Jakarta (ANTARA) - Direktorat Jenderal Pesantren Kementerian Agama (Kemenag) menginisiasi lima program prioritas yang akan menjadi landasan kerja ke depan, yang diluncurkan bertepatan dalam upacara peringatan Hari Santri 2026 di Jakarta, Kamis.
“Untuk menjawab tantangan zaman dan memastikan pesantren semakin kuat di dalam menyiapkan masa depan santri, Direktorat Jenderal Pesantren menginisiasi lima program prioritas,” ujar Menteri Agama (Menag), Nasaruddin Umar saat memimpin upacara di Kantor Kemenag di Jakarta.
Baca juga: Kemenag luncurkan lima pelatihan di MOOC Pintar sambut Hari Santri
Menag menjelaskan program pertama, yakni pembentukan Satuan Tugas (Satgas) Safe Santri. Satgas ini akan memastikan pendidikan dan pola asuh di lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia itu aman dan bebas dari kekerasan fisik, verbal, dan seksual.
Kedua, penguatan rekognisi ijazah, untuk perluasan akses pendidikan dan karier lulusan. Rekognisi ini merupakan bentuk pengakuan resmi negara terhadap mutu, kompetensi, dan kesetaraan lulusan serta pengajar dari satuan pendidikan pesantren.
Ketiga, pesantren adaptif dan mandiri dalam penguasaan teknologi serta kemandirian ekonomi. Santri dewasa ini dituntut untuk tidak hanya mahir dalam ilmu agama, tetapi penguasaan teknologi menjadi sebuah keniscayaan untuk menjawab tantangan zaman.
“Keempat, Santri 5.0, untuk santri yang ahli ilmu agama dan terampil. Serta yang kelima, dakwah digital, yakni dakwah pesantren hadir secara kreatif dan relevan di ruang digital,” ujar Menag.
Dalam momentum Hari Santri Nasional 2026, Nasaruddin menyampaikan ucapan selamat kepada seluruh santri dan mengajak mereka untuk terus meningkatkan prestasi serta berbangga terhadap kontribusi pesantren bagi Indonesia.
Ia mengimbau para orang tua agar tidak ragu memilih pesantren sebagai tempat pendidikan anak, dengan tetap memperhatikan kualitas lembaga, sistem pengasuhan, dan jaminan perlindungan bagi santri.
Baca juga: Resolusi digital pada Hari Santri di era digital
Baca juga: Pemkab Banyuwangi gelar Cek Kesehatan Gratis bagi santri, sambut HSN
Menurut Nasaruddin, pesantren memiliki potensi besar untuk melahirkan generasi yang tidak hanya kuat dalam pemahaman agama, tetapi juga unggul dalam ilmu pengetahuan, memiliki karakter yang baik, serta mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman.
Lahirnya Ditjen Pesantren di tengah dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat peran pesantren dalam sistem pendidikan nasional.
Namun, penguatan kelembagaan tersebut perlu diikuti peningkatan mutu pendidikan, pembenahan tata kelola, dan perlindungan santri agar pesantren benar-benar menjadi ruang belajar yang aman dan mampu melahirkan calon pemimpin masa depan.
“Selamat Hari Santri kepada anak-anakku semuanya. Mari kita berbahagia dan berbangga dengan prestasi yang dicapai oleh pondok pesantren,” ujar Nasaruddin.
“Untuk menjawab tantangan zaman dan memastikan pesantren semakin kuat di dalam menyiapkan masa depan santri, Direktorat Jenderal Pesantren menginisiasi lima program prioritas,” ujar Menteri Agama (Menag), Nasaruddin Umar saat memimpin upacara di Kantor Kemenag di Jakarta.
Baca juga: Kemenag luncurkan lima pelatihan di MOOC Pintar sambut Hari Santri
Menag menjelaskan program pertama, yakni pembentukan Satuan Tugas (Satgas) Safe Santri. Satgas ini akan memastikan pendidikan dan pola asuh di lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia itu aman dan bebas dari kekerasan fisik, verbal, dan seksual.
Kedua, penguatan rekognisi ijazah, untuk perluasan akses pendidikan dan karier lulusan. Rekognisi ini merupakan bentuk pengakuan resmi negara terhadap mutu, kompetensi, dan kesetaraan lulusan serta pengajar dari satuan pendidikan pesantren.
Ketiga, pesantren adaptif dan mandiri dalam penguasaan teknologi serta kemandirian ekonomi. Santri dewasa ini dituntut untuk tidak hanya mahir dalam ilmu agama, tetapi penguasaan teknologi menjadi sebuah keniscayaan untuk menjawab tantangan zaman.
“Keempat, Santri 5.0, untuk santri yang ahli ilmu agama dan terampil. Serta yang kelima, dakwah digital, yakni dakwah pesantren hadir secara kreatif dan relevan di ruang digital,” ujar Menag.
Dalam momentum Hari Santri Nasional 2026, Nasaruddin menyampaikan ucapan selamat kepada seluruh santri dan mengajak mereka untuk terus meningkatkan prestasi serta berbangga terhadap kontribusi pesantren bagi Indonesia.
Ia mengimbau para orang tua agar tidak ragu memilih pesantren sebagai tempat pendidikan anak, dengan tetap memperhatikan kualitas lembaga, sistem pengasuhan, dan jaminan perlindungan bagi santri.
Baca juga: Resolusi digital pada Hari Santri di era digital
Baca juga: Pemkab Banyuwangi gelar Cek Kesehatan Gratis bagi santri, sambut HSN
Menurut Nasaruddin, pesantren memiliki potensi besar untuk melahirkan generasi yang tidak hanya kuat dalam pemahaman agama, tetapi juga unggul dalam ilmu pengetahuan, memiliki karakter yang baik, serta mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman.
Lahirnya Ditjen Pesantren di tengah dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat peran pesantren dalam sistem pendidikan nasional.
Namun, penguatan kelembagaan tersebut perlu diikuti peningkatan mutu pendidikan, pembenahan tata kelola, dan perlindungan santri agar pesantren benar-benar menjadi ruang belajar yang aman dan mampu melahirkan calon pemimpin masa depan.
“Selamat Hari Santri kepada anak-anakku semuanya. Mari kita berbahagia dan berbangga dengan prestasi yang dicapai oleh pondok pesantren,” ujar Nasaruddin.






Komentar (0)