Setiap hari kita menunda memberikan maaf akan memperdalam lingkaran kebencian dan luka batin yang semakin sulit untuk dilepaskan
Mike Donghia
Ada kalanya penulis berharap suatu hubungan dapat dipulihkan, tetapi perasaan penulis sudah terlanjur terluka sehingga sulit bagi penulis untuk mengambil langkah pertama.
Kita semua pernah berada dalam posisi seperti itu. Terkadang, kita mengalami kebuntuan emosional atau merasa terluka oleh teman maupun anggota keluarga. Semua itu merupakan bagian dari kehidupan manusia.
Baru-baru ini, penulis mengalami beberapa situasi seperti itu dalam keluarga sendiri. Dalam kedua kasus tersebut, penulis tahu bahwa pada akhirnya akan memaafkan mereka. Persoalannya bukan apakah penulis akan memaafkan, melainkan kapan. Penulis berpikir, inilah salah satu tantangan dalam mengambil langkah pertama untuk berdamai. Penulis tidak merasa perlu segera menyelesaikan masalah, dan dengan cara yang agak menyimpang seperti yang terkadang kita lakukan, penulis justru menikmati rasa mengasihani diri sendiri.
Rasa mengasihani diri sendiri pasti memberikan manfaat tertentu bagi kita—setidaknya dalam jangka pendek. Jika tidak, kita mungkin tidak akan terus larut di dalamnya seperti yang terkadang kita lakukan. Barangkali perasaan itu terasa menyenangkan karena menjadi semacam perisai emosional yang memungkinkan kita menarik diri, merasa bahwa kita berada di pihak yang benar, atau merasa berhak marah karena diperlakukan tidak adil oleh orang lain.
Ketika sedang larut dalam rasa mengasihani diri sendiri, hanya sedikit dari kita yang merasa sedang berpikir dengan jernih. Namun, keadaan itu terasa lebih mudah daripada memaafkan. Seperti air yang cenderung mengalir mengikuti jalur dengan hambatan paling kecil, tindakan kita pun sering mengikuti jalan yang paling mudah.
Mengapa Kita Tidak Seharusnya Menunda untuk MemaafkanSemakin lama Anda menunggu, semakin sulit pula mengambil langkah pertama. Penulis memperhatikan bahwa terkadang alasan awal kita merasa kesal akhirnya terlupakan, sementara persoalan yang sebenarnya jelas digantikan oleh perasaan dingin dan kejengkelan yang samar. Perasaan semacam ini justru lebih sulit diatasi karena jauh lebih didorong oleh emosi.
Setiap hari yang berlalu dalam keheningan meninggalkan luka kecil. Bayangkan ketika Anda tidak sengaja menggigit bagian dalam mulut sendiri. Bagian itu akan sedikit membengkak, lalu menjadi lebih mudah tergigit lagi dan lagi. Menurut penulis, sesuatu yang serupa terjadi ketika kita menahan diri untuk tidak memaafkan. Jika kita membiarkan masalah itu berlarut-larut selama satu atau dua hari, pada kesempatan berikutnya kita mungkin akan membiarkannya selama dua atau tiga hari. Seiring waktu, emosi pun semakin mendalam.
Jika Anda sudah memutuskan untuk memaafkan, menunggu hanya akan menunda bagian yang menyenangkan. Begitu banyak penderitaan kita berasal dari hal-hal yang sebenarnya kita tahu pada akhirnya akan kita lakukan, tetapi sebelum melakukannya, kita justru memilih untuk larut dalam rasa mengasihani diri sendiri atau menunda-nunda.
Saya berharap memiliki solusi mudah untuk mengatasi keadaan emosional yang membuat penundaan semacam ini terasa masuk akal. Namun, satu-satunya saran penulis adalah sesekali mengingatkan diri sendiri betapa tidak masuk akalnya perilaku tersebut.
Menunggu sampai merasa siap merupakan kebiasaan buruk yang tidak seharusnya terus dipupuk. Seperti yang saya singgung sebelumnya, menunggu sampai merasa siap sebelum melakukan sesuatu adalah kebiasaan yang sangat sulit dihentikan. Penulis mengetahui hal ini dari pengalaman pribadi, karena berkali-kali penulis terlalu lama terjebak dalam tahap perencanaan tanpa benar-benar bertindak.
Kenyataannya, perasaan positif biasanya muncul setelah kita melakukan tindakan yang sehat, bukan sebaliknya.
Anak-anak Anda memperhatikan bagaimana Anda menghadapi konflik dan menyerap pelajaran seperti spons yang menyerap air. Jika Anda memiliki anak atau cucu di sekitar Anda, jangan meremehkan seberapa banyak hal yang mereka pelajari dari diri Anda. Bukan hanya perkataan dan tindakan Anda, melainkan juga sikap dan nilai-nilai yang Anda pegang.
Ketika penulis kesulitan memaafkan salah satu anak beberapa waktu lalu, anak itu bertanya kepada istri penulis, “Apakah Ayah masih marah kepada saya?”
Pertanyaan itu menghancurkan hati penulis dan menyadarkan bahwa penulis ingin meninggalkan warisan kehidupan yang baik bagi anak-anak, bukan warisan berupa kebiasaan menyimpan luka dan sakit hati.
Mengambil langkah pertama adalah satu-satunya bagian yang dapat Anda kendalikan. Ada begitu banyak hal dalam kehidupan yang tidak dapat kita kendalikan, dan perilaku orang lain tentu termasuk di antaranya. Solusinya adalah memimpin melalui teladan.
Setiap hari yang berlalu dalam kebuntuan hubungan adalah satu hari lagi yang tidak akan pernah bisa kita dapatkan kembali. Seiring bertambahnya usia, terutama sejak memiliki lima anak, penulis semakin menyadari betapa cepatnya waktu berlalu.
Berapa banyak akhir pekan santai yang masih bisa penulis nikmati di rumah bersama seluruh keluarga di bawah satu atap, ketika semua orang dalam keadaan sehat? Jumlahnya jauh lebih sedikit daripada yang diinginkan. Sungguh menyedihkan jika satu hari saja dari kesempatan itu terbuang sia-sia.
Salah satu hal terbaik dari keputusan untuk segera memaafkan adalah hadiah yang Anda berikan kepada diri sendiri di masa depan. Setiap tindakan memaafkan membentuk semacam kebiasaan yang membuat kita lebih mudah memilih untuk memaafkan lagi pada kesempatan berikutnya. Inilah yang penulis sebut sebagai siklus yang terus meningkat.
Ibarat terjatuh, tetapi justru bergerak naik menuju arah yang ingin kita tuju. Setiap pilihan positif memberikan sedikit dorongan motivasi untuk membuat pilihan positif berikutnya, lalu berikutnya lagi.
Dan, waktu terbaik untuk memulainya adalah sekarang.






Komentar (0)