Cahyo Agung Wibowo telah berusia 18 tahun. Di usia yang menginjak dewasa, dia tak bisa beraktivitas seperti pemuda lainnya di desanya di Kedung Buweng 4, Wukirsari, Kapanewon Imogiri, Kabupaten Bantul, DIY. Sakit polio membuat Cahyo lumpuh dan tak bisa berkomunikasi.
Hari demi hari Cahyo habiskan dengan berbaring di sebuah kamar kecil berukuran sekitar dua kali tiga meter. Matanya lebih banyak menatap langit-langit kamar tanpa eternit daripada dunia luar.
Salah satu hal yang bisa Cahyo lakukan secara mandiri adalah minum dari botol dot, sementara untuk makan Cahyo harus disuapi. Selebihnya, hidup Cahyo bergantung pada sang nenek, Waryanah (65).
Sejak kecil Cahyo telah ditinggal kedua orang tuanya ke Jakarta dan Palembang. Keduanya tak pernah pulang maupun memberi kabar.
Sementara itu, Waryanah selama ini menggantungkan hidupnya dengan berjualan jajanan pasar. Saban hari dia berjalan kaki lebih dari dua kilometer menawarkan jajanan dengan penghasilan yang tak menentu.
"Sehari-harine kulo (saya) jualan lempeng, jualan jajanan kecil-kecilan lah, (ada) combro, kacang rebus, gonta-ganti," kata Waryanah ditemui di kediamannya, Kamis (22/10).
Dalam sehari, penghasilan Waryanah sekitar Rp 30-35 ribu. Uang itu untuk kebutuhan sehari-hari dia dan Cahyo. Termasuk, yang utama, untuk membeli popok Cahyo.
Waryanah berjualan mulai pukul 07.00 sampai pukul 10.00 WIB. Ia tak bisa lama-lama beraktivitas di luar rumah karena kasihan dengan Cahyo. Sementara di sisi lain, ia juga harus mencari nafkah.
Dengan terpaksa, Waryanah harus menali kaki Cahyo agar dia tidak sampai keluar rumah. Jika Cahyo sampai keluar, dikhawatirkan Cahyo akan terjatuh ke sungai yang tepat berada di depan rumah.
"Cahyo sakit dari bayi. Katanya (sakit) polio. Kalau ditinggal saya tali kakinya, tapi tadi lupa tidak ditali. Pulang kok tidak ada, saya cari ternyata di sini ini (tengah). Terpaksa (ditali), kasihan kalau sampai keluar ke jalan, ke kali," jelasnya.
Waryanah berkisah kedua orang tua Cahyo pergi saat Cahyo berusia lima tahun. Praktis sampai saat ini, sudah 13 tahun Waryanah merawat Cahyo. Sementara suami Waryanah sudah meninggal dunia lima tahun lalu.
"Ini cucu. Bapak ibunya mboten mantuk (tidak pulang). Pokoke teng pundi, tilar nopo gesang, mboten ngertos (pokoknya pergi ke mana, mati atau hidup, tidak tahu)," kisahnya.
Memang, Waryanah punya beberapa anak lain, tetapi anaknya yang lain sudah memiliki keluarga dan kehidupan masing-masing. Waryanah tak bisa sepenuhnya mengandalkan mereka.
Selama ini, Waryanah memang mendapatkan bantuan pemerintah seperti PKH. Namun, jumlah tersebut memang sangat terbatas. Beberapa kali, dia mendapat bantuan dari orang baik.
Terpaksa Tak Sekolah, Hari-hari Ditemani RadioKondisi yang dialami Cahyo membuatnya tak bisa mengenyam bangku sekolah. Di rumah, salah satu aktivitas yang digemari Cahyo adalah mendengarkan radio.
Ketika mendengarkan radio, Cahyo tampak senang dan menikmati.
"Disetelke radio, joget tingkrak tingkrik (gerak-gerak)," ujarnya.
"Cahyo nggak bisa ngomong, nggak bisa jalan," katanya.
Waryanah bercerita, cucunya ini tak pernah rewel. Jika lapar dan haus, terkadang Cahyo menangis. Cahyo dikenal kuat, menurut Waryanah cucunya ini tak pernah sakit.
"Sakit mboten nate (tidak pernah)," bebernya.
Kini, hal yang paling Waryanah pikirkan adalah masa depan Cahyo. Apalagi semakin usia Waryanah semakin tua. Ia takut kelak tak ada yang merawat Cahyo.
"Saya ngunduri tuo (semakin tua). Cahyo ngunduri gede (semakin besar)," pungkasnya.






Komentar (0)