI Manado: Program Makan Bergizi Gratis Mampu Gerakkan Ekonomi Lokal
Abra mengatakan, pertumbuhan ekonomi sebesar 5,29 persen pada kuartal II 2026 menunjukkan aktivitas perekonomian Indonesia masih terjaga. Namun, pencapaian target 6 persen pada tahun depan membutuhkan dukungan kebijakan yang mampu meningkatkan aktivitas ekonomi.
“Saya melihat bahwa kita masih memiliki ekspektasi positif terhadap target pemerintah. Pertumbuhan tahun depan itu ditargetkan 6 persen,” ujar Abra, Kamis (22/10/2026).
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Menurut Abra, belanja pemerintah menjadi salah satu instrumen yang dapat menopang pertumbuhan ekonomi. Ia menyoroti peningkatan belanja pemerintah yang disebut telah mencatat pertumbuhan dua digit.
“Salah satu sinyal yang kuat yang dilakukan pemerintah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi adalah dari sisi belanja pemerintah, itu sampai pertumbuhannya double digit,” ungkapnya.
Selain belanja pemerintah, Abra menilai perkembangan sektor pangan dapat menjadi faktor pendukung perekonomian. Ia menyoroti kebijakan penurunan harga pupuk bersubsidi hingga 20 persen serta cadangan beras pemerintah yang disebut mencapai 4,6 juta ton.
Meski demikian, Abra mengingatkan bahwa stabilitas harga pangan dan energi tetap perlu dijaga. Pergerakan harga kedua komoditas tersebut berpengaruh terhadap biaya hidup masyarakat dan keberlanjutan aktivitas ekonomi.
Sementara itu, anggota Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Mochammad Firman Hidayat menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia masih menunjukkan ketahanan di tengah berbagai tantangan eksternal. Menurut dia, kemampuan mempertahankan pertumbuhan di atas 5 persen menjadi salah satu modal untuk mengejar target yang lebih tinggi.
“Dihadapkan pada berbagai tantangan tadi, saya kira yang perlu di-highlight adalah ekonomi Indonesia masih cukup resilient. Kalau kita lihat pertumbuhan ekonomi, masih tumbuh di atas 5 persen,” kata Firman.
Firman menekankan bahwa pencapaian pertumbuhan ekonomi 6 persen tidak dapat hanya mengandalkan belanja pemerintah. Kontribusi investasi swasta diperlukan untuk meningkatkan aktivitas usaha dan menopang pertumbuhan ekonomi nasional.
“Target 6 persen ini tentu harus didorong oleh investasi dari sektor swasta,” tegasnya.
Di sisi lain, pengamat politik Adi Prayitno menilai pertumbuhan ekonomi juga perlu memberikan manfaat yang lebih merata kepada masyarakat. Ia berharap peningkatan aktivitas ekonomi tidak hanya terkonsentrasi pada sektor atau kelompok tertentu.
“Harapan terbesarnya tentu pertumbuhan ekonomi itu terdistribusi cukup merata di berbagai kalangan, bukan hanya merata di sektor-sektor tertentu,” ujarnya.
Pandangan tersebut disampaikan dalam dialog evaluasi dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Pembahasan menempatkan investasi swasta, belanja pemerintah, stabilitas harga, dan pemerataan manfaat pertumbuhan sebagai sejumlah faktor yang menentukan pencapaian target ekonomi 2027.
Komentar (0)