Polemik ijazah Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka kembali memicu peringatan soal potensi gejolak di tengah masyarakat. Dosen Silang Budaya Ali Syarief menyoroti kemungkinan munculnya kemarahan publik jika persoalan tersebut tidak ditindaklanjuti oleh lembaga negara, khususnya eksekutif dan legislatif.
Hal itu disampaikan saat menanggapi pernyataan Rocky Gerung yang mengingatkan adanya potensi amuk massa akibat polemik ijazah Jokowi dan Gibran.
"Kerisauan Rocky Gerung (Wantimpres) akan terjadi amuk massa, beralasan," tulisnya di akun X, dikutip Kamis (22/10/2026).
Baca Juga: PSI: Jokowi Mau Ngapain Saja Suka-suka Beliau Selama Tidak Melanggar Aturan
Ali juga mengaitkan polemik tersebut dengan putusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang menurutnya berdampak pada pemenuhan persyaratan pendidikan Gibran. Ia menilai persoalan itu tidak seharusnya diabaikan oleh lembaga negara.
"Pasca keputusan MK (Gibran tak punya ijazah SMA). Ketahuan tidak memenuhi syarat dasar untuk menjadi Wapres RI. Ini fakta dan ikrah secara yuridis," ujarnya.
Ali kemudian menyampaikan peringatan apabila persoalan tersebut tidak mendapatkan perhatian dari pemerintah. Menurutnya, sikap abai itu berpotensi membuat masyarakat mengambil inisiatif untuk menyuarakan tuntutan mereka.
"Jadi, bila eksekutif dan legislatif abai, maka rakyat yang akan bergerak," imbuhnya.
Baca Juga: Bukan Anies! Dua Sosok Disebut Masuk Bursa Pengganti Gibran Jika Pemakzulan Terjadi
Sebelumnya, Rocky Gerung menilai pengunduran diri Gibran dapat menjadi salah satu cara untuk meredam kemarahan publik yang terakumulasi akibat polemik ijazah Presiden ke-7 RI Joko Widodo dan putranya tersebut.
Ia juga menilai langkah itu dapat mencegah Presiden Prabowo Subianto ikut terseret dalam persoalan yang berpusat pada wakil presidennya.
“Alangkah elegannya kalau Gibran mengundurkan diri. Untuk mencegah amuk massa, untuk mencegah Presiden dikait-kaitkan dengan pasangan yang ilegal,” kata Rocky dalam tayangan YouTube Akbar Faizal.
Rocky juga mengingatkan agar kekecewaan masyarakat jangan sampai berkembang menjadi aksi massa.
“Kita mesti cegah, jangan sampai kemarahan publik itu yang sudah terakumulasi dari kasus ijazah Pak Jokowi sampai ke ijazah Pak Gibran itu, akumulasi itu membuat orang merasa bahwa ini saatnya hukuman maksimal pada dinasti Jokowi,” terang Rocky.






Komentar (0)