Jakarta (ANTARA) - Menteri Luar Negeri (Menlu) RI Arrmanatha Nasir mengingatkan warga negara Indonesia (WNI) di Eropa agar tidak terlibat dalam unjuk rasa maupun kegiatan politik apapun di tengah protes besar-besaran yang terjadi di sana.
“Bagi warga negara Indonesia yang ada di Eropa, kami meminta mereka untuk berhati-hati, menjaga diri, dan tidak ikut campur dengan urusan politik yang berkembang di sana,” kata Menlu RI ditemui usai pertemuan bilateral dengan Menlu Australia Penny Wong di Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI Jakarta, Kamis.
Ia menegaskan bahwa pihaknya melalui perwakilan RI di kawasan terus mengikuti dinamika yang terjadi di Eropa. Sejumlah KBRI juga sudah menyampaikan imbauan keamanan bagi para WNI di sana.
Arrmanatha lebih lanjut mengingatkan WNI di Eropa agar memerhatikan keamanan sendiri dan cukup berfokus pada kegiatan masing-masing, seperti belajar ataupun bekerja.
Menlu RI itu juga mengimbau WNI untuk terus memantau imbauan keamanan dari KBRI setempat serta mengikuti arahan yang disampaikan pemerintah setempat.
Aksi protes di Eropa bermula di Prancis, di mana para siswa SMA dan mahasiswa memprotes melorotnya kualitas pendidikan dan meningkatnya biaya hidup di negara itu.
Dalam protes yang berubah menjadi kerusuhan di berbagai kota pada Sabtu (17/10) itu, perusuh membakar balai kota bersejarah di Kota Limoges. Gedung-gedung pusat pemerintahan di Marseille dan sejumlah kota lainnya juga diserang.
Sementara itu, sudah lebih dari 2.500 orang ditangkap di seantero Prancis sejak akhir pekan lalu, kata Menteri Dalam Negeri Prancis Laurent Nunez awal pekan ini.
Kementerian dalam negeri juga memperkirakan ada 550.000 orang yang ikut dalam demonstrasi di Prancis, termasuk 110.000 orang di Paris.
Gejolak di Prancis juga merembet ke kalangan penutur bahasa Prancis di wilayah Belgia selatan. Demonstrasi yang berlangsung di sana berujung pada sejumlah penahanan, dengan beberapa tersangka kemudian ditahan dalam proses hukum.
Polisi Belgia menangkap 195 orang dalam demonstrasi menentang kebijakan pendidikan dan pemangkasan anggaran di Brussel dan Liege pada Sabtu (17/10), menurut pernyataan kepolisian setempat.
Penangkapan yudisial itu berkaitan dengan sejumlah pelanggaran, termasuk pelemparan benda ke arah petugas, perlawanan saat penangkapan, dan pembakaran yang disengaja.
Baca juga: Protes besar Prancis, Macron sebut belum perlu penetapan darurat
Baca juga: Eropa sedang tidak baik-baik
“Bagi warga negara Indonesia yang ada di Eropa, kami meminta mereka untuk berhati-hati, menjaga diri, dan tidak ikut campur dengan urusan politik yang berkembang di sana,” kata Menlu RI ditemui usai pertemuan bilateral dengan Menlu Australia Penny Wong di Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI Jakarta, Kamis.
Ia menegaskan bahwa pihaknya melalui perwakilan RI di kawasan terus mengikuti dinamika yang terjadi di Eropa. Sejumlah KBRI juga sudah menyampaikan imbauan keamanan bagi para WNI di sana.
Arrmanatha lebih lanjut mengingatkan WNI di Eropa agar memerhatikan keamanan sendiri dan cukup berfokus pada kegiatan masing-masing, seperti belajar ataupun bekerja.
Menlu RI itu juga mengimbau WNI untuk terus memantau imbauan keamanan dari KBRI setempat serta mengikuti arahan yang disampaikan pemerintah setempat.
Aksi protes di Eropa bermula di Prancis, di mana para siswa SMA dan mahasiswa memprotes melorotnya kualitas pendidikan dan meningkatnya biaya hidup di negara itu.
Dalam protes yang berubah menjadi kerusuhan di berbagai kota pada Sabtu (17/10) itu, perusuh membakar balai kota bersejarah di Kota Limoges. Gedung-gedung pusat pemerintahan di Marseille dan sejumlah kota lainnya juga diserang.
Sementara itu, sudah lebih dari 2.500 orang ditangkap di seantero Prancis sejak akhir pekan lalu, kata Menteri Dalam Negeri Prancis Laurent Nunez awal pekan ini.
Kementerian dalam negeri juga memperkirakan ada 550.000 orang yang ikut dalam demonstrasi di Prancis, termasuk 110.000 orang di Paris.
Gejolak di Prancis juga merembet ke kalangan penutur bahasa Prancis di wilayah Belgia selatan. Demonstrasi yang berlangsung di sana berujung pada sejumlah penahanan, dengan beberapa tersangka kemudian ditahan dalam proses hukum.
Polisi Belgia menangkap 195 orang dalam demonstrasi menentang kebijakan pendidikan dan pemangkasan anggaran di Brussel dan Liege pada Sabtu (17/10), menurut pernyataan kepolisian setempat.
Penangkapan yudisial itu berkaitan dengan sejumlah pelanggaran, termasuk pelemparan benda ke arah petugas, perlawanan saat penangkapan, dan pembakaran yang disengaja.
Baca juga: Protes besar Prancis, Macron sebut belum perlu penetapan darurat
Baca juga: Eropa sedang tidak baik-baik






Komentar (0)