JAKARTA, DISWAY.ID – Keberlanjutan layanan pengembangan anak usia dini tidak cukup hanya mengandalkan program lembaga nonpemerintah. Keterlibatan pemerintah daerah, integrasi dengan layanan publik, serta dukungan anggaran menjadi kunci agar program pengasuhan dan stimulasi anak menjangkau lebih banyak keluarga.
Head of ECED Tanoto Foundation Michael Susanto menyatakan, pihaknya mengembangkan Rumah Anak Sigap sebagai model layanan pengasuhan dan stimulasi anak usia dini yang dapat diadopsi pemerintah daerah. Program tersebut dirancang agar tidak berhenti sebagai inisiatif yayasan, melainkan menjadi bagian dari layanan yang dikelola daerah.
“Dari awal, kami selalu membangun program ini bersama pemerintah daerah. Kami ingin memastikan bahwa setelah tiga sampai lima tahun, program ini bisa dialihkan kepemilikannya kepada pemerintah daerah,” ujar Michael di Jakarta, Rabu (21/10/2026).
BACA JUGA:Tanoto Foundation Gandeng Kemendikdasmen Genjot Literasi Nasional
Menurut dia, salah satu pembelajaran penting adalah perlunya menyesuaikan layanan dengan kebutuhan dan program prioritas setiap daerah. Sejumlah pemerintah daerah sempat mengintegrasikan layanan pengasuhan dan stimulasi anak dengan upaya percepatan penurunan stunting.
Pendekatan tersebut tidak hanya berfokus pada pemenuhan gizi, tetapi juga stimulasi perkembangan anak. Layanan dapat diintegrasikan dengan fasilitas yang sudah tersedia, seperti posyandu, pendidikan anak usia dini (PAUD), hingga pusat layanan di tingkat desa.
Namun, pembiayaan masih menjadi tantangan, terutama untuk layanan anak berusia nol hingga tiga tahun. Michael menilai kelompok usia tersebut masih membutuhkan penguatan kerangka kebijakan dan dukungan anggaran yang lebih konkret.
“Yang kami lakukan bersama pemerintah daerah adalah melihat bagaimana layanan untuk anak usia nol sampai tiga tahun bisa didanai dari program dan anggaran yang sudah tersedia,” jelasnya.
Pernyataan tersebut disampaikan Michael dalam Asia-Pacific Regional Learning Forum on Early Childhood Development (ECD). Forum regional ini mempertemukan pemangku kepentingan untuk memperkuat kolaborasi pengembangan anak usia dini di kawasan Asia-Pasifik.
Mengusung tema From Knowledge to Collective Action: Strengthening Climate-Responsive and Well-Financed ECD Systems in Asia-Pacific, forum membahas penguatan sistem layanan anak usia dini yang inklusif, tangguh terhadap perubahan iklim, dan didukung pembiayaan berkelanjutan.
Rumah Anak Sigap mulai dikembangkan pada 2021 sebagai model pengasuhan dan stimulasi anak usia dini yang mengacu pada Nurturing Care Framework. Program ini menjadi ruang percontohan untuk mengembangkan pendekatan yang sesuai dengan kebutuhan anak dan karakteristik wilayah, baik perkotaan maupun perdesaan.
BACA JUGA:Menkum Buka Peluang Revisi UU, Karhutla Bisa Diatur sebagai Terorisme Ekologi
Rumah Anak Sigap juga menjadi tempat menguji pendekatan stimulasi berdasarkan tahap perkembangan anak, termasuk kemampuan motorik, bahasa, serta sosial-emosional.
Menurut Michael, kesadaran pemerintah daerah mengenai pentingnya pengasuhan dan stimulasi anak usia dini kini semakin meningkat. Tantangannya adalah menerjemahkan kesadaran tersebut menjadi layanan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat.
Karena itu, Tanoto Foundation mendorong pemerintah daerah mengadopsi komponen program yang dinilai efektif, termasuk pelatihan kader dan peningkatan kapasitas fasilitator. Kolaborasi juga dilakukan dengan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah untuk memperkuat kualitas layanan taman penitipan anak (TPA), termasuk stimulasi bagi anak dan edukasi bagi orang tua.
- 1
- 2
- »






Komentar (0)