Kerusuhan yang belakangan terjadi di Prancis telah menyebar ke negara-negara Eropa lainnya, termasuk Italia dan Albania. Pemerintah Italia dan Prancis menyatakan akan mengerahkan pasukan militer untuk memperkuat kepolisian. Sementara itu, sejumlah laporan menyebutkan bahwa kerusuhan tersebut melibatkan organisasi komunis dan kelompok sayap kiri radikal, termasuk jaringan pendanaan yang terkait dengan pengusaha teknologi yang pro-komunis, Neville Roy Singham.
EtIndonesia.com Ribuan toko dijarah dan dirusak, bangunan publik dibakar, gedung-gedung pemerintah dirusak, dan para demonstran terlibat bentrokan sengit dengan polisi. Belakangan ini, bentrokan yang disertai kekerasan di Prancis, Italia, dan negara-negara Eropa lainnya terus meningkat.
Pemilik toko permainan video, Ori Zaguri, mengatakan, “Ini benar-benar mengejutkan karena kami sama sekali tidak memperkirakan hal seperti ini akan terjadi. Kami benar-benar mengalami kerugian besar. Hasil kerja keras selama 30 tahun hancur begitu saja dalam sekejap, hampir tanpa alasan yang jelas.”
Rekaman menunjukkan bahwa pusat kota Lyon dipenuhi etalase toko yang pecah dan monumen yang dicoret-coret. Aksi protes yang semula dipimpin oleh mahasiswa telah berubah menjadi aksi kekerasan dan penjarahan, yang mengakibatkan korban jiwa dan luka-luka. Peristiwa ini menjadi salah satu gejolak sosial terparah di Prancis dalam beberapa tahun terakhir.
Pada 21 Oktober, Perdana Menteri Prancis Sébastien Lecornu mengatakan bahwa penerapan jam malam di sejumlah wilayah telah menunjukkan hasil. Kebijakan tersebut akan dilanjutkan selama beberapa hari ke depan.
Sementara itu, Menteri Dalam Negeri Prancis Laurent Nuñez menyatakan bahwa pasukan militer akan dikerahkan untuk memperkuat kepolisian dalam menghadapi aksi protes pada Sabtu mendatang.
Menteri Dalam Negeri Prancis Laurent Nuñez mengatakan, “Ya, tentu saja kami akan mengerahkan pasukan Sentinelle untuk menggantikan pasukan keamanan dalam negeri dalam menjalankan tugas-tugas pengamanan statis. Dengan demikian, polisi dan gendarmerie dapat lebih leluasa menjalankan tugas menjaga ketertiban umum.”
Di Italia, ratusan demonstran bertopeng membakar tempat sampah dan menjarah toko-toko di pusat kota pada akhir pekan lalu. Banyak di antara mereka dilaporkan masih berusia di bawah umur.
Pada 21 Oktober, pemerintah Italia menyetujui langkah-langkah keamanan baru. Jika terdapat bukti bahwa seorang anak di bawah umur menimbulkan bahaya, polisi kini berwenang menahan orang yang berusia di bawah 18 tahun hingga 12 jam, bahkan jika mereka belum melakukan tindak pidana.
Karena khawatir kerusuhan akan meluas, pemerintah Italia akan mengirimkan tambahan 500 tentara dari Roma ke Milan.
Albania dan Chile juga mengalami kerusuhan serupa. Para perusuh bertopeng menyerang gedung pemerintah, bank, dan perusahaan, menghancurkan bagian depan toko serta melakukan pembakaran. Selama bentrokan berlangsung, polisi menggunakan gas air mata dan kendaraan lapis baja penyemprot air untuk membubarkan massa.
Dalam laporan investigasi yang diterbitkan baru-baru ini, Fox News mengungkapkan bahwa dari 54 kelompok yang terlibat dalam mobilisasi aksi kerusuhan di Prancis, terdapat 16 organisasi mahasiswa atau pemuda, termasuk kelompok pemuda komunis dan sebuah asosiasi mahasiswa Muslim.
Sebanyak 38 kelompok lainnya terdiri atas organisasi komunis dan sosialis yang dipimpin orang dewasa, serikat pekerja, kelompok politik, serta media internasional.
Laporan tersebut mengungkapkan bahwa sebagian demonstran secara terbuka mengibarkan bendera palu-arit dan membawa slogan “perjuangan kelas”.
Menurut laporan itu, media pro-komunis BreakThrough News turut mendorong penyebaran narasi yang mendukung gerakan tersebut. Media ini didanai oleh Neville Roy Singham, seorang pengusaha teknologi berhaluan Marxis yang telah lama tinggal di Shanghai.
Laporan gabungan Xiao Chang, reporter NTD.






Komentar (0)