Warung Kerek dan Warung Bolong, Andalan Pekerja Jakarta Mencari Makan Siang Murah

kompas.id
8 jam lalu
Cover Berita

Bau bumbu ayam goreng tercium dari warung milik Neneng (45) di Gang RT 001/RW 001 Kuningan Barat, Jakarta Selatan, Rabu (21/10/2026) pukul 09.30 WIB. Kata dia, ayam goreng itu adalah salah satu menu andalan di warung yang berada di tepi Kali Mampang itu.

Namun, bukan hanya ayam goreng yang dicari pelanggan yang sebagian besar pekerja di kawasan itu. Kemudahan yang ditawarkan Neneng menjadi daya tarik utamanya. Warung kerek, begitu nama warung milik Neneng disebut pelanggannya.

Penamaan itu merujuk pada cara Neneng mengantarkan makanan pada pelanggan. Tidak diserahkan langsung, makanan yang sudah dipesan dimasukan ke keranjang yang diikat pada seutas tali sepanjang 30 meter.

Setelah itu, Neneng mengerek makanan itu melalui katrol di dapurnya, melewati Kali Mampang, menuju pelanggan yang ada di ujung jalan. Neneng menarik kembali keranjang itu ketika pelanggan sudah membayar pesanannya.  

”Kita pernah coba pakai tangga tapi enggak bisa. Lalu coba pakai kerekan bikinan sendiri. Awalnya gak seimbang jadi suka jatuh kalau kena angin,” ujarnya. 

Neneng bercerita awalnya warungnya hanya tempat makan biasa di pinggir Kali Mampang. Pembeli dari seberang kali biasanya akan melintasi jembatan untuk makan siang.

Namun, sejak jembatan Kali Mampang dirobohkan sekitar tahun 2014, rutinitas itu terhenti. Sejak itulah ide membuat warung kerek tercetus. Kini, ada lima warung kerek di sekitar Kali Mampang.

Seiring waktu, warung kerek Kali Mampang kian populer. Video tentang cara transaksi yang unik ini pernah viral.

Hasilnya, kata Neneng, pendapatan yang ia peroleh semakin bertambah, meski tidak sebanyak saat masih ada jembatan.

Ia berkata dalam sehari bisa menghabiskan kurang lebih 100 boks kemasan makanan. Sehingga keuntungan yang diperoleh kurang lebih Rp 900.000 per hari.

Pembelinya pun bukan lagi dari para pekerja kantoran atau kuli proyek sekitar. Kini orang-orang dari luar Jakarta pun ikut tertarik menyambangi warungnya.

”Kemarin ada orang Bekasi ke sini cuma mau beli telur ceplok, ngidam dia,” ucapnya. 

Akan tetapi, ternyata bukan kerekan saja yang membuat warung Neneng tak kehilangan pelanggan. Dia mengatakan, harga terjangkau membuat warungnya menjadi pilihan.

Ia mencontohkan menu paling mahalnya adalah soto daging seharga Rp 20.000. Sementara itu, menu lainnya disesuaikan dengan isi kantong pembeli.

”Ada yang beli telur 5 ribu, terus dia minta sayurnya 2 ribu. Gak bisa sebenarnya tapi dia bilang gapapa sedikit aja, kan kita jadi iba ya,” tuturnya. 

Di tengah situasi ekonomi saat ini, ia kembali dilema menentukan harga. Beberapa bahan makanan melonjak naik. Salah satunya harga cabai yang didapatinya menyentuh Rp 100.000 per kilogram.

”Bikin muter otak banget. Jadi porsi makanan kadang kita kurangi tapi kasihan juga mereka,” ujarnya.

Kegelisahan yang dirasakan Neneng kian bertambah kala mengingat seorang pekerja yang masih memiliki hutang di warungnya. Ia bercerita saat sistem warung kerek masih baru, ia dengan mudah menerima pesanan tanpa memastikan pembeli membayar dulu. Hingga seorang pembeli mengelabuinya dan enggan membayar makanan.

”Pas itu dia pesen yaudah terus kita kasih, katanya nanti ya sorean (uangnya). Lama-lama kita gak sadar eh udah 200 ribu utangnya,” ucap Neneng.

Tepat pukul 12.00 WIB, teriakan sejumlah pekerja membuyarkan curhatan Neneng. Satu persatu memesan menu makanan yang mereka inginkan. Setiap kali makanan selesai dibuat dan diletakkan dalam keranjang, giliran suara tarikan tali yang terdengar.

Salah satu pelanggan Neneng siang itu adalah Ari (40) pekerja proyek asal Tangerang Selatan. Dia bekerja di salah satu penginapan. Menurutnya, tidak ada pilihan lain selain warung ini baik dari segi harga maupun keterjangkauan akses.

Ari bercerita di gedung tempatnya bekerja sebenarnya sudah menyediakan kantin karyawan. Namun, harga yang ditawarkan tidak bersahabat. ”Lebih hemat (di warung kerek), di dalam (kantin) sekali makan bisa 50 ribu. Kalau di sini 20 ribu udah kenyang,” ujarnya.

Warung bolong

Warung-warung kerek di pinggir Kali Mampang tidak sendirian menjadi andalan para pekerja ibu kota. Di balik area belakang parkir sebuah mal di Kemang, Jakarta Selatan, keberadaan warung makan unik menjadi oase para pekerja ibu kota.

Saat makan siang tiba, pemandangan tak biasa tampak di area parkir mal. Beberapa orang tampak memasukan setengah badan mereka pada tembok-tembok tinggi yang membatasi area parkir dengan kawasan pemukiman di baliknya.

Uniknya, tembok pembatas itu seperti punya jendela. Di dalamnya, terlihat aktivitas usaha kuliner menjual aneka makanan. Seperti bentuknya, warga menyebutnya warung bolong.  

Salah satunya warung milik Jeffry (55) warga Kemang, Jakarta Selatan. Ia mengatakan, konsep warung bolong mulanya muncul dari pemikirannya untuk memanfaatkan kamar tidur sebagai tempat berjualan. Dulu sebelum sebuah mal berdiri, tepat di samping kamarnya merupakan area lapangan luas.

Melihat potensi keramaian, Jeffry nekat membolongi tembok samping kamarnya yang menghadap ke lapangan tersebut. ”Dulu saya cuma jual minuman, terus orang-orang proyek bilang lapar jadi saya jual mie. Terus lama-lama pada minta jual nasi,” ujarnya.

Hasilnya, pada awal ia berjualan, Jeffry bisa memperoleh pendapatan sebanyak Rp 700.000 per hari. Keuntungan itu kemudian ia putar kembali untuk memenuhi isi warungnya.

Menyediakan lebih banyak makanan secara tidak langsung mengharuskan ia memperhitungkan setiap harganya. Jeffry bercerita, kenaikan bahan makanan akhir-akhir ini membuatnya pusing tujuh keliling.

Seperti Neneng, dia menghadapi dilema yang sama. Menaikkan harga makanan akan memberatkan pembeli, tapi di satu sisi ia juga harus memperoleh untung.

Jeffry kemudian menyiasati polemik ini dengan menaikkan harga secara bertahap. Itu pun naiknya hanya beberapa rupiah saja. Ada pula menu-menu yang porsinya dikurangi.

”Sambal saya buat banyak tapi kasih sedikit aja,” ujarnya.

Meski tetap merasa kasihan dengan pembeli, Jeffry cukup mendapatkan pelajaran untuk tidak memberi hutang. Alasannya, saat proyek mal masih berlangsung, ia pernah dihutangi seorang pekerja proyek yang totalnya tidak main-main, mencapai Rp 17 juta.

”Sekarang saya udah gak mau nerima yang ngutang,” ujarnya.

Keberadaan warung bolong Jeffry lambat laun menginspirasi munculnya warung bolong lain. Kini total ada sembilan bolongan yang menandakan sembilan warung tersembunyi di balik tembok mal.

Salah satunya pelanggan warung bolong adalah Hilman (21) warga Cipete, Jakarta Selatan. Dia pekerja di mal tersebut.

Pertama kali mencoba membeli makanan di warung bolong membuatnya ketagihan hingga membeli setiap hari. Selain karena rasa yang enak, harga makanan warung bolong juga sesuai dengan dompetnya.

”Rasa makanannya enak, harganya cocok buat kita dan aksesnya dekat. Jadi enggak perlu keluar-keluar lagi dan makan waktu istirahat,” ucapnya.

Hilman mengatakan dalam sehari ia menyiapkan uang 25 ribu untuk makan siang. Di warung bolong dengan budget tersebut ia sudah dapat membeli paket lengkap makanan dan minuman yang mengenyangkan.

Kendati harus berteriak dan menarik tali kerek di bawah terik matahari, atau membungkuk melihat menu warung bolong, tidak menjadi masalah bagi mereka. Warung-warung kecil dengan konsep unik ini telah menyediakan lebih dari apa yang dibutuhkan pekerja ibukota.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Prabowo Targetkan Kredit Rp400 Triliun untuk Petani hingga Wilayah Tertinggal pada 2027
• 4 jam lalu
0
thumb
Direktur eksekutif baru LPDS soroti tantangan pers di era AI
• 11 jam lalu
0
thumb
Gelar Razia di Apartemen Kalibata City, Ditjen Imigrasi Amankan 45 WNA
• 4 jam lalu
0
thumb
BI Jatim Dorong Riset Jadi Dasar Kebijakan Pembangunan Ekonomi
• 6 jam lalu
0
thumb
2 Tahun Pemerintahan Prabowo, Ditjen Pesantren Lahir sebagai Penguatan Pendidikan Santri
• 19 jam lalu
0
Berhasil disimpan.