Danantara mengungkap target mereka untuk menarik investasi di tengah situasi geopolitik dan ketegangan di Timur Tengah. Kini, Danantara mengincar agar investasi baik dari SWF, perusahaan swasta sampai data center yang ada di Timur Tengah bisa beralih ke Indonesia.
Managing Director Global Relations & Communications Danantara, Pahala Mansury menjelaskan memang situasi saat ini menjadi faktor kuat untuk pergeseran modal dari Timur Tengah dan Danantara ingin memanfaatkan itu.
“Risiko keamanan dan risiko geopolitik yang meningkat di kawasan Timur Tengah menjadi salah satu faktor yang dapat mendorong pergeseran modal tersebut. Termasuk juga investasi pembangunan data center yang selama ini banyak terkonsentrasi di Timur Tengah. Kita berharap investasi tersebut bisa bergeser dan mencari rumah serta lokasi baru di negara kita, Indonesia. Kita melihat ini sebagai momentum yang baik,” kata Pahala dalam Media Coffee Morning Danantara di Wisma Danantara, Jakarta pada Kamis (22/10).
Lebih lanjut, Managing Director Investment, Stefanus Ade Hadiwidjaja menjelaskan terkait investasi data center, memang Indonesia akan menyambutnya. Meski demikian, investasi tersebut harus dipastikan dilakukan dengan cara yang benar.
“Buat kita investasi masuk pasti kita sambut, tapi harus berinvestasi dengan cara yang benar. Paling tidak ada dua hal yang penting yang kita lihat di sini, yaitu dari sisi energi maupun dari sisi air,” ujarnya.
Dari sisi energi, jika ada data center skala besar di atas 500 MW, ia akan mengarahkan investasi itu agar bisa turut memiliki sumber energi sendiri untuk data center. Hal itu nantinya bisa dilakukan dengan investasi sekaligus di data center dan sektor energi.
Sementara untuk data center skala kecil, listrik yang digunakan haruslah dengan harga yang disepakati dan menguntungkan untuk PT PLN (Persero).
Sementara dari sisi air, ia juga mendorong agar investasi data center dapat mengoptimalisasi penggunaannya salah satunya dengan desalinasi.
“Dari sisi air, kita juga clear setiap investasi di data center, kita pastikan teknologi yang dibawa adalah sistem closed loop. Artinya dia akan sangat minim mengambil air, dan sebisa mungkin kalau ada, kita mau ada water treatment system dan juga water desalinasi kalau dekat dengan laut. Jadi mengoptimalisasi dari sisi air,” ujarnya.
Dengan demikian, investasi data center yang masuk bukan justru berdampak buruk melainkan punya dampak baik utamanya bagi masyarakat sekitar.
“Tapi semua investasi dilakukan dengan cara yang benar dan tepat, baik buat masyarakat, tapi juga buat environment, yang selalu kita pakai kata-katanya adalah sustainable investment,” kata Stefanus.






Komentar (0)